
Orang-orang dari anak buah Candra dan Rain yang menyamar sekarang menampakkan diri dan mereka saling serang. Sisi yang melihat bahwa 'pesta' sudah dimulai segera beranjak untuk membantu rekan lainnya.
Ratih yang melihat Sisi berdiri tak diam saja. Dia lalu menghalangi Sisi dan menjegalnya. Dengan refleks Sisi menghindari kaki Ratih namun dengan cepat pula Ratih menggenggam tangan Sisi. Dengan gerakan lincah mereka bertarung dengan tangan kosong. "Bela dirinya lumayan juga" ucap Sisi dalam hati saat menghadapi Ratih. Dia mengelak serangan tinju Ratih yang diarahkan ke mukanya dengan mundur ke belakang.
Namun sialnya sepatu hak tingginya menginjak gaun panjangnya dan dia terjatuh. Dengan cepat Ratih mengambil kesempatan untuk menangkap tangan Sisi dan menguncinya kebelakang. Sisi tersungkur ke lantai dengan tangannya yang terkunci. Ratih lalu memberi isyarat kepada anak buah Candra yang terdekat untuk membawa Sisi sesuai perintah Bosnya.
"Hargghh. Lepaskan!" teriak Sisi.
Coky yang sedang sibuk berhadapan dengan anak buah Candra lalu menoleh ke arah Sisi yang sedang kesulitan. Dengan segera dia mengeluarkan pistol yang di tahannya dari tadi dan menembakkan ke arah orang-orang yang mengeroyoknya. Dia lalu berlari menghampiri Sisi dan menendang badan anak buah Candra menjauh dari Sisi. Dia lalu menembak badan orang itu hingga jatuh tersungkur. Ratih yang melihat kejadian itu sedikit gemetar dan berjalan mundur.
"Ternyata mata-mata itu selama ini kau!"ucap Coky dengan nada marah dan geram. Dia juga menembakkan peluru pada Ratih hingga jatuh tergeletak di lantai. Coky lalu menolong Sisi untuk bangun dari lantai. Ditengah nafas terakhirnya Ratih meraih pistol anak buah Candra dan menembakkan ke arah Coky.
Sisi yang melihatnya dengan segera menggulingkan badan Coky ke lantai dan peluru itu mengenai bahu Sisi. Sisi terdiam lalu jatuh keatas tubuh Coky. Ratih lalu tersenyum puas dan tergeletak tak bernyawa.
__ADS_1
"Sisi!"teriak Coky hingga mengundang perhatian Rain yang juga sedang berhadapan dengan anak buah Candra. Rain yang melihat Sisi terluka dan tak sadarkan diri dipelukan Coky murka dan mengeluarkan pistol lalu menembaki anak buah Candra dengan sembarang hingga berjatuhan. Dia berlari menuju ke arah Sisi dan Coky.
"Bawa dia ke rumah sakit sekarang!" teriaknya dengan cemas. Coky segera berfikir jernih dan berlari membawa tubuh Sisi. Rain melihat Candra yang terluka menghadapi anak buahnya segera akan kabur. Dengan sigap Rain mengejarnya lalu memberinya tembakan pada kaki Candra hingga membuatnya lumpuh dan jatuh ke lantai.
Rain lalu mendekat menghampiri Candra dan memberinya tembakan pada tangan Candra.
"Uugh." seru Candra yang menahan sakit. Kini dia hanya sendiri karena anak buahnya banyak yang sudah lumpuh.
"Kau sangat berbeda dengan ayah mu ya."kata Candra dengan nada meledek.
"Heh. Kau benar-benar berbeda jauh. Sangat keras seperti batu dan dingin seperti es."ujar Candra.
"Ah, terimakasih atas pujiannya Om Candra. Semua ini berkat Om."timpal Rain.
__ADS_1
"Tapi setelah perempuan itu datang kau sedikit berekspresi. Apa kau juga terpancing dengan umpan mu sendiri?" Candra masih bisa berkata angkuh meski dalam tekanan Rain. Perkataan Candra membuatnya semakin geram.
"Bagaimana aku harus menghukum mu ya Om? Kebiadaban mu pada istrimu dan juga kejahatan mu pada orangtuaku aku sudah tahu semua."kata Rain dengan nada menekan. Candra tersentak hatinya, dia terkejut mendengar ucapan Rain yang tahu tentang istrinya.
"Kau! Lebih baik bunuh aku saja sekarang."Candra tak lagi berdaya. Darah banyak keluar dari luka tembaknya.
Rain yang melihat wajah pamannya yang sudah pucat segera menurunkan kakinya dan segera menghubungi anak buahnya untuk membawa Candra pergi.
Dia tak ingin melihat pamannya mati begitu saja. Candra harus merasakan apa yang dialaminya selama ini. Apa yang dirasakannya setelah kepergian orangtuanya. Dia sangat mendendam kepada pamannya itu.
Arman dan rekan kerjanya juga ikut membantu Rain membawa anak buah
Candra ke kantor polisi.
__ADS_1
"Haah. Akhirnya...". Rain menghembuskan nafas panjang sambil bersandar pada dinding tembok.
πΎπΎ