
"Bagaimana hari pertama kerjamu?"tanya asisten Coky dalam perjalanan mengendarai mobil.
"Lumayan melelahkan. Banyak berdiri dan banyak tersenyum."kata Sisi.
"Ingat nama dan orang-orang yang kau temui hari ini kan?"
"Tentu saja."
Asisten Coky berhenti disebuah apartemen. Dia menaiki lift bersama Sisi. "Ting" lift berhenti dan mereka berjalan sebentar. Asisten Coky menggesekkan sebuah kartu.
"Kau tinggal disini mulai sekarang. Identitas mu sebagai asisten kedua Tuan Rain. Semua keperluan mu sudah disiapkan disini." Asisten Coky memperlihatkan bagian ruangan.
"Ini gajimu selama ini. Kau bisa menggunakan untuk keperluan mu."dia juga meletakkan kartu hitam di atas meja. "Ingat tugas mu malam ini."
"Iya aku tau."Sisi mengantar kepergian Coky.
"RIME BAR. Nomor 12 kan?"Sisi memandangi pintu ruang karaoke VIP. Dia lalu masuk tanpa ragu. Dia masuk ke ruangan yang benar. Disana terlihat Rain sedang bersama relasinya, Agung dan Indra. Mereka sedang minum ditemani pemandu karaoke dan beberapa wanita.
"Tuan Rain, bukan kah dia asisten anda?"tanya Indra yang melihat Sisi datang menghampiri Rain.
"Iya pak Indra. Dia juga menjadi pendamping saya kemana-mana."jawab Rain menyambut Sisi untuk duduk di sampingnya.
Kedatangan Sisi seolah menjadi magnet untuk mereka. Agung dan Indra tak bisa melepaskan pandangannya dari Sisi. Meski dua perempuan bergelayut pada mereka tapi pikirannya selalu tertuju pada Sisi. Wajah putih merona. Kulit putih mulus yang dibalut dress hitam ketat selutut memperlihatkan keindahan betisnya. Agung sudah beberapa kali meminum wine untuk menutupi rasa nafsunya. Jika dia bukan wanitanya Rain. Dia mungkin sudah menyentuhnya.
"Ini sudah larut malam, Tuan harus segera pulang untuk istirahat. Jika besok terlambat bekerja maka jadwal akan jadi berantakan."kata Sisi dengan suara lembutnya. Indra menyungging senyum licik melihatnya.
"Oke aku ke kamar kecil dulu."kata Rain lalu keluar ruangan.
Dengan segera Agung mendekati Sisi yang sedang sendiri. "Berapa bayaran mu? Sebutkan berapa pun nominalnya aku akan bayar dua kali lipat darinya."bisik Agung.
Sisi menaikkan alisnya "maaf pak Agung sepertinya anda salah paham dengan pekerjaan saya."Sisi berpura tak tahu dan menolak.
"Jangan pura-pura polos. Hanya one night stand, kami akan bayar dua kali lipat dari gajimu sebulan."sambung Indra.
"Sepertinya kesalahpahaman kalian semakin jauh. Saya bekerja sebagai asisten Tuan Rain bukan pelayan tidur Tuan Rain."Sisi mulai risih.
Agung dan Indra menyuruh perempuan lain untuk keluar. Mereka lalu mendekati Sisi dengan muka mesum penuh nafsu.
"Kami tidak akan lama, sepertinya Tuan mu juga sedang muntah karena mabuk berat."mereka mulai memainkan rambut Sisi.
"Maaf sebaiknya kalian bersikap sopan jika tak ingin merasakan akibatnya."ancam Sisi.
__ADS_1
"Uuh... ancaman yang menakutkan."Indra terkekeh sambil memegang erat muka Sisi. Tangan Agung mulai berani meraba betisnya. Sisi mulai tak nyaman dengan perlakuan mereka hingga rasanya ingin segera bertindak.
Indra dan Agung memegang tangan Sisi hingga Sisi tak bisa bergerak "hentikan! Kuperingatkan."teriak Sisi. Tetapi mereka tak peduli dan malah tertawa besar. Saat Sisi akan memulai aksinya menendang mereka Rain muncul dengan segera.
"Apa yang kalian lakukan pada asistenku?"teriak Rain yang melihat adegan itu.
"Maaf Tuan Rain. Tapi asisten anda meminta kami untuk bermain sebentar."jawab Agung dengan tebal muka.
Indra menambahkan "benar Tuan. Dia ingin mencoba bermain dengan dua orang, jika anda tidak keberatan anda juga boleh bergabung."
Kaki Rain seketika melayang ke muka Indra tepat dimulutnya, sedang tangan Agung di pelintir nya ke belakang. Dia benar-benar marah mendengar ucapan mereka. Tenaga Rain semakin kuat karena pengaruh alkohol dari wine. Dia menghajar habis-habisan mereka berdua.
Sisi yang melihat bosnya sedang kalap segera menghentikannya. Ditariknya dan dipeluknya tubuh Rain untuk mundur. "Hentikan tuan. Mari pergi dari sini."
Rain yang terpengaruh alkohol tak mendengar kata-kata Sisi amarahnya mencapai puncak. Sisi kebingungan karena tak pernah melihat Bosnya seperti ini sebelumnya. Rain memberontak ingin melepaskan diri. Sisi menahannya dengan mempererat pelukannya. Ia coba mengusap pundak Rain agar dia lebih tenang. Setelah beberapa lama detak jantung dan getaran tubuh Rain mereda. Dia lalu mengajak dan menuntun Bosnya untuk keluar.
Sisi memapah Bosnya yang sempoyongan menuju parkiran dan memasukkannya ke dalam mobil.
"Huuh beratnya. Aku akan minta gaji tambahan untuk ini."keluhnya. Dia lalu menyetir mobil bosnya dengan cepat.
"Asisten Coky kau dimana? Kenapa tak ada satupun yang mengawal bos?"Sisi menghubungi Coky.
"Dia berbuat rusuh. Dia mabuk."jelas Sisi.
"Haaahhh. Dia pasti akan mengamuk. Bagaimana keadaannya sekarang?"
"Dia tertidur."Sisi mempercepat laju mobilnya agar cepat sampai.
"Apa rencananya gagal?"tanya asisten Coky saat Sisi sampai kediaman Aditama.
"Jangan tanyakan itu dulu. Bantu aku memapahnya, dia berat."
Sisi dan asisten Coky membawa Rain kekamar nya. Coky lalu membuka sepatu dan kancing baju Rain agar dia mendapatkan udara. Sisi yang kelelahan menjatuhkan badannya ke bangku samping ranjang Rain. Dia menghembuskan nafas panjang.
"Apa yang terjadi? Apa kau gagal?"tanya Coky penasaran.
"Entahlah. Dia menggila menghajar habis-habisan orang-orang itu. Dia kalap."jelas Sisi dengan nafas masih terengah.
Asisten Coky mengernyitkan dahi "inikan belum tanggal kejadian itu"katanya dalam hati.
"Kau jaga dia sebentar. Aku akan pergi kesana menyelesaikan semua. Hubungi aku kalau terjadi sesuatu diluar kendali."kata asisten Coky berpesan lalu meninggalkan Sisi pergi.
__ADS_1
"Luna kau dimana?"tanya Sisi yang ingin Luna menggantikan dia menjaga Bosnya.
"Aku dimarkas."jawab Luna. "Ada apa?"
" Senang sekali kau. Tidak ada. Aku hanya ingin meminta tolong tadinya."
"Kau sedang bertugas?"
"Iya."
"Jalankan tugas mu dengan baik."
Sisi terkejut melihat bosnya yang tiba-tiba bangun beranjak dari tempat tidurnya, dia segera menutup panggilan di smartwatch nya.
"Ada yang anda inginkan tuan?"tanya Sisi.
Rain lalu menoleh ke arah Sisi dan berjalan mendekatinya "Kau. Wajahmu memang menarik tapi jangan kau biarkan mereka menyentuhmu apalagi melihat bagian ini"dia menunjuk dada Sisi.
Yah dress yang dipakai Sisi malam ini cukup seksi karena memang dia ditugaskan agar target Rain terpancing. Sisi tertunduk malu, mana bisa dia menutupi dadanya yang memang sudah besar dari sananya.
Rain melepas jasnya dan melemparnya ke badan Sisi. "Pulanglah. Aku sudah tidak apa-apa."perintahnya.
Sisi membungkuk "terimakasih tuan" lalu pergi.
Rain menuju kamar mandi dan menyalakan kran air. Diguyurnya semua badannya. Diingatnya kejadian yang dilihatnya tadi.
"Beraninya mereka menyentuh orangku"dendamnya dalam hati.
Cara berpakaian Sisi malam ini memang membuat darah lelaki mana pun akan berdesir melihatnya. Kini Rain juga sedang merasakan hal yang sama.
Saat dihalaman luar Sisi bertemu asisten Coky.
"Sudah mau pulang?"asisten Coky bertanya.
Sisi menganguk. "Sudah selesai?"tanya Sisi balik.
"Iya. Mau kuantar?"
"Boleh"
πΎπΎ
__ADS_1