
"Baiklah, terima kasih untuk tehnya. Maaf jika dari tadi saya banyak menyita waktu Anda. Selamat beristirahat." Kata Willy yang sudah mengangkat tubuhnya untuk beranjak. Ia melihat jam yang melingkar di pergelangan tangannya yang sudah menunjukkan pukul tujuh malam lebih sembilan menit.
"Jika anda butuh pekerjaan yang layak, anda bisa menemui saya." Ucap Willy sambil berjalan ke arah pintu.
"Aku tidak kekurangan uang, kau tahu itu kan Will. Aku hanya sedang menikmati hidup ku Will." Ucap Angel dengan mengulas senyum ramahnya.
Ah, Willy sampai bodoh melupakan hal itu. Mantan majikannya ini bukannya kekurangan uang meskipun mengontrak di rumah kecil seperti ini. Inilah cara dia menikmati hidup sambil melupakan rasa sakit dan traumanya.
Setelah keluar dari ruangan tengah kontrakan itu, ia memperhatikan sekitarnya. Rumah kontrakan Angel berada di nomor tiga dari enam pintu. Dua pintu di ujung ramai dengan pemuda yang sedang berkumpul menyanyikan lagu sambil bermain gitar. Para pemuda itu juga sempat melempar senyum kepadanya.
Lalu di samping, kontrakan nomor empat dan lima ada anak kecil yang berlarian sambil membawa boneka di tangannya saling mengejar. Dan di ujung nomor enam, tampak wanita tua sedang memperhatikan anak kecil itu sambil duduk dan tertawa memperingati agar anak-anak itu hati-hati mainnya supaya tidak jatuh. Willy pun ikut tersenyum sendiri melihatnya.
Ternyata suasananya ramai seperti ini, pantas saja Angel sangat betah. Dulu di mansion Candra, tempat itu sangat luas dan ada banyak pelayan dan juga bodyguard namun suasana rumah itu sanga sepi dan senyap hingga rasanya suara detikan jam dinding di malam hari pun terdengar nyaring.
"Jaga diri anda baik-baik. Semoga anda banyak berbahagia." Kata Willy setelah membalikan badannya menatap Angel yang berdiri di belakangnya. Setelah membungkukkan badannya Willy lalu pergi dari kontrakan Angel.
...* * *...
"Sudah dibeli semua?" Tanya Arman pada Rain yang tengah memasukkan barang hasil belanjaannya hari ini bersama Sisi dan keluarganya ke dalam bagasi mobil.
Barang hasil belanjaan mereka hampir tiga bagasi mobil penuh. Iya karena barang-barang itu adalah barang-barang untuk persiapan kelahiran anak pertama Sisi dan Rain yang juga merupakan cucu pertama Armana dan Velicia juga cicit pertama untuk keluarga Aditama.
__ADS_1
"Sudah ayah. Kurangnya tinggal nanti kita siapkan menjelang kelahiran jika masih ada yang dibutuhkan." Jawab Rain.
"Memang apa yang diperlukan? Jika bisa dibeli dari sekarang kenapa tidak langsung dibeli saja." Ujar Armana agar nanti tidak repot dalam persiapan persalinan Sisi.
Rain tersenyum sebelum menjawabnya, "kata ibu, pembalut persalinan. Biasanya oleh rumah sakit akan disediakan. Namun jika kekurangan kita bisa membelinya nanti."
Arman yang mendengar jawaban Rain pun hanya bisa ber-oh. Ia teringat dulu saking gugupnya menemani Velicia untuk bersalin sampai sekarang lupa apakah ia dulu membeli pembalut untuk bersalin atau tidak.
"Ya sudah. Jika semua sudah masuk, ayo kita kembali lagi ke dalam. Mereka pasti menunggu kita untuk makan siang." Kata Arman yang kemudian juga mengunci mobilnya.
Tiga mobil hari ini yang dipakai oleh mereka untuk berbelanja adalah mobil milik Arman, milik Rain dan milik keluarga Aditama yang dibawa oleh Coky. Mereka janjian untuk berbelanja perlengkapan ibu dan bayi untuk menyambut hari persalinan dan kelahiran Sisi dan bayi yang ada di dalam perutnya.
"Om Rendra belum datang?" Tanya Rain yang sudah duduk bersama yang lainnya.
Waktu berlalu hingga kini tibalah saat dimana hari yang dinantikan semuanya. Semua orang pun merasa was-was dan khawatir. Pasalnya hari perkiraan lahir yang ditentukan oleh dokter untuk Sisi sudah lebih dari jadwalnya.
Setelah melakukan pemeriksaan, pihak keluarga dan rumah sakit memutuskan untuk melakukan operasi caesar. Takutnya jika terlalu lama di dalam kandungan sang jabang bayi malah kenapa-kenapa.
"Berdoa, banyak-banyak berdoa." Ucap Nyonya Ratna yang juga ikut menunggu di depan ruang operasi bersama yang lain meski harus duduk lama di kursi roda.
Ia juga ikut merasa tidak tenang, apalagi melihat Rain dan Armana yang terus mondar mandir di depan pintu ruang operasi dengan sesekali melirik ke arah pintu tersebut. Dalam hati mereka, berharap jika ini akan berjalan cepat dan segera selesai dengan hasil bayi dan ibunya selamat.
__ADS_1
Di dalam sana hanya Velicia yang menemani Sisi untuk berjuang bersama para dokter yang ahli dalam bidangnya itu. Rain sendiri sudah ditawari untuk menemani sang istri namun ia menolak dengan alasan traumanya, jika melihat banyak darah ia takut akan bereaksi.
Keluarga Arman pun juga sudah mengetahui tentang penyakit Rain dan memakluminya. Baik Rain maupun mereka juga takut jika nanti Rain melihat banyak darah akan memicu penyakitnya itu untuk kambuh.
Lalu di dalam sana Sisi pun juga berjuang untuk bertahan. Meski sudah diberi suntikan anestesi lokal dirinya juga masih bisa sedikitnya merasakan ngilu. Dan setelah operasinya selesai dengan keluarnya sang jabang bayi yang ia kandung selama ini, ia merasakan kelegaan tersendiri.
Setelah senyum mengembannya dengan dokter yang masih sibuk dengan perutnya. Tiba-tiba matanya mulai sayu dan perlahan pandangannya kabur hingga menjadi gelap seutuhnya.
Dalam kegelapan yang hening itu tiba-tiba ia mendengar suara-suara. Ia menajamkan pendengarannya dengan mata yang masih tertutup. Seiring dengan jelasnya pendengarannya, matanya perlahan mulai mengerjap silau. Seolah ada bias cahaya terang yang berada tepat di atas kepalanya.
Bukankah ia masih tertidur di dalam ruangan operasi? Lalu dari mana datangnya cahaya yang menyilaukan ini. Ia perlahan membuka matanya kemudian memperjelas keadaan sekitarnya.
Cahaya berwarna kuning keemasan bercampur dengan warna putih itu memenuhi sekelilingnya yang sedang berdiri? Sisi bertanya pada dirinya sendiri.
Dia sedang berdiri? Dan di mana ini?
Perlahan ia melihat sebuah cahaya lain yang membentuk sebuah siluet. Cahaya itu semakin mendekat berjalan ke arahnya. Sekitar jarak dua meter, cahaya itu mempertegas wujudnya. Wajah rupawan seorang laki-laki dengan pakaian seperti zaman Yunani kuno berdiri sambil tersenyum ke arahnya.
"Siapa dia?" Sisi bertanya dalam hati. Dan sepertinya ia juga tidak asing dengan rupa laki-laki itu.
πΎπΎ
__ADS_1
Hola readers π
Terimakasih sudah mampir ke karya saya. Buat kalian yang sempat lihat tulisan saya tinggalkan jejak kalian dengan kasih like, kalau suka tulisan saya favoritkan juga boleh, dikasih hadiah dan vote saya lebih berterimakasih ππ. Isi kolom komentar dengan kritik dan sarannya ya untuk perkembangan dan kemajuan author.