
Hari berikutnya.
Rain membawa Sisi mengendarai mobilnya berdua saja menjauh dari keramaian kota melewati jalan panjang yang masih penuh dengan hutan sisi kanan dan kirinya. Setelah ada enam jam perjalanan tibalah mereka di sebuah villa yang lumayan cukup besar. "Villa Bougenville" tertulis di gerbang sebelum mereka masuk. Rain lalu memarkirkan mobilnya ke garasi.
"Selamat datang Tuan." Sapa lelaki paruh baya. Rain pun menganggukakan kepala.
"Paman Sam dia Sisi temanku. Dimana nenek paman?"tanyanya.
"Ditanam belakang Tuan."Sam mengangguk. Rain pergi meninggalkan Sisi begitu saja.
"Apa-apaan laki-laki itu. Apa dia lupa jika membawa aku kesini juga?!" Sisi menggerutu dalam hati.
"Silahkan masuk ke dalam Nona."suruh Sam.
"Tidak usah paman. Saya akan menunggu disini."jawab Sisi dengan sedikit membungkukkan badan.
Sam yang mendengarkan mengernyitkan dahi. "Apa Nona belum tahu?"Sam bertanya dengan ragu.
"Maaf. Tau apa ya paman?"tanya Sisi tak mengerti.
Sam menggeleng-gelengkan kepalanya. "Ayo masuk dulu nak sambil saya ceritakan."ajak Sam.
Sisi pun menuruti perkataan paman Sam karena tak tau apa-apa.
"Ini adalah kediaman Tuan Rain juga. Villa Bougenville adalah kediaman rahasia tuan Rain yang tidak diketahui siapapun kecuali saya, istri saya dan orang yang dibawa Tuan Rain. Siapapun yang dibawa Tuan Rain berarti sudah dipercaya olehnya."jelas Sam. Sisi mengangguk mengerti.
"Silahkan duduk." Sam mempersilakan Sisi. Sisi pun duduk.
"Nyonya Ratna Aditama adalah nenek Tuan. Beliau sebenarnya selamat dan masih hidup dari kecelakaan mobil yang menimpa mereka. Tapi dia disembunyikan disini dan hanya berita kematiannya saja yang tercatat."cerita Sam. Sisi sedikit terkejut. Memang informan yang bernama Roy waktu itu juga mengatakan hal yang sama namun dia tidak menyangka jika nyonya Ratna sebenarnya memang masih hidup.
"Jauh sebelum orangtua Tuan Rain meninggal mereka sering datang kesini secara rahasia dan berkunjung sebagai tamu saya. Karena kepemilikan tanah villa Bougenville ini atas nama saya agar tak dicurigai orang lain."ucapnya.
__ADS_1
"Oh jadi begitu. Maaf karena selama ini saya tidak tahu dan saya hanya asisten sementara untuk menggantikan asisten Coky yang sedang terluka."jelas Sisi. Sam mengangguk-angguk mengerti.
"Apa Nona tidak membawa barang bawaan? Biar saya bantu simpan."tanya Sam.
"Apa? Aku tidak membawa apa-apa paman. Aku kira tuan Rain tidak akan lama."jawab Sisi.
Sam mengernyit ragu lagi. "Nona sepertinya anda belum tahu juga..."belum juga Sam selesai bicara Rain sudah memanggilnya.
"Paman Sam. Tolong bersihkan kamar ayah dan ibu untuk Sisi tidur malam ini."perintah Rain.
Sam menoleh ke Rain lalu mengangguk "baik Tuan". Sam lalu pergi untuk membersihkan kamar yang dimaksud.
Rain mendorong kursi roda neneknya dengan seorang perempuan disampingnya.
Sisi yang melihatnya lalu berdiri dan memberi salam "halo selamat sore, saya Sisi."
"Duduklah nak."perintah nyonya Ratna dengan melambaikan tangannya.
Sisi sedikit tersipu mendengarnya.
"Terimakasih nyonya atas pujiannya."ucap Sisi.
"Apa Rain selalu menyusahkan mu saat berkerja? Dia memang seperti itu. Sangat keras. Aku harap kau tidak sering sakit hati."nyonya Ratna berkata dengan senyum lebar.
"Apa yang nenek bicarakan ini? Aku kan atasannya."sela Rain.
"Kau jangan terlalu keras kepada semua karyawan mu. Atau mereka akan pergi meninggalkan mu."nyonya Ratna menatap Rain.
"Tidak nyonya. Tuan Rain tidak sebegitu jahatnya kok."tukas Sisi yang merasa serba salah. Lagi pula mana bisa juga aku kabur darinya, katanya dalam hati.
"Tuan kamarnya sudah siap."teriak Sam memberi tahu.
__ADS_1
"Baiklah. Sisi ikuti bibi Susan."perintah Rain. Sisi mengangguk dan mengikuti bibi Susan menuju kamar yang dimaksud.
"Apa Nona tidak membawa baju ganti?"tanya Susan setelah sampai di dalam kamar.
"Baju ganti? Ah aku tidak membawanya. Aku tidak membawa apa-apa kesini. Aku kira tuan Rain tidak akan bermalam di sini."jawab Sisi.
"Ah baiklah kalau begitu. Mari, sepertinya disini masih ada baju tidur peninggalan mendiang nyonya Fariska. Nah ini, gunakan untuk baju ganti malam ini. Agar nyaman jika tidur."ujar Susan setelah menyingkap-nyingkap tumpukan baju. Sisi mengangguk dan menerima bajunya.
"Jika ingin menggunakan yang lain Nona ambil saja sendiri disini ya. Anggap seperti berada di rumah sendiri."kata Susan.
"Baik bibi. Terimakasih."ucap Sisi.
"Saya keluar dulu. Saya akan memasak untuk makan malam nanti."katanya lalu pergi meninggalkan Sisi. Sisi mengangguk.
"Apa mereka tidak tahu aku ini sebenarnya siapa dan pekerjaan ku seperti apa. Apa bos tidak bercerita kepada mereka?"Sisi bertanya-tanya dalam hati setelah Susan pergi meninggalkan kamar. Dia lalu tak mempedulikannya. Dia melihat kamar mandi lalu menuju kesana untuk membersihkan diri dan ganti baju.
"Haah segarnya. Setelah perjalanan yang begitu jauh."kata Sisi sambil meregangkan badan. Suasana yang nyaman dan tenang membuat dia merasa mengantuk.
"Hoam. Kenapa aku sudah ngantuk masih petang begini."gumamnya sambil terkantuk. Suara ketukan pintu terdengar dari luar membuat Sisi tersadar lagi.
"Nona ayo makan malam bersama."kata Susan dari luar setelah mengetuk pintu.
"Ah baiklah bibi aku akan kesana."Sisi segera datang menghampiri Susan. Semua sudah menunggu di meja makan.
"Ayo nak kita makan bersama."ajak nyonya Ratna. Sisi mengangguk dan duduk bersama di meja makan. Dia merasa sangat canggung makan bersama dengan mereka. Mereka terlihat seperti sebuah keluarga. Hati Sisi sedikit terasa perih jika dia mengingat masalalunya yang sedang menumpang pada paman dan bibinya.
"Makanlah yang banyak dan jangan malu-malu."ujar Susan sambil mengambilkan makanan untuk Sisi.
"Baik bi. Terimakasih."ucap Sisi.
Setelah makan malam mereka berbincang sebentar. Sisi lalu membantu membersihkan meja makan dan membawanya ke dapur.
__ADS_1
πΎπΎ