GADIS UMPAN MILIK BOS

GADIS UMPAN MILIK BOS
BAB 45


__ADS_3

Di kamar Sisi.


Setelah mandi dengan air hangat dan mengganti dengan baju tidur Sisi melihat handphonenya. Tidak ada pesan dari Rain atau panggilan telepon darinya.


"Apa kau baik-baik saja? Kau sudah sampai rumah?" Sisi mengirim pesan kepada Rain. Lama dia menunggu namun tak ada balasan juga. Dia lalu mengeringkan rambutnya. Setelah badannya merasa segar setelah mandi Sisi merasa mengantuk. Dia lalu pergi tidur.


Di kediaman Aditama.


"Tuan ini sudah dini hari. Berhentilah sekarang dan pergilah tidur sebentar." kata Coky yang terbangun dari tidurnya.


Saat ingin pergi ke dapur untuk mengambil minum dia melihat pintu ruang kerja Rain terbuka sedikit, dia lalu masuk untuk memeriksa. Ternyata di dalam ruangan Rain sedang bekerja di depan komputernya.


"Aku harus menyelesaikan pekerjaan ini agar nanti saat aku cuti kerja kau tak banyak pekerjaan Coky." jawab Rain yang sedang sibuk mengetik.


"Kau juga harus menjaga kesehatan mu. Jika kau berlebihan dalam bekerja sekarang nanti yang ada kau akan sakit setelah berhenti bekerja. Bagaimana jika pernikahan mu di tunda karena kau sakit." ujar Coky. Rain lalu berhenti sejenak setelah mendengar kata pernikahan di tunda.


"Baiklah aku akan simpan dulu filenya." ujar Rain. Dia lalu menghentikan aktivitasnya dan meregangkan badannya.


"Ini minumlah." Kata Coky yang tadinya membawa minum untuknya sekarang diberikan kepada bosnya. Rain pun menerimanya.


"Pergilah tidur sekarang, akan saya bangunkan jika anda kesiangan nanti." ujar Coky.


"Baiklah terimakasih asisten Coky." ucap Rain lalu meninggalkan ruangan kerjanya.


Coky pun mengangguk lalu dia kembali mengambil air minum ke dapur untuk dibawa ke kamarnya lagi.


Ya, sekarang Coky tinggal di Rumah Besar begitupula dengan nyonya Ratna Aditama setelah Candra mendekam dalam penjara. Namun karena sudah terbiasa dengan suasana di villa Bougenville terkadang nyonya Ratna sering berkunjung dan menginap lama di villa Bougenville.


Di kamar Rain.


"Sisi mengirim pesan?" kata Rain dalam hati setelah melihat layar handphonenya. Dia lalu menelpon Sisi namun tak juga di jawab.


Dia melihat jam dinding kamarnya. "Jam 03 lebih 23, dia mungkin sedang terlelap." gumamnya dalam hati.


Rain mematikan sambungan teleponnya lalu mengirim pesan balasan kepada Sisi.


"Maaf aku tadi sedang bekerja. Aku sudah sampai rumah dengan selamat." tulisnya.


Lama dia menatap layar handphonenya lalu kembali dengan mengetikkan kata "selamat tidur".


Dia menatap layar handphonenya hingga layar itu padam dengan sendirinya lalu meletakkannya di atas meja nakas dan bersiap untuk tidur.


...* * *...


"Selamat pagi asisten Coky." sapa dua sekertaris secara bersamaan.


Coky pun menganggukkan kepala "Pagi".


"Apa benar Tuan Rain sudah datang?" tanyanya.


"Iya benar. Pak CEO sudah datang." jawab Silvi. Coky pun mengangguk lalu pergi ke dalam ruangan CEO.


"Tuan, anda tidak tidur kah? Pagi sekali anda sudah berangkat ke kantor tanpa menunggu saya." tanya Coky yang langsung masuk ruangan tanpa mengetuk pintu terlebih dahulu.


Dia melihat bosnya sedang sibuk dengan tumpukan file dan berkas-berkas yang sepertinya sengaja ia minta dari para divisi melalui sekertarisnya tanpa bicara dulu kepadanya.


"Apa-apaan ini?" gumamnya pada diri sendiri. Coky lalu menghampiri meja Rain sambil memilah melihat berkas-berkas.

__ADS_1


"Inikan laporan proyek yang masih berjalan dan ini juga masih tahap perencanaan." Coky membuka map biru dan ungu. Dia lalu melihat berkas yang sedang Rain baca.


"Astaga!" keluhnya seperti sudah tak sanggup lagi melihat kelakuan bosnya.


"Hentikan semua ini." dia mengambil pena dari tangan Rain dan menutup file berkas yang sedang Rain baca.


"Aku sedang bekerja asisten Coky. Kenapa kau berani sekali dengan lancang menutup berkas yang sedang aku baca?!" tanyanya dengan nada sedikit tinggi.


"Hentikan." kata Coky dengan nada mengintimidasi.


"Kau sedang melawanku asisten Coky?" Rain menatap Coky tajam.


"Hentikan atau aku beri tahu Sisi." ancam Coky.


"Hah.. kau mudah sekali menyebut namanya seolah kau yang paling dekat." tukas Rain seraya menyeringai.


"Kami kan memang dekat. Kami teman dalam bekerja, dulu." kata Coky tak ingin kalah.


"Heh.. benar kau temannya dalam bekerja dan memang hanya kau laki-laki yang dekat dengan dia." kata Rain sambil tersenyum remeh mendorong Coky mundur. Coky tak tahu harus bagaimana lagi menangani kegelisahan bosnya ini.


"Kembalilah ke tempat kerjamu asisten Coky." perintah Rain lalu dia kembali duduk mengambil file berkas secara acak. Kelakuannya benar-benar membuat asisten pribadinya itu pening.


"Hentikan semua kegilaan ini Rain! Kau ingin aku benar-benar menghubungi Sisi untuk mengundurkan hari pernikahanmu?" ujar Coky dengan menaikkan suaranya.


Rain seketika menghentikan kegiatannya setelah dengar kata mengundurkan hari pernikahan.


"Berani sekali kau asisten Coky." ucapnya lalu menyandarkan kepalanya ke kursi. Ucapan Coky rasanya telah memukul telak tepat di fikirannya.


"Bagaimana caranya agar ayah Sisi mau menerima ku?" tanya Rain sambil menutup matanya dengan kedua tangannya.


"Mohonlah agar kau diterima olehnya." kata Coky.


"Perjuangkan jika ingin mendapatkan. Setelah kau dapatkan pertahankan." Coky terus berbicara.


Seolah Rain terhipnotis dengan kata-kata Coky dia lalu bangkit dari kursinya dan merapikan jasnya.


"Aku akan kesana sekarang." kata Rain bangun dari kursinya lalu berjalan menuju pintu.


"Ya. Dan jangan kembali jika belum berhasil. Itu namanya perjuangan." ujar Coky saat Rain akan membuka pintu. Rain mengangguk mengerti mendengar perkataan Coky.


Ruangan pun menjadi sunyi setelah Rain pergi. Coky akhirnya bisa merasa lega.


"Astaga.. benar-benar orang ini." gerutu Coky sambil memilah-milah map berkas.


Dia lalu memanggil sekertaris untuk mengembalikan file yang sudah ia sortir kepada bagian divisi masing-masing.


"Apa jika sudah menikah pun dia akan terus merepotkan ku?" gumamnya yang masih terus membaca file yang tidak dibutuhkan saat ini.


Sementara di kediaman Armana.


"Ayah? Ayah tidak kerja?" tanya Sisi yang sedang menuruni tangga melihat ayahnya sedang berada di meja makan sambil sibuk pada iPad nya.


"Hei, sini nak. Ayah sengaja libur hari ini karena ada beberapa yang ingin ayah bicarakan padamu." ujar Arman.


Diam-diam dia kepikiran hingga tak bisa tidur dan menyelesaikan pekerjaannya semalaman hingga dini hari. Sambil bekerja dia sambil memikirkan harus berbicara dulu dengan Sisi sebelum berbicara kepada Rain juga.


"Kebetulan Sisi ada yang harus dibicarakan kepada ayah juga." ujar Sisi sambil tersenyum mendekati ayahnya.

__ADS_1


Dalam hatinya dia ingin merayu agar ayahnya mau memaafkan dan menerima Rain sepenuh hatinya. Dia yakin jika ayahnya akan berbesar hati.


Sisi duduk di samping Arman. Pegawai harian yang sudah datang membuatkan Sisi segelas susu untuk ibu hamil dan menyediakan kue kering yang biasa Sisi makan untuk camilan.


"Ini Nona. Silahkan." katanya sambil meletakkan gelas dan piring kecil.


"Terimakasih Mina." ucap Sisi sambil tersenyum. Mina pun mengangguk lalu membungkukan badan undur diri.


"Ayah ingin bicara apa?" tanya Sisi langsung agar ayahnya segera mengutarakan keinginannya dan selanjutnya dia juga bisa mengutarakan keinginannya.


"Ayah, sebenarnya ayah masih berat untuk melepas mu. Ayah masih belum merelakan kamu akan pergi dari rumah ini." ujar Arman sambil mengambil satu potong kue kering lalu menyuapinya kepada Sisi.


"Ayah masih ingin menghabiskan banyak waktu bersama mu. Tapi sebentar lagi kau akan menikah. Ayah harus terpisah lagi dari mu." kata Arman dengan nada berat.


Sisi mendengarkan sambil mengunyah setiap gigitan kue yang disuapkan ayahnya.


"Jika bisa tinggalah dulu di sini sementara setelah kamu sudah menikah juga." ucap Arman.


"Sampai kapan?" tanya Sisi dengan seketika. Arman terdiam lalu merengkuh Sisi, mendengar pertanyaan Sisi yang itu.


"Entahlah. Ayah masih ingin bersamamu. Ayah merasa seperti anak kecil ayah baru saja pulang kemarin. Sekarang harus pergi meninggalkan ayah untuk menikah." jawab Arman dengan sedih. Sisi lalu memeluk Arman.


"Ayah, ayahkan sudah tahu Rain dari dulu sebelum Sisi mengenalnya. Ayah jangan merasa sedih untuk menikahkan ku. Jika ayah ingin aku tetap tinggal disini setelah menikah pun aku bisa membicarakan ini dengan Rain. Rain pun pasti akan mengerti dengan keinginan ayah." ujar Sisi menenangkan ayahnya.


"Aku yakin pasti Rain akan mengijinkan." ucap Sisi yakin lalu melepaskan pelukannya pada ayahnya.


"Ayah ingin aku membicarakannya kepada Rain?" tanya Sisi menawarkan.


"Biar ayah saja yang berbicara padanya nanti." jawab Arman melihat kesungguhan putrinya itu.


"Benar ayah sendiri yang akan melakukannya?" Sisi mempertegas lagi.


"Iya nak. Biar ayah saja." ucap Arman.


"Kalau begitu apa boleh ayah bersikap baik juga kepada Rain. Ini permintaan Sisi." kata Sisi sambil memegang tangan ayahnya.


"Jangan ada lagi kekesalan atau kebencian dalam hati ayah." pinta Sisi.


"Karena jika tanpa Rain ayah mungkin tidak akan bertemu dengan ku jika bukan Rain yang membeli ku kala itu." Sisi mengingatkan kenangan dulu pada Arman. Arman mengangguk mengerti.


"Ayah sudah memaafkan dan tidak lagi membenci Rain. Ayah juga sangat berterimakasih karena dia yang membeli mu meski begitu dia memperlakukan mu dengan baik saat itu." ujar Arman.


"Ayah hanya belum bisa merelakan mu kepadanya. Dia sudah lama bersama mu sedang ayah baru beberapa bulan bersama mu. Sekarang jika kau menikah dengannya kau akan kembali kepadanya. Ayah merasa seperti putri ayah direbut kembali olehnya." ujar Arman.


"Maafkan sikap ayah kepadanya yang terkesan buruk di depan mu. Ayah hanya belum bisa merelakan mu untuk pergi dari sini." ucap Arman.


Sisi mengerti sekarang. Ternyata bukan karena Arman membenci Rain atau masih kesal kepadanya tapi karena dia belum bisa merelakan putrinya pergi darinya.


🐾🐾


...- - - - - - - - - - - - - - - -...


hola readers πŸ‘‹


Terimakasih sudah mampir ke karya saya. Buat kalian yang sempat lihat tulisan saya tinggalkan jejak kalian dengan kasih like, kalau suka tulisan saya favoritkan juga boleh, dikasih hadiah dan vote saya lebih berterimakasih πŸ˜πŸ’ž. Isi kolom komentar dengan kritik dan sarannya ya untuk perkembangan dan kemajuan author. Terimakasih πŸ˜˜πŸ’ž.


enjoy the reading πŸ€— πŸ’

__ADS_1


__ADS_2