
Regan yang masih berdiri di ruangannya itu menghembuskan nafas kasar, di ambilnya handphone dari saku celananya lalu menghubungi sang ayah.
...* * *...
Klek!
Suara pintu tertutup dengan rapat.
"Kau sudah pulang?" tanya perempuan bergaun tidur indah berwarna hitam keluar dari kamar mandi.
"Mm.." Regan melepaskan rompi kemejanya lalu melonggarkan dasinya.
Sang perempuan lalu menyambutnya dengan membantu meletakkan tas jinjing ke atas meja kayu yang berukuran sekitar satu meter. Kemudian membantu sang suami melepaskan kancing kancing kemejanya.
"Lily ungu?" tanya Regan saat Belleza meletakkan tas jinjing nya tadi.
"Ah iya, anak itu kemari tadi." jawabnya lalu meletakkan pakaian bekas pakai Regan ke dalam keranjang baju kotor.
"Anak?" tanya Regan sambil berjalan ke arah kamar mandi menuju wastafel.
"Adik mu. Rehan." ucap Belleza.
Regan menghentikan aktivitas mencuci mukanya sejenak lalu kembali membasuh mukanya hingga bersih. Setelah selesai mengelapnya dengan handuk dia menghampiri istrinya.
"Apa dia menanyakan bagaimana kita menikah, dulu?" tanya Regan sambil memeluk pinggang istrinya dan membenamkan wajahnya di ceruk lehernya. Melakukan recharge setelah seharian lelah bekerja.
"Apa dia juga mendatangi mu ke kantor?" Belleza membalas pelukan suaminya.
"Jangan tanya. Jangan bahas anak itu, aku ingin istirahat." tukas Regan tak ingin aktivitasnya terganggu.
"Kau belum mandi dan juga belum makan." ucap Belleza.
"Hmm.. biarkan begini saja sebentar." Regan mendalami menghirup aroma tubuh istrinya yang bercampur aroma parfum khas malamnya itu. Dia ingin rileks.
__ADS_1
Ya bagaimana tidak, niat Rehan untuk menikah pun membuatnya kepikiran. Meski di satu sisi untungnya adalah kebaikan dengan mendapatkan sebuah perusahaan tapi di sisi lain Rehan sudah pasti lepas tangan untuk menjadi pemimpin perusahaan utama Danbi corporation. Jika sudah begitu pasti dirinya yang akan maju menjadi penerus ayahnya, lalu bagaimana dengan anak cabang yang dia pimpin sekarang? Susah payah dia menjadikannya sebagai perusahaan bersaing agar sesuai dengan standar perusahaan utamanya. Dia harus memilih pemimpin yang sesuai kandidat dari para dewan direktur perusahaannya itu. Itu membuatnya bekerja ekstra.
"Engh.. Regan." lenguhan keluar dari bibir tipis istrinya. Regan tersadar akan aktivitasnya, dia terlalu kuat menyesap leher putih istrinya hingga berbekas kemerahan.
"Apa sakit?" usapnya dengan lembut memakai ibu jari. Belleza menggeleng pelan.
"Aku memintanya wifey, maukah kau memberikannya?" tanyanya lirih kepada istrinya seraya membuka pita di ujung renda baju tidur sang istri.
"Sure." jawab Belleza mengusap lembut menyisir surai suaminya.
Detik selanjutnya adalah pagutan lembut dan dalam yang saling bersambut hingga rasa berdesir menjalar ke seluruh tubuh mereka. Aktivitas malam yang panjang mereka lakukan, selain untuk sebuah kewajiban cara ini juga ampuh untuk melepaskan stres untuk pasangan yang sudah menikah.
...* * *...
Pagi harinya..
"Haahh.. dilarang bertamu sebelum membuat janji? Lagak nya seperti seorang yang sangat penting. Katanya dulu 'temui aku kapan saja kalau kau mau'." ucap Rehan kesal sambil menggerutu sendirian.
Hari Minggu dia libur dari menjadi pengawal dan asisten Velicia. Kini dia kebingungan untuk melakukan aktivitas apa. Dulu saat di tugaskan untuk mencari tahu tentang kematian Subaki hari-harinya selalu sibuk bahkan weekend sekali pun.
"Drrtt." getar handphonenya membuatnya berhenti.
Velicia, pesan masuk tertulis di layar handphonenya. "Kau sibuk? Apa aku mengganggu mu? Apa kita bisa berbicara berdua saja?" tiga pertanyaan tertulis dalam satu pesan.
Ck, membicarakan apa lagi, bukankah aku berkata akan memikirkan dulu pembicaraan tempo hari itu, pikirnya.
"Dia ingin berbicara kan? Berarti lewat telepon pun bisa tidak harus bertemu." gumamnya lalu menyentuh tombol telepon pada layar handphonenya.
Di kediaman Arbre Effendi..
"Kau masih sibuk?" tanya Pak Teguh yang sudah berada di ambang pintu ruang kerja Arbre.
"Kau.. bagaimana bisa masuk?" Arbre mengusap kasar wajahnya.
__ADS_1
"Putri mu yang menyuruh ku langsung masuk kesini." Pak teguh melirik komputer yang menyala di meja kerja temannya itu.
Hari Minggu sekarang, tapi temannya masih berkutat dengan pekerjaan yang menguras otak dan tenaga itu. Terlebih lagi penampilan Arbre yang sedikit kusut dan kurang sedap dipandang itu sangat membuatnya prihatin.
"Hei.. berhentilah. Mandi dan istirahatlah. Wajah mu sangat tidak sedap dipandang." Pak Teguh seketika memencet tombol power pada layar monitor agar komputer itu mati.
"Ada perlu apa sepagi ini?" tanya Arbre sambil meregangkan otot tubuhnya.
"Aku ingin mengajak mu keluar. Agar kau tak banyak pikiran. Ku dengar dua hari kemarin kau tidak ke kantor."
"Dari mana kau tahu?"
"Aku bertanya kabar mu pada anak itu. Apa dia belum memberikan jawabannya juga?"
"Jika sudah, aku tidak mungkin berharap dan sibuk menyiapkan kemungkinan-kemungkinan setelah dia menolak." ujar Arbre.
"Ingin menemui Roy?"
"Untuk apa? Aku sedang tidak butuh informasi."
Pak Teguh tertawa kecil, "Dia kan sudah berkata akan memberikan solusinya. Jika Rehan tidak bersedia membantu mu siapa tahu anak itu bersedia menawarkan diri." Pak Teguh terkekeh lagi.
"Gila saja anakku di berikan kepadanya! Apa lagi perusahaan ku, mau jadi bagaimana masa depan perusahaan dan anak ku!" Arbre menolak dengan sangat keras saran temannya itu.
"Kalau begitu kita suruh dia untuk mencari orang lain lagi yang sesuai kriteria mu. Dia pasti punya banyak stok orang yang dapat membantu mu lepas dari Candra." saran Pak Teguh.
Velicia yang mendengar ucapan terakhir Pak Teguh itu seketika berdiri mematung di luar pintu ruang kerja ayahnya. Dijodohkan dengan orang lain lagi, dia merasa sedikit khawatir. Jika dengan Rehan mereka sudah saling kenal sebagai bodyguardnya, sedangkan jika dengan orang lain yang belum ia kenal sama sekali, dia tidak yakin bisa menerima.
πΎπΎ
...^^^----------------^^^...
hola readers π
__ADS_1
Terimakasih sudah mampir ke karya saya. Buat kalian yang sempat lihat tulisan saya tinggalkan jejak kalian dengan kasih like, kalau suka tulisan saya favoritkan juga boleh, dikasih hadiah dan vote saya lebih berterimakasih ππ. Isi kolom komentar dengan kritik dan sarannya ya untuk perkembangan dan kemajuan author. Terimakasih ππ.
enjoy the reading π€ π