
Dia sudah satu bulan lebih tinggal di rumah itu namun belum juga terbiasa untuk beradaptasi dengan keadaan rumah itu.
Ya karena ini rumah Rehan Armana Agustino, sang mertua. Terkadang dia akan merasa was-was atau nervous saat ayah mertuanya itu ada disekitarnya atau masih terjaga sampai tengah malam saat ia pulang dari kerjanya.
Dia masih teringat akan penolakan sang ayah mertua karena kesalahannya dulu terhadap istrinya, jadi ia sekarang merasa canggung dan juga sungkan jika harus berbicara atau mengajak berbicara terlebih dahulu.
"Semoga sudah tidur." Gumam Rain sambil tangannya memegang handle pintu besar itu.
Dibukanya pintu itu lalu ia mengedarkan pandangannya ke sekitar, "tidak ada, tidak terlihat." ucapnya dalam hati dengan perasaan masih was-was.
Namun dengan cepat pula ia segera berjalan menaiki anak tangga setelah menutup kembali pintu utama rumah itu.
Ia ingin segera masuk ke kamar istrinya yang sudah menunggu kedatangannya juga menghindari agar tak bertemu dengan sang ayah mertua.
Di rumah itu Rain memang sering bertemu dengan Arman dan kadang juga bercakap seadanya, itupun jika ada Sisi di sampingnya atau ada Velicia sang ibu mertua di samping Arman. Jadi dia tak merasa begitu canggung atau was-was.
Namun saat berdua saja ekspresi dan cara bicara Arman seolah berubah, begitu banyak pertanyaan yang keluar dari mulut Arman kepada Rain yang seolah itu adalah interogasi bukan percakapan antara menantu dan mertua atau anak dan ayah.
Jadi terkadang Rain menghindari pandangan atau menghindari untuk bertemu hanya berdua saja saat ia melihat Armana disekitarnya. Jujur ia sedikit takut.
Arman yang ia kenal di dunia kerja berbeda dengan Arman yang ia kenal setelah menjadi ayah mertuanya. Arman di dunia kerja dulu terlihat sangat wibawa dan profesional, apalagi terakhir kali ia melihat keprofesionalan Arman saat membantunya menangkap Candra. Ia juga merasa kagum saat itu.
__ADS_1
Namun pandangan Rain berubah setelah dia mengatakan kebenaran tentang Sisi dan mengakui kesalahan yang ia lakukan terhadap Sisi. Raut muka penuh kesal namun masih terbungkus ukiran senyum wibawa selalu ia dapat dari wajah sang mertua saat mereka sedang berdua saja.
Berbeda saat di samping mereka ada pasangan masing-masing, raut muka Arman seolah terlihat lebih lepas. Itulah mengapa ada perasaan takut dan was-was dalam diri Rain.
Ia tahu jika dari lubuk hati orang tua itu, Arman belum sepenuhnya melepaskan anak perempuannya untuk Rain, maka Rain pun menyetujui setelah dia dan Sisi menikah mereka akan tinggal di kediaman Arman.
Yah meski jarak dari rumah Arman dan kantor Rain berlawanan arah dan harus ditempuh dengan jarak yang lumayan lama, Rain menerima itu.
Setelah Rain sampai kamar Sisi tanpa sepengetahuannya Arman memperhatikannya dari ruang kerja milik Arman lewat CCTV yang di pasang di teras depan rumahnya.
Sedikit menyunggingkan senyum sebelah bibirnya, Arman merasa lucu dengan tingkah Rain yang memiliki perasaan takut terhadapnya.
Saat mengingat dulu, Rain dan Sisi masih kecil mereka selalu bermain bersama. Bahkan hampir setiap hari Minggu mendiang Andra mengantarkan putranya itu untuk menemui Sisi kecil karena Rain merengek ingin bermain dengan bayi lucu itu.
Bukan salah Rain jika dia membeli Sisi di pelelangan kala itu, karena Rain juga sudah tidak mengingat tentang Sisi saat mereka masih kecil dulu. Bukan salah Rain juga yang sebagai keponakan Candra jika penyebab semua ini adalah Candra pamannya.
Ia menghela nafas panjang teringat akan mendiang Andra temannya, sedikit perasaan bersalah muncul dalam hatinya karena melampiaskan semua ini kepada anak mendiang temannya itu.
Ingin dia bersikap biasa kepada Rain dan merubah sikapnya yang dirasa mengintimidasi untuk Rain itu, namun saat melihat Rain ia selalu terbayang semuanya.
Terbayang bagaimana Candra membuatnya harus terpaksa terpisah dengan putrinya, membayangkan bagaimana putrinya dulu dibeli di pelelangan oleh Rain hingga bayangan dimana Rain yang mengakui mengambil paksa kegadisan sang putri semata wayangnya.
__ADS_1
Padahal Sisi juga sudah ikut menjelaskan jika selama Sisi bekerja untuk Rain, Rain selalu memperlakukan dengan baik dirinya dan kejadian malam saat Rain kambuh dari penyakitnya Sisi sendiri yang memaksa untuk masuk hingga terjadi kejadian itu. Bahkan Sisi juga bercerita jika Sisi sendiri mengakui pernah melakukan untuk kedua kalinya dalam keadaan dia yang sadar.
Lelah dengan semua yang ada pada pikirannya Arman kemudian kembali ke kamarnya, kembali pada dekapan hangat sang istri untuk menghilangkan semua beban pikiran dalam benaknya.
"Ayah, ibu, Sabtu malam ini boleh ya Sisi ikut menginap di rumah besar?" tanya Sisi setelah selesai dengan sarapan paginya.
Hari ini Sabtu pagi dan mereka sekarang telah selesai sarapan bersama di meja makan yang di sana juga ada Rain. Rain menatap ke arah kedua orang tua Sisi, ingin tahu respon mereka.
Dengan senyum mengembang Velicia menjawab dengan iya. "Jangan lupa bawa perlengkapan ibu hamilnya. Susu dan juga obat vitaminnya." ujar Velicia.
Namun yang dimintai izin lebih dulu belum juga merespon memberikan jawabannya hingga membuat kedua pasangan suami istri itu masih ragu untuk berucap terima kasih kepada sang ibu.
Berdehem kecil, "ayah boleh saya minta izin membawa Sisi untuk menginap di rumah besar?," tanya Rain memberanikan diri meminta izin pada ayah mertuanya.
Menghela nafas panjang lalu mengeluarkannya perlahan Arman menegakkan badan menatap sang menantu.
"Iya baiklah. Satu minggu juga tidak apa-apa. Kasihan kalau nanti Sisi lelah di perjalanan dan akan berdampak pada kandungannya." Ujar Arman dengan nada suara yang seperti ia sedang berbicara kepada istrinya. Tenang dan tanpa penekanan, membuat Rain menaikkan alisnya sedikit.
Ia terheran namun juga merasa senang karena diberi izin waktu yang panjang.
πΎπΎ
__ADS_1
hola readers π
Terimakasih sudah mampir ke karya saya. Buat kalian yang sempat lihat tulisan saya tinggalkan jejak kalian dengan kasih like, kalau suka tulisan saya favoritkan juga boleh, dikasih hadiah dan vote saya lebih berterimakasih ππ. Isi kolom komentar dengan kritik dan sarannya ya untuk perkembangan dan kemajuan author. Terimakasih ππ.