
"Duduk dulu. Ini di minum." ucap seorang laki-laki dengan memberikan segelas air mineral. Dengan tangan gemetaran Velicia menerima gelas minum itu lalu meminumnya dengan sekali habis setelah duduk. Dapat para pegawai itu lihat jika Velicia mengalami sesuatu.
Tanpa di minta Velicia lalu berkata, "tolong saya."
"Tolong suami saya!" teriaknya kemudian menangis lagi.
Saling tatap dan saling lihat satu sama lain pegawai di sana di buat bingung dan penasaran.
"Ibu dari mana? Dan kenapa?"
Dengan terisak Velicia menjawab pertanyaan orang itu dan kemudian menceritakan kejadian yang menimpanya saat ini. Untungnya mereka adalah orang-orang baik, dengan segera para lelaki di sana yang berjumlah sepuluh orang bersedia membantu Velicia untuk menolong Arman.
"Man, Pardi, tunggu gubuk ya. Sambil kabari RT atau minta bantuan desa langsung biar bawa polisi." kata salah seorang pegawai laki-laki yang kemudian mereka siap berangkat mengikuti mobil Velicia menggunakan mobil truk yang menjadi sarana mereka. Satu orang laki-laki yang juga bisa menyetir berada satu mobil dengan Velicia. Mereka menyarankan agar Velicia disopiri karena mereka tahu Velicia sekarang dalam keadaan terguncang.
"Siap To!" kata dua orang yang di suruh menjaga gubuk tersebut, sedang delapan orang lainnya ikut membantu Velicia.
Mendengar dari cerita Velicia yang kemungkinan bahwa orang jahat yang mengejarnya bersenjata, para laki-laki itu pun membawa beberapa alat yang berada di tempat itu yang bisa mereka jadikan sebagai senjata untuk membantu menolong Arman dan membela diri. Seperti sabit, gergaji, parang dan ada juga senapan angin yang biasa mereka pakai untuk berburu burung di lahan perkebunan kelapa itu.
Sementara di tempat Arman tadi turun, laki-laki itu kini terlihat sedang terengah-engah karena lelah. Iya dia melawan orang-orang yang menguntit nya dari tadi dengan tangan kosong.
"Sudah tahu kan tanpa saya katakan siapa orangnya. Jadi mundur saja sesuai perintahnya!" teriak seorang laki-laki yang kini tengah mencengkeram kerah kemeja Arman yang tergolek di atas tanah.
Arman kondisinya sudah tidak bisa dikatakan baik-baik saja. Wajahnya penuh luka lebam berbaur dengan debu tanah juga darah, begitu pula dengan baju yang ia kenakan. Tampak darah mengalir dari pelipisnya dan ujung mulut yang sedikit robek karena pukulan tangan. Dia babak belur karena lawan yang tak seimbang, satu lawan tiga.
Para laki-laki yang menguntit nya itu masing-masing membawa senjata, namun untungnya mereka tak langsung main tembak. Mereka masih mau main jantan menghadapi Armana dengan tangan kosong.
__ADS_1
"Sudah jangan buang waktu. Sudah terlalu lama kita di sini. Akhiri saja langsung." kata salah seorang laki-laki lagi yang sedang berdiri dengan tangannya yang kini sudah mengeluarkan pistol dan mengacungkannya mengarah ke tubuh Arman.
Suara deru mobil bertenaga besar terdengar hingga suara senapan udara laras panjang terdengar di lepaskan dari kejauhan. Tiga pria yang memegangi Arman pun sontak terkejut dan menoleh ke arah sumber suara. Masih terlalu jauh jaraknya dari mereka meski dapat mereka lihat tubuh kendaraan berupa truk itu.
Buru-buru mereka meninggalkan Arman yang tergeletak di atas tanah begitu saja. Dengan langkah seribu mereka masuk ke dalam mobil dan kemudian tancap gas dengan kecepatan tinggi meninggalkan tempat itu secepatnya. Takut saja jika itu adalah warga sekitar dan mereka akhirnya di tangkap lalu berurusan dengan polisi.
Mobil truk itu berhenti tepat dekat dengan tubuh Arman yang tergolek tak berdaya sambil terpejam. Dengan segera mereka turun menghampiri Arman berniat menolong Arman dan memberinya bantuan.
"Armaannn!!" teriak Velicia setelah turun dari mobil, ia histeris melihat kondisi Arman yang mengenaskan di matanya. Namun para laki-laki baik hati itu menyadarkannya dan kemudian membantu Arman agar segera di beri pertolongan secepatnya.
"Bawa ke klinik biar cepat!" teriak seorang laki-laki mengintruksikan.
Mereka menggotong tubuh Arman masuk ke dalam mobil Velicia dan dua orang dari mereka salah satunya menyopiri mobil Velicia dan yang satu membantu memangku tubuh Arman si kursi belakang bersama Velicia. Kemudian yang lain kembali masuk ke dalam truk dan ikut mengiring mobil Velicia ke klinik terdekat dengan area kebun kelapa itu.
Setelah sampai klinik Arman kemudian di beri pertolongan pertama di ruangan IGD. Beberapa jam kemudian dua orang polisi dan ketua RT kampung itu datang ke klinik tersebut setelah salah seorang pegawai pabrik kayu tadi mengabari ketua RT ada kejadian di wilayahnya.
Setelah mengajukan berbagai pertanyaan kepada Velicia tentang kronologi kejadian, dan mendapat keterangan yang dirasa cukup polisi itu pun berpamitan untuk pergi.
Dengan kebaikan ketua RT dan warga sekitar, Velicia di bantu untuk mengurus surat-surat dan menemani Velicia bermalam dan menjaga Arman yang sedang di rawat inap di klinik kampung tersebut.
"Bagaimana dok sekarang?" tanya Velicia yang senantiasa setia menemani Armana, duduk di samping sang suami seraya memperhatikan wajahnya yang penuh luka itu.
"Besok pagi-pagi akan kami rujuk ke rumah sakit terdekat. Saya takut jika pasien mengalami cidera dalam dan terdapat beberapa retakan pada bagian tulangnya. Untuk itu nanti saya buatkan rujukan untuk rontgen sebelum di tangani lebih lanjut." ucap dokter tersebut. Ia mengungkapkan jika klinik tempatnya bertugas itu tidak ada alat rontgen untuk mengetahui lebih dalam luka yang dialami oleh Armana.
Melihat luka dari tubuh Arman yang sekarang terlihat merah membiru dan menimbulkan sedikit bengkak, dokter itu yakin jika bukan hanya memar biasa yang dialami oleh Arman.
__ADS_1
"Baiklah dok, tolong bantu untuk semua kelancarannya. Dan terima kasih sebelumnya." ucap Velicia lalu menundukkan kepalanya. Dokter itu pun membalas lalu tersenyum meninggalkan ruangan pasien.
"Bagaimana Bu?" tanya Karto salah seorang warga yang membantu Velicia dan menolong Arman tadi siang. Sekarang ia juga membantu menemani Velicia bermalam di klinik menjaga Arman bersama dua temannya, Rudi dan Sudirman.
"Akan di rujuk ke rumah sakit besok pagi-pagi pak." jawab Velicia.
"Oh iya, maaf, di sini nama kampungnya apa ya pak? Saya ingin meminta alamat lengkap karena keluarga saya ada yang akan datang kemari." tanya Velicia. Karto pun menjawab pertanyaan Velicia, memberikan alamat kampung itu dengan lengkap.
"Terima kasih banyak pak. Terima kasih juga karena atas pertolongan dan bantuan bapak beserta rekan-rekan bapak akhirnya suami saya bisa tertolong." ucap Velicia menundukkan kepalanya mengungkapkan terima kasihnya.
"Sama-sama ibu. Karena rasa kemanusiaan kami juga menolong ibu dengan iklhas." jawab Karto yang di angguki juga oleh teman-temannya.
"Meski begitu saya sangat berterima kasih kepada bapak-bapak sekalian. Kebaikan kalian tidak akan saya lupakan." ucap Velicia dengan nada terenyuh.
"Jangan merasa terbebani bu." kata Karto agar Velicia tak merasa sungkan.
"Oh iya kalau boleh tahu siapa orang-orang itu? Mereka sampai mengejar-ngejar bapak dan ibu ke tempat ini, yang lumayan jauh dari perkotaan." tanya Rudi yang sedikit penasaran.
πΎπΎ
hola readers π
Terimakasih sudah mampir ke karya saya. Buat kalian yang sempat lihat tulisan saya tinggalkan jejak kalian dengan kasih like, kalau suka tulisan saya favoritkan juga boleh, dikasih hadiah dan vote saya lebih berterimakasih ππ. Isi kolom komentar dengan kritik dan sarannya ya untuk perkembangan dan kemajuan author. Terimakasih ππ.
enjoy the reading π€ π
__ADS_1