GADIS UMPAN MILIK BOS

GADIS UMPAN MILIK BOS
BAB 91


__ADS_3

"Kena mental aku disamakan dengan mereka." ucapnya di final penjelasannya sembari sedikit mendengus kesal.


Glek.


Velicia yang merasa bersalah tertunduk kepalanya, malu tentu saja. Susah sekali rasanya hanya untuk menelan ludah. Salah sendiri bicara sembarangan. Apa suaminya itu sekarang marah? Dia takut.


Disangkanya suaminya sama seperti pria-pria asing luar negeri sana yang biasa melakukan segs bebas atau skinship tanpa menikah. Berdosa sekali dia menuduh suaminya yang tidak-tidak, pikirnya.


Dengan masih memasang wajah senyum yang menampakkan deretan giginya itu Velicia meminta maaf pada sang suami. "Hehe.. maafkan aku, aku kira semua orang bule sama. Aku benar-benar minta maaf." ucap Velicia sambil menatap ke arah sang suami.


Dirinya benar-benar merasa berdosa sekali karena sudah menuduh suaminya dengan ketidak tahuannya. Apalagi lagi setelah mendengarkan penjelasan panjang lebar Rehan tadi, dia seperti tertuduh yang sedang di dakwa.


Rehan tak menjawab, ia kemudian melajukan kembali mobilnya.


"Kamu marah?" tanya Velicia dengan nada lembut sedikit takut. Rehan tetap diam dengan pandangan lurus ke depan memfokuskan diri pada jalan.


Setelah selama perjalanan mereka terdiam kini Velicia buka suara saat mereka berada di lift yang sedang naik ke lantai apartemen mereka. "Rehan, aku minta maaf. Aku tidak bermaksud.."


"Iya aku tahu. Kau pasti berpikir begitu karena di sana memang membebaskan hal seperti itu. Tapi jangan lupa, ayah ku juga orang asli pribumi. Peraturannya ketat meski kepada anak laki-laki." ujar Rehan tanpa menatap ke arah Velicia.


"Ting"


Pintu lift terbuka dan mereka pun keluar.

__ADS_1


"Iya. Aku minta.."


"Sudah. Jangan minta maaf terus. Ayo masuk." ujar Rehan yang sudah membuka pintu apartemen.


Velicia menurut, dia berjalan melewati Rehan sambil tertunduk seperti seorang tersangka. Rehan tersenyum melihat tingkah istrinya itu, tawa tanpa suara mengulas di bibirnya. Tak ada lagi wajah kesalnya seperti saat dalam perjalanan pulang tadi.


Waktu kembali bergulir.


Rehan disibukkan lagi dengan pekerjaannya. Hari akuisisi pun tiba, hingga hari peresmian nama baru untuk mantan perusahaan milik Arbre beralih nama menjadi Armana Corp tiba. Pemotongan pita di pintu masuk depan gedung perusahaan di pimpin oleh Rehan Armana dan juga Arbre Effendi disertai dengan pengabadian momen oleh lensa kamera.


Kini tiba saatnya open party yang di adakan pada Sabtu malam. Disana banyak dihadiri para pengusaha dan pebisnis yang tertarik untuk bekerjasama atau hanya sekedar untuk mengetahui struktur organisasi perusahaan, siapa saja nama-nama yang tergabung dalam perusahaan tersebut.


Sesuai janji Rehan, malam itu dia memperkenalkan kepada khalayak jika Velicia adalah istrinya.


Arbre atau pun Rehan saling mengenalkan jika mereka adalah menantu dan mertua. Tidak menjadi gunjingan jika kini Arbre turun tahta dan digantikan oleh Rehan, meski harus ada akuisisi dan pergantian nama perusahaan namun mereka tidak mempermasalahkan karena tentu saja mereka tahu bahwa di belakang Rehan ada Agustino.


"Ah, iya pak Ahmad. Tadi saya niatnya ingin mengantar istri ke salon, tapi istri menyarankan untuk potong rambut sekalian agar terlihat berbeda penampilannya." jawab Rehan menjelaskan.


"Wah sekarang panggilannya juga di ubah menjadi Armana agar terdengar berbeda." ujar Pak Deni teman Arbre yang tadi sedang berkumpul dengan mereka.


"Ah iya benar itu, saya kira tadi Pak Ahmad menyapa siapa dengan sebutan Armana. Sekarang saya baru paham." sahut Pak Bagas dengan tawa ringannya.


"Hahaha.. benar kan? Kalian juga merasa itu pantas kan?" ucap Pak Ahmad kembali.

__ADS_1


"Iya cocok kok. Sesuai dengan nama perusahaannya yang baru, dan pemimpin yang baru. Armana." ujar Pak Bagas seraya membentuk garis lurus dengan jari telunjuk dan ibu jari. Kemudian mereka pun tertawa bersama, Rehan hanya tertunduk tersenyum sambil mengusap leher belakangnya.


Di sisi lain, Velicia yang sedang berbincang dengan para perempuan pandangannya teralihkan karena suara detak sepatu tinggi seorang wanita. Velicia menoleh ke arah pemilik sepatu tersebut, terlihat sosok wanita dengan anak laki-laki kecil yang jarinya sedang di gandeng, ibunya mungkin. Anak kecil itu berjalan mendekat ke arahnya mengikuti sang ibu.


"Selamat ya Nyonya Velicia, atas pembukaan perusahaan suami anda dengan nama baru." ucap perempuan paruh baya itu.


"Ah iya terima kasih nyonya..."ucap Velicia menggantung.


"Saya Fariska Aditama, istri Andra Aditama. Dan ini putra saya Rain Aditama, maaf saya harus membawa putra saya karena hari ini dia sedikit rewel, saya harap Nyonya Velicia maklum." ucap Fariska mengenalkan diri dan putranya dengan senyum ramah yang anggun. Terlihat seperti sudah sering menghadiri acara seperti ini.


Velicia dan para perempuan yang lain pun tertunduk memberi hormat. Siapa yang tidak tahu Andra Aditama, hanya saja wajah sang istri yang jarang muncul di layar kaca dan lembaran majalah membuat mereka jarang mengenalinya.


"Tidak apa nyonya Fariska, terimakasih sudah berkenan hadir di acara yang suami saya adakan." ucap Velicia. Setelahnya para perempuan yang lain pun ikut memperkenalkan diri masing-masing lalu mereka mulai perbincangan dengan obrolan yang biasa perempuan bahas dalam perkumpulan.


🐾🐾


...^^^----------------^^^...


hola readers πŸ‘‹


Terimakasih sudah mampir ke karya saya. Buat kalian yang sempat lihat tulisan saya tinggalkan jejak kalian dengan kasih like, kalau suka tulisan saya favoritkan juga boleh, dikasih hadiah dan vote saya lebih berterimakasih πŸ˜πŸ’ž. Isi kolom komentar dengan kritik dan sarannya ya untuk perkembangan dan kemajuan author. Terimakasih πŸ˜˜πŸ’ž.


enjoy the reading πŸ€— πŸ’

__ADS_1


__ADS_2