GADIS UMPAN MILIK BOS

GADIS UMPAN MILIK BOS
BAB 99


__ADS_3

"Mudah-mudahan lancar sampai bayinya lahir, ibu dan anaknya juga selamat dan sehat." doa yang di ucapkan Fariska kepada calon ibu masih sambil mengelus perut Velicia. Rain juga, bahkan kini malah duduk menempel pada Velicia sambil menyandarkan kepalanya, terlihat seperti dia malah anak dari Velicia. Fariska yang melihat tingkah Rain malah geleng-geleng dan Velicia malah terkekeh.


"Arman..." Velicia memegang tangan Arman dengan kuat, bulir keringat dingin membanjiri tubuhnya.


Malam ini ia merasakan mulas yang sering dan bahkan semakin lama semakin hebat rasanya. Karena khawatir Arman membawa sang istri ke rumah sakit, apalagi bulan ini adalah bulan perkiraan kelahiran calon bayinya. Setelah sampai di rumah sakit ternyata Velicia sudah mengalami pembukaan empat. Untung saja kandungan dia kuat, jadi air ketuban tidak pecah duluan hingga tak terjadi lahir sebelum sampai rumah sakit.


Namun kini dia kesakitan menahan mulas yang berlebih karena sesekali sang jabang bayi yang berada di dalam perutnya mengajaknya untuk mengejan. Terasa seperti ingin cepat cepat melihat dunia. Arman, sang suami selalu setia menemani sembari memberinya usapan usapan lembut kepada sang istri di punggung tangan dan puncak kepala Velicia untuk memberinya kekuatan.


Arbre juga datang setelah di telepon oleh pengawal yang Arman sediakan setelah kejadian malam Velicia bertemu Candra. Namun Arbre lebih memilih untuk menunggu di luar karena hanya boleh dua orang yang berada di dalam. Arbre juga sebenarnya takut untuk masuk ke dalam menyaksikan putrinya berjuang melahirkan anaknya. Sudah cukup ia dulu menemani mendiang sang istri saat melahirkan Velicia, pengorbanannya masih terngiang sampai sekarang. Istrinya yang lemah langsung pendarahan dan segera mendapat penanganan lebih oleh dokter. Yang ia lakukan di luar ruang persalinan saat ini adalah berdoa, mendoakan putrinya agar kuat serta anak dan calon ibu itu selamat dan sehat setelah lahiran.


Tak lupa Arman juga menyuruh asisten rumah tangga yang ia pekerjaan setelah mengetahui Velicia hamil untuk membawa perlengkapan bayi lahir bersama sopir pribadinya.


Tak sampai satu jam bayi yang di nantikan kelahirannya pun meluncur ke alam dunia. Tangis sang bayi pecah memenuhi ruang persalinan membuat Velicia menitikkan air mata, terharu dan juga bahagia. Begitupun Arman dan juga Arbre serta asisten rumah tangga yang juga ikut setia menunggu.


"Namanya siapa?" tanya Velicia saat sang bayi tengah di letakkan di atas dadanya.


"Emm.. siapa ya?" Arman juga kebingungan karena belum menyiapkan nama yang tepat untuk sang putri.


"Kok malah kembali bertanya. Aku ingin nama ku dan nama mu ada di dalam namanya." ujar Velicia menatap ke arah Arman lalu ke arah sang jabang bayi secara bergantian.

__ADS_1


"Mm.. baiklah mengambil kesimpulan dari kedua sisi nama kita, aku kasih nama Sisi. Sisi Velicia Armana. Bagaimana?" ucap Arman.


Velicia terkekeh sambil menitikkan air mata, "kamu memberi nama anak kita seperti sedang mengambil keputusan rapat saja. Kenapa malah jadi Sisi?"


"Aku kan hanya rasional, kamu ingin namanya dari kedua nama kita di masukkan kan? Dia ini kan putri kita. Jadi dia adalah Sisi antara Velicia dan juga Armana." kata Arman. Meski terdengar aneh namun Velicia menyetujuinya.


Apalah arti sebuah nama, yang terpenting anak itu lahir dengan selamat dan kondisi badannya sehat. Dia juga berharap putrinya tumbuh berkembang dengan baik dan dimasa depan hidupnya penuh kebahagiaan.


...* * *...


"Nah dede bayinya lagi bobok, Rain tidak boleh mengganggu ya. Cukup di lihat saja, oke?" kata Fariska yang sedang menasehati sang putra. Rain mengangguk mengiyakan tanpa melihat ke arah sang ibu. Pandangannya fokus pada bayi mungil yang sedang tertidur lelap di ranjang kecil di depannya.


Kulit putih cerah khas bule yang di turunkan sang ayah, rambut hitam legam yang diturunkan dari sang ibu membuat perpaduan kontras yang menimbulkan kecantikan tersendiri untuk sang bayi. Bibirnya yang mungil dan berwarna kemerahan terkadang bergerak-gerak seperti saat sedang menyusu.


Namanya juga anak kecil, di suruh hanya melihat dan jangan menggangu tetap saja tangan kecil itu tak mau diam. Di ulurkannya tangan Rain untuk meraba tangan mungil sang bayi yang selalu tergenggam itu. Dimasukkannya satu jarinya agar di genggam oleh sang bayi, dan benar saja Sisi menggenggam jari Rain.


"Hihihi.. lucu." Rain terkekeh sendiri dengan suara yang hampir tak terdengar. Ia juga takut jika sang ibu mendengarnya ia akan di tegur atau di marahi karena tidak mendengarkan perkataan sang ibu.


Para ibu tidak melihatnya karena sedang sibuk melihat-lihat baju sang bayi yang lucu-lucu. Fariska juga merasa antusias hanya untuk melihat baju bayi yang sekarang sudah berumur tiga bulan itu. Terlihat sedang lucu-lucunya karena ia pun tak tahu bagaimana rasanya memiliki seorang anak perempuan. Tapi ia bisa merasakan dari sering mengunjungi putri teman baiknya ini, bahkan ia sesekali membelikan baju bayi perempuan yang menurutnya cocok dan akan terlihat cantik jika di pakai oleh Sisi.

__ADS_1


Parade ayah yang sedang berjalan memasuki ruangan bayi itu melihat adegan Rain yang sedang mengganggu sang bayi, tanpa Rain sadari di belakangnya sudah ada ayahnya dan ayah sang bayi yang sedang memperhatikannya.


Dengan gerakan menempelkan jari telunjuk di depan bibirnya, Andra memberi kode untuk jangan berisik kepada Arman, diam-diam Andra mengambil momen itu kamera handphonenya. Namun suara jepret kamera membuat Rain tersadar dan menoleh ke arah belakang. Dia sekarang sangat gugup, takut akan dimarahi oleh ayahnya dan ayah sang bayi.


"Rain sedang apa?" tanya sang ayah.


"Mmm.. Rain tidak menggangu, Rain hanya ingin memegang dedek bayi." ucap Rain dengan gugupnya sambil melihat ke arah Andra dan Armana secara bergantian takut ayahnya dan ayah Sisi akan memarahinya karena telah mengganggu sang dedek bayi.


Arman dan Andra saling menatap sambil terkekeh, Andra lalu menggendong sang putra yang sudah melepaskan jarinya dari si bayi Sisi. Ia membawa Rain jauh dari sang bayi agar tak mengganggunya lagi.


"Rain suka dedek bayi Sisi?" tanya sang ayah lalu mendudukkan putranya di atas sebuah kasur besar yang tersedia di sana.


🐾🐾


Β hola readers πŸ‘‹


Terimakasih sudah mampir ke karya saya. Buat kalian yang sempat lihat tulisan saya tinggalkan jejak kalian dengan kasih like, kalau suka tulisan saya favoritkan juga boleh, dikasih hadiah dan vote saya lebih berterimakasih πŸ˜πŸ’ž. Isi kolom komentar dengan kritik dan sarannya ya untuk perkembangan dan kemajuan author. Terimakasih πŸ˜˜πŸ’ž.


enjoy the reading πŸ€— πŸ’

__ADS_1


__ADS_2