
"Hem.." Candra menjawab dengan mengangguk.
Dirinya merasa bisa sedikit bernafas karena Arbre tak lagi mengusik fikiran nya dengan menyelidiki tentang kematian Subaki. Fokusnya sekarang adalah mendapatkan dukungan sebanyak-banyaknya agar dapat menandingi kakaknya itu.
...* * *...
"Terimakasih Rehan." ucap Arbre setelah mereka selesai makan malam.
"Maaf saya tidak bisa menjamu dengan baik, hanya ini yang bisa saya berikan." ujar Rehan yang juga telah selesai makan. Dia hanya bisa menyuguhkan makanan siap saji yang dia beli dari luar tadi.
"Tidak apa, begini saja kami sudah merasa diperlakukan dengan baik. Maaf malah kami yang merepotkan mu." tutur Arbre.
"Ini sudah lebih dari waktu jam pulang kantor, sebaiknya aku pulang sekarang." ujar Arbre sambil melihat jam tangannya.
"Ayah, aku juga ingin ikut." Velicia menyela ucapan Arbre dengan nada sedikit merengek.
Rehan mengerti harus berbuat apa.
"Sebentar, akan saya pastikan dulu."ucap Rehan lalu berdiri menjauh dari mereka dan mengeluarkan handphone untuk menghubungi Doni.
"Bagaimana? Ya, tolong kau jemput kesini." katanya.
"Sepertinya sudah tidak ada lagi yang mengikuti mobil Tuan selama perjalanan pulang kata teman saya. Mungkin Nona juga bisa ikut pulang. Tapi untuk jaga-jaga Nona sebaiknya jangan lakukan aktivitas ke luar rumah dulu kedepannya apalagi seorang diri. Dan untuk Tuan, teman saya masih akan ikut mengawal sampai di rasa aman." jelas Rehan.
Velicia tersenyum bahagia mendengar itu, Arbre pun mengangguk paham. "Iya, terimakasih Rehan atas segala rupa bentuk bantuan mu. Aku tidak akan melupakan kebaikan mu." ujar Arbre sambil menepuk lengan atas Rehan.
"Ah tidak usah terlalu sungkan Tuan, ini sudah menjadi pekerjaan saya." kata Rehan sambil menganggukkan kepalanya.
"Padahal kau lebih tinggi dari ku tapi kau sangat rendah hati." puji Arbre.
Arbre merasa kagum pada Rehan yang loyal dengan pekerjaannya meski dia juga tahu siapa Rehan sebenarnya tapi Rehan tidak menganggap dirinya orang paling luhur.
Tak lama Doni datang ke apartemen Rehan untuk menjemput mereka lalu mengantar Arbre dan Velicia pulang ke kediamannya.
__ADS_1
Setelah tiba di kamarnya Velicia menghempaskan tubuhnya ke atas kasur miliknya yang empuk.
"Mmm.. nyamannya. Surga yang ku rindukan." ujarnya lalu tubuhnya berguling memeluk bantal di kepalanya.
Sedetik kemudian ia teringat akan kelakuannya saat di apartemen Rehan.
"Disana juga nyaman." gumamnya yang mengingat dirinya pernah tidur di kamar Rehan.
Aroma ruangan kecil yang bisa membuat badan dan fikiran terasa rileks seperti sedang spa.
"Kira-kira apa ya yang digunakannya?" dia masih bergumam sendiri.
Lalu sekilas muncul bayangan dirinya yang pernah bersujud kepada Rehan. "Astaga. Bukankah itu sama saja aku meminta untuk dinikahi olehnya?" gumamnya sambil menenggelamkan wajahnya ke bantal. Dia kini tersipu mengingatnya.
Tapi kan bukan itu maksudku, aku hanya ingin membantu ayah, pikirannya terus bergelut membela diri sendiri.
"Bagaimana jika Rehan menolak?" dirinya lalu bangkit dan duduk.
"Aargghh.." rutuk nya. Dia lalu menelungkup kan tubuhnya dan menarik selimut agar menutupi seluruh tubuhnya. Dia tidak ingin memikirkan hal lain lagi dan ingin cepat istirahat.
...* * *...
"Bagaimana?"
". . . ."
"Hm. Untuk hari ini aku libur juga. Pastikan semua terkendali, aku percayakan tugas ini pada kalian." terdengar Arbre sedang berbicara di telepon.
Hari ini dia cuti kerja lagi dan menyerahkan tugas kantornya kepada para sekertaris nya. Ya dan hari ini dia akan mengistirahatkan fikiran nya dari pekerjaan kantor. Dia ingin mempersiapkan menyusun berkas yang diperlukan jika nanti Rehan mau menyetujui keputusan yang sudah ia dan putrinya buat.
"Aku harap dia mau berbesar hati untuk menerima tawaran kami." ucapnya dalam hati sambil sibuk jemari tangannya pada sebuah keyboard.
Sementara di kantor cabang Danbi corporation..
__ADS_1
"Kak, bagaimana kakak bisa menikah?" tanya Rehan dengan polosnya.
Dirinya sekarang sudah tak tahu malu lagi. Tak ada rasa malu sedikit pun setelah dramanya yang sudah lama kabur itu dan baru beberapa minggu yang lalu ia diperbolehkan untuk datang ke kantor kakak nya kini malah keseringan berkunjung tanpa harus membuat janji terlebih dahulu. Regan berdecak kesal, kepalanya terasa berkedut. Bagaimana tidak, fokusnya terganggu dengan adiknya yang sudah satu jam lamanya berada di ruangannya dan sedari tadi yang adik tersayangnya lakukan adalah bercerita tentang hal yang tak berguna untuknya dan pekerjaannya. Rehan sadar akan wajah tak bersahabat kakaknya itu.
"Aku kan harus mengumpulkan banyak informasi sebelum mengambil keputusan yang benar-benar akan aku jalani di kehidupan mendatang." tukasnya tak ingin kakaknya menjadi penceramah yang berujung membuatnya keluar dari ruangan itu.
Regan meraup wajahnya kasar. "Sepertinya kau memang benar-benar terlalu dimanjakan ya bocah. Apa yang dipikirkan ibu kala itu ingin kau menjadi penerus Danbi sedang untuk memulai mengambil keputusan hidup mu saja kau membuatnya sangat rumit." ucap Regan rendah seperti sedang menahan emosinya. Rehan tau itu suara khas kakaknya jika menahan kesal.
"Maaf, aku memang anak yang manja."
"Tapi aku kali ini benar-benar bertanya serius. Bagaimana kakak bisa menikah dengan kak Belle?" tanyanya lagi dengan kikuk.
"Aku kan bertanya untuk persiapan diri agar nanti jika ayah bertanya padaku aku bisa menjawab dengan benar, maksudnya dengan tepat. Kakak tau sendiri kan sifat ayah seperti apa." cicitnya dengan nada pelan agar Regan paham dengan situasi yang dirasakan Rehan saat ini.
Regan melangkah kasar ke arah dimana Rehan saat ini sedang duduk. Matanya membulat sempurna, "Sudah kubilang nikahi saja gadis itu. Lalu bawa dia kehadapan ayah dan katakan pada beliau jika kau ingin menikahinya. Dan bonusnya adalah perusahaan yang kau maksud itu. Jadi..."
Regan yang menatap mata adiknya itu lalu memegang kedua bahu Rehan dengan erat. "Pergi sekarang juga dan jangan pernah datang ke sini tanpa membuat janji." tukas nya dengan senyum kesal yang menampakkan gigi putihnya yang rapi.
Rehan seketika menelan ludahnya kasar, dia tahu batas kesabaran kakaknya itu. Dengan spontan dia mengangguk tanpa suara dan setelah Regan melepaskan tangannya dari bahunya itu, dia buru-buru bergegas keluar ruangan sang CEO.
Regan yang masih berdiri di ruangannya itu menghembuskan nafas kasar, di ambilnya handphone dari saku celananya lalu menghubungi sang ayah.
...* * * ...
πΎπΎ
...^^^----------------^^^...
hola readers π
Terimakasih sudah mampir ke karya saya. Buat kalian yang sempat lihat tulisan saya tinggalkan jejak kalian dengan kasih like, kalau suka tulisan saya favoritkan juga boleh, dikasih hadiah dan vote saya lebih berterimakasih ππ. Isi kolom komentar dengan kritik dan sarannya ya untuk perkembangan dan kemajuan author. Terimakasih ππ.
enjoy the reading π€ π
__ADS_1