
Velicia yang mendengar ucapan terakhir Pak Teguh itu seketika berdiri mematung di luar pintu ruang kerja ayahnya. Dijodohkan dengan orang lain lagi, dia merasa sedikit khawatir. Jika dengan Rehan mereka sudah saling kenal sebagai bodyguardnya, sedangkan jika dengan orang lain yang belum ia kenal sama sekali, dia tidak yakin bisa menerima.
Tok.. tok..
"Ayah, Pak Teguh, saya membawakan minum dan camilan." ujar Velicia dengan seolah tak mendengar pembicaraan mereka barusan. Dia meletakkan nampan beserta isinya di atas meja tamu ruang kerja ayahnya.
"Wah terimakasih tuan putri, kau rajin sekali." ucap Pak Teguh lalu menyambar minuman yang di bawakan Velicia.
"Dimana dua maid yang bekerja hari ini? Kenapa kau yang mengantarnya?" tanya Arbre lalu ikut bergabung dengan temannya itu.
"Yang satu sedang keluar untuk belanja sedang yang satu lagi sedang sibuk menjemur pakaian di atas." jawab Velicia.
"Silahkan menikmati camilannya Pak Teguh. Ayah, Velic undur diri." ucap Velicia.
"Iya terima kasih Velicia." ucap Pak Teguh. Arbre pun mengangguk.
Setelah meninggalkan ruang kerja ayahnya Velicia lalu menuju kamarnya dan di ambilnya handphone miliknya lalu membuka aplikasi pesan dan tujuannya adalah Rehan. Tak lama kemudian...
"Halo Rehan. Kenapa malah menelpon? Tidak membalas pesan ku saja."
"Aku kira Nona ingin bicara kepada ku."
"Iya, maksud ku ada yang ingin aku bicarakan. Jika kau luang aku ingin kita bertemu di luar." ujar Velicia.
__ADS_1
"Oh ingin bertemu. Baiklah saya akan menjemput.."
Belum selesai bicara Velicia sudah memotong duluan. "Tidak usah. Biar aku yang menghampiri mu." katanya.
"Jangan. Saya takut jika situasi sekitar anda belum aman." ujar Rehan.
Velicia tersadar lalu mengiyakan. Dia lalu bersiap dan berpamitan kepada ayahnya dengan alasan akan pergi berbelanja di temani oleh Rehan. Dan memang benar setelah Rehan menjemputnya mereka lalu pergi ke sebuah pusat perbelanjaan. Sekarang mereka sedang berada di sebuah food court.
"Mm.. Rehan, aku tahu kau masih memikirkannya. Maaf jika aku terkesan mendesak tapi aku juga butuh kepastian dari keputusan mu." terdengar Velicia membuka pembicaraannya. Rehan sudah tahu dari sebelumnya jika Velicia akan membicarakan tentang ini.
"Kau tahu, tadi Pak Teguh di ruang kerja ayah, mereka sedang membahas tentang putusan mu. Jika kau menolak Pak Teguh akan meminta tolong kepada orang bernama Roy untuk mencarikan orang lain yang mau menolong ayah, atau kalau tidak dia sendiri yang akan meminta bantuan kepada Roy." ucap Velicia.
Rehan terkejut mendengar ucapan Velicia. Apa sampai buntu seperti itu hingga Velicia di berikan kepada Roy, dimana pikiran nya orang tua itu, batin Rehan.
"Tapi jika itu kau, aku kan sudah mengenal mu sebelumnya. Aku tidak tahu harus bagaimana lagi, maafkan jika aku terkesan memaksa." imbuh Velicia.
Rehan terdiam sejenak, "Iya saya akan memberikan putusan saya secepatnya. Saya sudah membicarakan ini dengan keluarga saya." ucap Rehan sambil dengan berani memegang tangan Velicia yang sedari tadi di remat oleh dirinya sendiri, agar Velicia sedikit tenang.
Velicia yang tersentuh dengan perlakuan Rehan tak bisa membendung air matanya, dia menangis tanpa suara. Bagaimana tidak, rasanya hidupnya seperti terombang-ambing. Memutuskan kerja sama dengan perusahaan Aditama memang mudah meski denda yang dibayarkan akan besar dan beresiko ayahnya kehilangan perusahaannya.
Tapi ayahnya tahu bagaimana sifat Candra yang jika dia memiliki seseorang yang sedang ditandai dia akan membuat orang itu benar-benar jatuh dan merasakan segan nya hidup. Meski sudah terbebas dari kerjasama dengan perusahaan Aditama pasti Candra juga akan sekalian menyingkirkan Velicia dan Arbre dari hidupnya, seperti yang ia lakukan kepada Subaki.
"Saya akan membawa Nona ke tempat yang menenangkan." ujar Rehan menggandeng tangan Velicia lalu meninggalkan mall kemudian melajukan mobilnya ke suatu tempat.
__ADS_1
Setelah mendengar penjelasan dari Velicia kenapa tidak langsung saja mereka memutuskan kerja sama dengan Candra, ternyata sampai sepanjang itu akibatnya. Dia merasa kasihan pada Velicia yang masih terus menangis.
Lalu tibalah mereka di sebuah pantai. Velicia yang sudah berhenti dari tangisnya dengan segera turun setelah melihat pemandangan sekitar lalu berjalan di tepian pantai sambil menikmati udara pantai yang sejuk karena hari hampir senja.
Rehan memberi jarak mengikuti dia dari belakang, dia ingin membiarkan Nona nya itu melepas penatnya sendirian.
Kasihan sekali, untuk seorang anak perempuan yang harus ikut menanggung beban orangtuanya. Tapi masih terlihat tegar di luar, pikir Rehan.
Hatinya terenyuh dengan sikap Velicia yang mau ikut mengorbankan dirinya untuk melindungi perusahaan dan juga dirinya sendiri.
Dia juga tak habis pikir tentang kejamnya dunia bisnis yang harus menyeret kehidupan pribadi seseorang, ah mungkin itu hanya kelakuan sebagian orang yang terlalu serakah.
Jika dipikirkan lagi, tak hanya nasib Velicia dan ayahnya, tapi juga karyawan perusahaan dimana jika perusahaan Arbre tak lagi menjadi milik Arbre Effendi pasti nasibnya akan berbeda. Masa depan orang-orang dipertaruhkan di sini.
"Hati-hati, jangan terlalu jauh ke tengah!" teriak Rehan lalu berlari menghampiri Velicia.
πΎπΎ
...^^^----------------^^^...
hola readers π
Terimakasih sudah mampir ke karya saya. Buat kalian yang sempat lihat tulisan saya tinggalkan jejak kalian dengan kasih like, kalau suka tulisan saya favoritkan juga boleh, dikasih hadiah dan vote saya lebih berterimakasih ππ. Isi kolom komentar dengan kritik dan sarannya ya untuk perkembangan dan kemajuan author. Terimakasih ππ.
__ADS_1
enjoy the reading π€ π