GADIS UMPAN MILIK BOS

GADIS UMPAN MILIK BOS
BAB 108


__ADS_3

Arman melajukan mobilnya ke arah yang berbeda dari jalur yang biasa ia tempuh saat akan mengunjungi Sisi. Ia membelokkan mobilnya ke arah jalan yang ia pun tak tahu kemana arah jalan itu. Yang terpenting untuknya adalah untuk menghalau mobil itu agar tak mengikutinya lagi. Kini Arman melanjutkan mobilnya dengan menambah kecepatan.


Dia masih ingat cara untuk menghindari orang-orang yang seperti ini, kejar-kejaran memakai mobil ataupun motor, bahkan dengan memakai senjata. Namun sekarang posisinya dia sedang bersama dengan Velicia, wanita itu tidak mungkin bisa langsung menerima guncangan akibat dari cara dia mengendalikan mobilnya.


Bagaimana ini?, pikirnya.


"Velic, bagaimana kalau aku melakukan dengan caraku?" tanya Arman disela-sela fokusnya mengendarai mobil.


"Lakukan saja." jawab Velicia dengan tangan yang berpegang erat pada seat belt.


Ia kemudian menarik nafas panjang. Menoleh pada istrinya yang terlihat tegang, Arman mengusap sekilas puncak kepala sang istri dengan kemudian melanjutkan fokusnya.


Sayangnya kali ini dia bukan lagi agen rahasia atau seorang bodyguard yang kapan saja bisa membawa senjata. Jika terpaksa harus menghadapi orang-orang yang mengikutinya sekarang, kemungkinan ia hanya akan memakai tangan kosong. Namun sebisa mungkin ia akan menghindari perkelahian secara langsung karena sekarang ini dia sedang membawa Velicia.


Aksi kejar-kejaran mobil di jalanan kampung yang sepi dan masih berupa tanah dan batu pun kerikil terjal pun terjadi. Hingga pada batasnya Arman tak lagi tega mendengar istrinya yang kadang berteriak-teriak ketakutan sambil menangis menahan sakit karena jalanan yang tak rata. Mau bagaimana lagi, ini cara terakhirnya.


"Velic, kau bisa mengendarai mobil kan. Setelah aku keluar, bawa mobil ini menjauh dari sini dan minta pertolongan ke sekitar." ucap Arman dengan suara terdengar gemetar karena jalanan yang tak rata dan tenaga yang juga sudah hampir berkurang.


Velicia ingin protes karena ia tak mau meninggalkan Arman sendirian, dia ingin bersama-sama apapun yang terjadi. Namun belum juga ia mengucapkan protesnya Arman sudah berkata lebih dulu.

__ADS_1


"Aku tidak menerima bantahan untuk yang ini."


"Dengar. Setelah aku turun, ambil alih kemudi dan pergi secepatnya. Jika ingin aku selamat datanglah membawa pertolongan." ucap Arman tanpa menatap wajah sang istri. Ia takut jika keyakinannya akan berubah menjadi tak tega jika melihat wajah sedih dan memelas Velicia. Tanpa suara tanpa dilihat Arman, Velicia mengangguk.


Setelah mengambil kecepatan tinggi untuk memberi jarak dengan mobil yang mengejarnya Arman kemudian turun dengan selanjutnya Velicia mengambil alih kemudi dan melajukan mobilnya dengan kecepatan tinggi meninggalkan Arman berdiri sendiri di sana menghadang para penguntit itu.


Entah apa yang Arman pikirkan sampai ia punya nyali besar untuk turun sendirian menghadapi orang-orang itu. Iya jika jumlah orang yang ada dalam mobil itu hanya dua, bagaimana jika itu empat atau bahkan enam. Belum lagi jika masing-masing dari mereka membawa senjata.


Hati Velicia benar-benar tak tenang. Air mata mengucur deras hingga pandangannya pun sedikit kabur. Ia menangis sejadinya seraya meraung membayangkan hal yang tidak-tidak yang akan terjadi pada suaminya nanti. Untuk saat ini dia harus menggunakan otaknya dengan waras meski banyak pikiran buruk berkelebatan.


Dengan tangan yang masih gemetaran ia mengambil handphone, namun sayang handphone itu susah sekali di ambil. Terus mengumpat dalam hati sambil bercucuran air mata ia mencoba merogoh tas berukuran kecil yang dirasa sangat luas saat situasi sedang genting begini. Lagi-lagi gagal, tas mungil itu malah terjatuh ke bawah.


Di sandarkannya kepalanya pada setir mobil dengan tertunduk sambil menangis meraung. Sekelebat bayangan Arman yang akan mengalami sesuatu yang buruk pun kembali memenuhi isi kepalanya.


Tersadar ia lalu mengambil nafas panjang dan menghembuskannya secara perlahan. Di angkatnya kepalanya kemudian melihat sekitar. Ia turun dari mobil kemudian merotasikan pandangannya pada sekeliling. Tidak ada orang satu pun terlihat, sepi, hanya ada pohon kelapa berjajaran. Sulit untuk mendapatkan pertolongan dan bantuan seperti yang Arman bilang.


Seketika ia teringat kembali dengan handphonenya. Ia kembali masuk ke dalam mobil dan mengambil handphone miliknya kemudian mulai mencari nomor yang kini ada di benaknya. Nada tersambung, untung saja tidak susah sinyal di sini.


"Halo? Kak..." Ia melakukan panggilan untuk Regan, kakak iparnya yang selalu bersedia membantu apapun untuknya. Ia kemudian menceritakan kejadian dan keadaan Arman dan dirinya saat ini. Terdengar dengusan nafas dari seberang telepon dan dengan segera di matikan panggilannya.

__ADS_1


Tak ingin putus asa, Velicia kembali melajukan mobilnya menyusuri jalanan yang sepi penuh pohon kelapa itu. Ada tapak jalan bekas ban mobil. Velicia mengikuti arah jejak ban mobil itu mengarah. Mudah-mudahan saja ia bertemu dengan orang dan orang-orang yang ia temui nanti adalah orang-orang baik yang mau menolongnya, doanya sepanjang perjalanan.


Mata Velicia berbinar, yang tadi air matanya sempat terhenti karena sudah tenang kini kembali mengucur deras. Di depan sana ada sebuah gubuk besar dan terlihat ramai oleh orang-orang. Dan setelah lebih mendekat, terlihat seperti sebuah pabrik. Banyak buah kelapa kering dan masih muda bertumpuk di sana. Terdengar juga suara mesin pembelah kayu yang suaranya memekakkan telinga, juga beberapa tumpuk kayu yang sudah terpotong rapi berjajar.


Setelah menghentikan mobilnya di depan bangunan itu ia kemudian turun dari mobilnya. Setelah Velicia turun, suara mesin pemotong kayu itupun terdengar dimatikan. Orang-orang yang sedang bekerja di sana saat itu keheranan karena ada mobil bagus datang ke tempat mereka. Pasalnya yang datang ke tempat itu biasanya hanya mobil truk pengangkut kelapa atau mobil besar pengangkut kayu yang sudah selesai mereka potong dengan gergaji mesin. Apalagi plat mobil yang parkir di depan tempat mereka berkerja berbeda dengan plat mobil di daerah mereka.


Velicia turun menghampiri tempat itu dengan masih bercucuran air mata, ia bersyukur bisa bertemu dengan seorang manusia, maksudnya benar-benar orang. Ia ingin berkata meminta tolong namun lidahnya terasa kelu dan nafasnya kini malah sesak karena tangis yang tak kunjung berhenti. Orang-orang yang bekerja di sana semuanya laki-laki.


Dengan keheranan salah satu diantara mereka menghampiri Velicia. "Ibu dari mana ya? Apa yang terjadi? Apa ada yang bisa kami bantu?" tanya salah satu pegawai pemotong kayu itu mencoba bertanya pada Velicia yang terlihat sedang dalam keadaan menangis.


Velicia malah semakin menjadi tangisnya, limbung dan hampir saja badannya roboh karena sudah terlalu lelah berkendara sejak tadi. Dengan segera salah seorang dari pegawai itu pun menyarankan Velicia untuk masuk ke pabrik kayu tersebut.


"Duduk dulu. Ini di minum." ucap seorang laki-laki dengan memberikan segelas air mineral. Dengan tangan gemetaran Velicia menerima gelas minum itu lalu meminumnya dengan sekali habis setelah duduk. Dapat para pegawai itu lihat jika Velicia mengalami sesuatu.


🐾🐾


hola readers πŸ‘‹


Terimakasih sudah mampir ke karya saya. Buat kalian yang sempat lihat tulisan saya tinggalkan jejak kalian dengan kasih like, kalau suka tulisan saya favoritkan juga boleh, dikasih hadiah dan vote saya lebih berterimakasih πŸ˜πŸ’ž. Isi kolom komentar dengan kritik dan sarannya ya untuk perkembangan dan kemajuan author. Terimakasih πŸ˜˜πŸ’ž.

__ADS_1


enjoy the reading πŸ€— πŸ’


__ADS_2