
Rehan yang tadinya matanya berkaca-kaca kini meninju dada sang kakak, namun bukan dalam artian berkelahi. Rehan terkekeh lalu merangkul adiknya itu sambil menepuk-nepuk punggungnya.
"Thanks. A lot."ucap Rehan. Regan tersenyum masih sambil memeluk adiknya.
Pagi harinya..
"Kami pulang lebih dulu ya, karena kami hari ini harus bekerja." pamit Belleza dan Regan.
Setelah melambaikan tangan dan cipika-cipiki sebelumnya mereka lalu pergi meninggalkan Rehan dan Velicia.
"Ayo, kita juga pulang dan harus bersiap-siap untuk keberangkatan kita." ajak Rehan.
"Emm.." sahut Velicia sambil mengangguk.
Dalam perjalanan Rehan menyetir sambil mengotak atik handphonenya. Sesekali pandangannya lurus ke depan memperhatikan jalan agar mobilnya berada di jalur yang benar.
"Kau sibuk? Hati-hati, jangan main handphone dalam berkendara." ucap Velicia yang sedari tadi memperhatikan Rehan sibuk dengan handphonenya.
"Ah iya, terimakasih sudah mengingatkan. Ini aku sedang mengurus tentang keberangkatan kita. Sepertinya kita akan ambil jadwal tengah malam saja agar pagi-pagi kita sampai di sana." ujar Rehan.
"Mm.. kalau begitu kita menepi dulu saja agar tidak menggangu konsentrasi mu dalam menyetir. Bagaimana kalau ke rumah makan itu saja, sambil sarapan untuk mengisi perut." saran Velicia lalu menunjuk ke arah rumah makan yang berada di depan.
"Ah kau benar." Rehan lalu mengarahkan mobilnya menuju rumah makan yang Velicia tunjuk.
Setelah sampai mereka duduk lalu memesan makanan yang tersedia di menu. Mereka kemudian menunggu makanan datang, sambil Rehan mengurus tentang keberangkatan mereka melalui handphonenya. Tak lama pesanan pun datang.
"Rehan makan dulu saja, nanti di sambung lagi." ujar Velicia yang melihat Rehan masih fokus pada handphonenya.
"Ah iya." kata Rehan setelah tersadar. Dia tersenyum lalu menyantap makanannya, "selamat makan." ucapnya pada Velicia.
Velicia tersenyum lalu mereka pun makan dalam khidmat.
"Sudah selesai?" tanya Velicia yang sedari tadi menunggu Rehan sibuk dengan handphonenya dan kini laki-laki itu meletakkan handphonenya ke atas meja sambil menghembuskan nafas pelan.
__ADS_1
Setelah selesai makan tadi mereka diam sejenak di tempat itu, karena Rehan ingin segera menyelesaikan kesibukannya Velicia pun turut menuggu.
"Iya sudah. Ingin pulang sekarang?"
"Iya pulang saja. Aku juga ingin memeriksa barang yang akan ku bawa apakah sudah dipersiapkan dengan benar."
"Oh, kau tak usah membawa banyak barang karena kita tidak akan lama disana. Mungkin cuma dua atau tiga hari."ujar Rehan.
"Ah baiklah."
Kemudian Rehan mengantar Velicia pulang ke rumah.
Tengah malam..
"Kau tak perlu repot-repot menjemput kesini Rehan, aku juga ingin mengantarkan putriku ke bandara." kata Arbre yang kini Rehan sedang menjemput Velicia ditemani oleh Doni.
"Saya hanya ingin Velicia juga aman Tuan." jawab Rehan.
"Sudah kukatakan, biasakan panggil aku ayah." ujar Arbre.
Mereka kemudian masuk ke dalam mobil dan menuju ke bandara. Arbre melepas Velicia dengan pelukan dan kecupan kecil di pucuk kepalanya lalu beralih memeluk Rehan.
"Aku titip putriku, hati-hati kalian." ucapnya seraya menepuk punggung Rehan. Rehan menjawab dengan anggukan kepala.
"Doni antar Tuan Arbre sampai rumah dengan selamat." pesan Rehan kepada Doni.
"Siap bos." jawab Doni.
"Kau ini, sudah ku ingatkan untuk terbiasa memanggil ayah." kata Arbre dengan tawa kecil.
"Ah maaf, ayah." ucap Rehan malu yang selalu saja masih lupa. Velicia tersenyum melihat tingkah Rehan yang malu itu.
"Kalau begitu kami pergi dulu." pamit Rehan begitu pula dengan Velicia.
__ADS_1
...* * *...
"Kau tidak tidur semalaman?" tanya Velicia saat pesawat sedang mengudara.
"Emm.." Rehan menggelengkan kepalanya.
"Aku harus berkemas dan mengerjakan beberapa pekerjaan." jawab Rehan.
"Hmm.. tidurlah sekarang untuk istirahat sejenak. Perjalanan kan juga masih jauh." kata Velicia setelah menggelengkan kepalanya lemah.
Rehan mengangguk, "pegang tanganku kalau kau takut lalu bangunkan aku kalau butuh sesuatu." ujarnya.
Velicia tersenyum malu lalu meraih tangan Rehan dan menyatukan jemarinya, "baiklah, istirahatlah sekarang."
Velicia membangunkan Rehan saat pesawat akan landing.
"Ingin makan dulu? Kau tidur pulas saat di pesawat tadi, jadi aku tidak membangunkan mu." ujar Velicia.
"Iya baiklah, ayo kita cari makan. Aku juga ingin cuci muka." kata Rehan sambil memainkan handphonenya.
Mereka kini sudah berada di restoran untuk mengisi perut.
"Kita tunggu sebentar disini, akan ada yang menjemput." ujar Rehan setelah mereka selesai makan. Velicia pun mengangguk menurut untuk ikut menunggu.
Selang berapa lama sebuah mobil hitam tiba dengan dua orang keluar berpakaian formal menghampiri mereka. Mereka menyapa Rehan kemudian bercakap dengan bahasa asing yang juga dimengerti oleh Velicia.
"Ayo." ajak Rehan lalu meraih tangan Velicia.
πΎπΎ
...^^^----------------^^^...
hola readers π
__ADS_1
Terimakasih sudah mampir ke karya saya. Buat kalian yang sempat lihat tulisan saya tinggalkan jejak kalian dengan kasih like, kalau suka tulisan saya favoritkan juga boleh, dikasih hadiah dan vote saya lebih berterimakasih ππ. Isi kolom komentar dengan kritik dan sarannya ya untuk perkembangan dan kemajuan author. Terimakasih ππ.
enjoy the reading π€ π