GADIS UMPAN MILIK BOS

GADIS UMPAN MILIK BOS
BAB 57


__ADS_3

Setelah sampai di RIME BAR, dia menuju bartender dan menunjukkan kartu berwarna hitam lambang buku terbuka dia lalu menyebutkan kata kuncinya, "Roy" kata Rehan.


Sang bartender mengerti lalu mengantarnya ke ruangan Roy. Setelah Rehan masuk bartender pun lalu pergi.


"Halo Rehan. Mau minum?" kata Roy yang duduk di sudut meja kerjanya menyapa Rehan dengan segelas bir.


"Hentikan basa-basi mu." kata Rehan lalu duduk di sofa tamu Roy yang disana juga ada Pak Teguh. Ruangan Roy kali ini sedikit redup Rehan merasa waspada.


Di sebelah kursi meja kerja Roy terlihat seseorang sedang berdiri sambil memegang sebuah kertas. Pandangan Rehan dengan seksama meneliti sosok tersebut. Pak Arbre, katanya dalam hati.


"Aku langsung saja pada intinya." kata Pak Teguh mulai berbicara dan membuat fokus Rehan teralih padanya.


Roy lalu mengambil kertas yang di pegang oleh Arbre, "Rehan Permana alias Rehan Armana Agustino. Putra kedua atau bungsu dari Armana Agustino pemilik Danbi corporation. Dia menjadi agen rahasia karena keinginan sendiri dan alasan untuknya agar tidak dijadikan pewaris Danbi corporation. Bekerja dibawah naungan Pak Teguh namun tak lepas dari pengawasan ayahnya. Bisa dibilang ayah mu masih ikut campur dalam kehidupan mu." kata Roy sambil melempar kertas yang dia pegang tadi ke meja.


"Kau membuang nama belakang mu agar tidak diketahui oleh orang lain. Tapi di duniaku tidak ada yang tidak bisa aku ketahui." kata Roy beranjak lalu meminum bir yang dia genggam.


"Apa ini Pak Teguh? Kalian menyelidiki saya? Apa maksudnya?" Rehan terperanjat dan bertanya dengan raut muka tak percaya.


Dia memang sudah lama menjadi agen rahasia dan menyembunyikan identitasnya dengan mengganti nama belakang agar tak ada yang tahu jika dia putra dari Armana Agustino. Kecuali Pak Teguh, karena memang dia yang membantu mengubah identitasnya.


Namun dia terkejut sekarang setelah identitasnya dibongkar dihadapan orang lain.


"Tenanglah. Aku tidak bermaksud buruk. Aku tahu kamu bukan orang biasa." kata Pak Teguh memegang pundak Rehan.

__ADS_1


"Aku juga sangat kenal dengan kakak mu. Benar kata Roy kau masih dalam pengawasan ayah mu. Doni dan Budi adalah anak buah yang dikirim oleh ayah mu." jelas Pak Teguh. Rehan mulai sedikit tenang.


"Lalu aku ada permintaan dari seorang teman. Arbre katakanlah." kata Pak Teguh melihat ke arah Arbre.


Rehan lalu menatap ke arah Arbre yang sedang berjalan mendekat ke meja tamu dan duduk di kursi sofa depannya.


"Menikahlah dengan Velic. Aku akan berikan perusahaan ku untuk mu." kata Arbre tiba-tiba.


"Deg", jantung Rehan bereaksi seketika setelah mendengar permintaan Arbre.


"Apa maksudnya ini?" tanya Rehan tak mengerti.


"Aku butuh bantuan mu Rehan." kata Arbre lalu melambaikan tangan meminta berkas kepada Roy.


"Kau jadi agen rahasia karena tak mau terlibat dalam perang antar perusahaan kan. Tapi kali ini sepertinya kau harus jadi pahlawan dalam peperangan jenis itu." kata Roy.


Rehan lalu membuka amplop itu dan mengeluarkan isinya. Beberapa bendel berkas di sana dengan jenis berbeda.


Mulai dari kegiatan harian Velicia Arbre dan Arbre Effendi, catatan aktivitas perusahaan yang di dalamnya juga ada list jalinan kerjasama antar perusahaan dan masih banyak lagi tentang laporan mengenai kehidupan Arbre dan perusahaannya.


"Itu ancaman dari Candra yang siang tadi dia kirim ke perusahaan." kata Arbre.


"Yang berarti di dalam perusahaan sudah ada mata-mata." jelas Arbre.

__ADS_1


"Jika dia juga tahu aku menyelidiki kasus kecelakaan Subaki berarti dia juga menempatkan mata-mata untuk mengawasi Velic." kata Arbre lagi.


"Keluarga ku dan perusahaan ku sedang terancam. Rehan, aku mohon bantuan mu. Kau anak dari pemilik Danbi corporation yang kuat, bantulah aku." kata Arbre mohon pada Rehan.


Rehan masih saja terdiam mendengarkan tanpa ada reaksi.


"Jika aku memohon bantuan kepada perusahaan Danbi secara langsung tanpa ada ikatan kerjasama itu tidak mungkin akan langsung disetujui. Lalu jika aku membiarkan ini begitu saja, Candra juga tidak akan berhenti sampai di sini dan melepaskan kami begitu saja." jelas Arbre lagi.


Arbre lalu menghela nafas panjang dan menghembuskannya perlahan.


"Jika aku memutus hubungan kerjasama dengannya, resikonya saham yang aku tanam akan hilang lalu aku harus membayar denda perjanjian yang jumlahnya hampir 35% biaya operasional perusahaan. Belum lagi reputasi perusahaan yang akan di cap jelek karena memutuskan kerjasama dengan perusahaan sebesar perusahaan Aditama." jelas Arbre lagi.


Mereka lalu terdiam setelah mendengar keluhan Arbre.


🐾🐾


...^^^----------------^^^...


hola readers πŸ‘‹


Terimakasih sudah mampir ke karya saya. Buat kalian yang sempat lihat tulisan saya tinggalkan jejak kalian dengan kasih like, kalau suka tulisan saya favoritkan juga boleh, dikasih hadiah dan vote saya lebih berterimakasih πŸ˜πŸ’ž. Isi kolom komentar dengan kritik dan sarannya ya untuk perkembangan dan kemajuan author. Terimakasih πŸ˜˜πŸ’ž.


enjoy the reading πŸ€— πŸ’

__ADS_1


__ADS_2