
Belleza dan Rehan juga ikut meyakinkan Arbre, lalu kesepakatan terjadi dan persiapan selesai. Tinggal menunggu hari pernikahan dilangsungkan saja.
"Secepat ini ya, tidak terasa." ujar Velicia.
Kini mereka ada di sebuah kafe yang bertema outdoor. Setelah seharian lelah berkeliling untuk mengambil pesanan cincin pernikahan dan fitting baju pengantin.
Malam ini mereka menikmati cerahnya langit malam bertabur bintang. Rencana Rehan untuk lebih mendekatkan diri dengan Velicia sebelum menikah agar sedikit saling mengenal dan tidak merasa canggung setelah menikah ternyata berguna sekarang. Mereka kini sudah merasa lebih dekat, terasa seperti sudah menjalin hubungan sangat lama padahal baru beberapa bulan.
Meski sering bertemu sebelumnya saat masih bekerja untuk Velicia tapi saat itu mereka murni hanya sebagai partner kerja. Tidak tahu tentang kesukaan dan hobi masing-masing, kini mereka mendekatkan diri untuk hal itu.
"Kau suka dengan cincinnya?" tanya Rehan.
"Mm.. apapun yang kalian berikan akan aku terima, aku tidak ingin membebani mu." jawab Velicia lalu menatap ke arah Rehan. Rehan tersenyum.
Lebih sering menghabiskan waktu bersama Rehan dalam ikatan berbeda membuat Velicia sedikit demi sedikit terpesona dengannya. Seperti sekarang, senyum Rehan seolah baru kali ini terlihat manis padahal dulu saat menjadi asisten pribadi dan bodyguardnya Rehan juga kadang tersenyum kepadanya.
Waktu semakin malam dan pengunjung kafe semakin berkurang, lampu juga sudah berganti menjadi temeram hingga mereka pun memutuskan untuk pulang sebelum kafe benar-benar tutup.
Diparkiran, Velicia yang telah memegang handle pintu mobil depan di tahan tangannya oleh tangan kiri Rehan, sedikit terkejut Velicia membalikkan badannya. Hingga di hadapannya kini adalah tubuh jangkung Rehan yang tangan kanannya bertumpu pada body mobil bagian atas.
"Ingat. Setelah hari ini kau tidak boleh kemana-mana jika tidak ada yang penting. Aku tidak ingin terjadi sesuatu pada mu sebelum hari pernikahan." kata Rehan seolah menasehati.
"Em.. aku mengerti." jawab Velicia tanpa menengadahkan kepalanya.
"Kalau pun itu urgent jika masih bisa suruh orang saja atau hubungi aku, aku akan menemanimu." imbuh Rehan lagi. Kini suaranya terdengar lebih jelas di depan wajah Velicia.
__ADS_1
"Iya aku tahu dan sudah paham, kalau calon pengantin dilarang keluyuran sampai hari H." jawabnya sambil memberanikan diri menatap Rehan.
Tatapan mereka bertemu dan jarak wajah mereka hanya sejengkal. Mereka terdiam sejenak, terbawa suasana, saling menatap seperti sedang menyelami sesuatu dari balik netra masing-masing.
"Ada foam di bibir mu." ucap Rehan seperti memberi tahu.
"Oh dima.." kata Velicia terputus oleh bibir Rehan.
Tanpa memberinya kesempatan untuk mempersiapkan diri, Rehan menyambar bibirnya. Dengan lembut Rehan menyeessap dan mengulluum bibir atasnya.
Rasa manis terasa saat mereka melakukan aktivitas itu, entah rasa dari bibir mereka atau memang dari foam yang Rehan maksud.
Ciuman Rehan semakin menuntut saat lidahnya mulai aktif ikut campur. Siapa yang tidak tahu tentang French Kiss. Velicia pun ikut mengimbangi membalas apa yang dilakukan Rehan.
Alasan saja untuknya jika ada foam di bibir Velicia padahal aslinya dia ingin meminta ciuman perpisahan. Karena sebelum pernikahan mereka dilarang bertemu dan satu minggu itu terasa lama untuknya.
Ya karena sering menghabiskan waktu bersama untuk pendekatan dan mengobrol tentang kepribadian masing-masing membuatnya sedikit merasa lebih dekat dengan Velicia. Juga sedikit lebih tahu tentang gadis itu.
Ciuman mereka terasa intens dan lama. Tak peduli lagi tentang sekitar, namun untungnya kafe sudah sepi. Tapi apa kabar dengan CCTV yang terpasang di parkiran sana, mungkin saat ini itulah yang menjadi saksi ciuman mereka.
Nafas mereka tersengal setelah acara privat itu selesai, mereka saling berburu meraup oksigen. Tangan kiri Rehan mengusap lembut bibir Velicia yang basah akibat ulahnya. Setelahnya keduanya saling tertawa kecil. Ya tentu saja antara malu karena melakukannya di tempat umum dan salah satu diantaranya tak mengakui jika ingin.
"Ayo pulang." ujar Rehan dengan tangan kirinya kini membukakan pintu mobil namun tatapannya tak lepas dari gadis di depannya. Velicia tersenyum mengangguk.
...* * *...
__ADS_1
Satu minggu Velicia habiskan untuk merawat diri. Kadang Belleza datang kerumahnya untuk menemaninya disaat pijat spa, luluran badan dan menipedi acara perempuan. Orang-orang yang melakukan itu tentu saja atas panggilan Belleza.
Belleza tahu semua tentang kebutuhan memanjakan perempuan tanpa harus keluar rumah.
Sedangkan Rehan, satu minggunya dia habiskan untuk belajar. Belajar mempelajari tentang perusahaan Arbre yang dimana nantinya akan menjadi miliknya. Jadi sebelum di akuisisi olehnya, dia harus mempelajari perusahaan itu.
Meski keduanya sibuk tapi mereka sempatkan untuk berbagi kabar.
Akhirnya hari yang dinanti pun tiba. Acaranya terbilang meriah. Bagaimana tidak, papan ucapan selamat dan happy wedding terlihat seolah sedang mengantre di sepanjang sisi luar dinding gedung.
Berbagai kalangan pengusaha, kolega, investor, kenalan dan juga kerabat dari pihak Arbre, Regan dan juga Agustino yang tinggal disana turut hadir.
Tak luput, keluarga Aditama juga menghadiri pernikahan tersebut termasuk Candra.
"Rehan Armana Agustino? Rehan?" dia sejenak berpikir, mengingat sesuatu.
πΎπΎ
...^^^----------------^^^...
hola readers π
Terimakasih sudah mampir ke karya saya. Buat kalian yang sempat lihat tulisan saya tinggalkan jejak kalian dengan kasih like, kalau suka tulisan saya favoritkan juga boleh, dikasih hadiah dan vote saya lebih berterimakasih ππ. Isi kolom komentar dengan kritik dan sarannya ya untuk perkembangan dan kemajuan author. Terimakasih ππ.
enjoy the reading π€ π
__ADS_1