
Hingga pada suatu malam saat Rehan ingin menanyakan tentang masalah pekerjaan dia mendengar obrolan orangtuanya mengenai penerus perusahaan Danbi corporation.
"Aku tidak ingin membeda-bedakan seorang anak Natali. Regan juga anakku. Saham akan aku bagi sama rata. Begitupula dengan properti." ucap Agustino terdengar.
"Aku bukan bermaksud membeda-bedakan. Tapi Rehan lebih kompeten dari Regan. Jika Regan tidak bisa melampaui Rehan bagaimana bisa dia akan duduk di kursi Presdir? Apa harus selalu ada Rehan disampingnya?" tukas istri Agustino. Agustino terdiam.
Rehan yang mendengar pembicaraan itu kemudian berlalu meninggalkan pintu kamar Agustino.
Saat akan masuk ke ruang kerjanya, Rehan melihat Regan yang berjalan menuju ke kamarnya.
"Kakak baru pulang?" sapa Rehan.
"Iya. Kau belum tidur?" tanya Regan sambil melonggarkan dasinya.
"Belum. Ada sesuatu yang akan ku kerjakan tapi aku masih belum tahu." jawab Rehan sambil memegang berkas.
"Boleh aku melihatnya?" Regan mengulurkan tangan. Rehan mengangguk menyerahkan berkas tersebut.
"Oh ini. Mau aku ajarkan?" tanya Regan.
"Boleh. Jika kakak tidak lelah." jawab Rehan.
"Aku masih bisa jika hanya ini." Regan tersenyum.
Rehan lalu membukakan pintu ruang kerjanya. Mereka masuk lalu Regan mengajari Rehan dengan seksama.
Dalam fikiran Rehan, "Kakak bisa semua. Hanya dia tertutupi oleh eksistensi ku."
"Sudah mengerti sekarang?"
__ADS_1
"Ah iya. Terimakasih kak."
"Jangan sungkan untuk bertanya lain kali." Regan tersenyum lalu beranjak pergi meninggalkan ruangan kerja Rehan.
"Istirahatlah. Ini sudah larut." kata Regan.
"Kakak juga. Jaga kesehatan juga." Rehan tersenyum. Regan pun mengangguk.
Lama setelah pembicaraan yang pernah Rehan dengar itu berlalu keadaan berjalan seperti biasa. Mungkin aku hanya khawatir, pikir Rehan.
Tak lama Natali Agustino sakit kritis. Lemah jantung yang ia alami membuat kesehatannya semakin parah apalagi dia terus memikirkan siapa yang akan menjadi penerus Danbi corporation sebelum ia meninggalkan dunia.
Dalam ruangan Agustino meyakinkan istrinya. "Jika kau masih ingin dan berkukuh Rehan yang harus mewarisi perusahaan Danbi maka aku akan membangun perusahaan Danbi yang lain di tanah kelahiran ku agar Regan bisa menjadi pemimpinnya disana." ujar Agustino.
Lagi-lagi pembicaraan itu terdengar oleh Rehan yang sedari tadi sudah masuk ruangan Natali di rawat.
"Jangan memberatkan putra mu Natali. Jika kau ingin pergi dengan tenang, lepaskanlah semua. Biarkan yang disini kami yang mengurus. Kau berkukuh ingin Rehan yang menjadi pemimpinnya lalu bagaimana jika anak itu sendiri tidak mau? Kau akan memaksanya?" tanya Agustus kembali.
Natali terdiam. Benar apa yang dikatakan suaminya, ketakutannya membuatnya berfikir egois. Dengan serakahnya dia ingin memonopoli anaknya untuk meneruskan keinginannya. Padahal anak itu sendiri punya pilihan untuk hidupnya sendiri.
"Kau benar. Aku sangat egois karena ketakutan ku. Baiklah kita bicarakan ini kepada mereka. Ajak mereka berkumpul besok." ujar Natali. Agustino pun mengangguk memenuhi permintaan istrinya.
Rehan terdiam, dengan perlahan dia kembali pergi dari ruangan Natali di rawat. Saat berjalan menyusuri lorong rumah sakit dia selalu memikirkan apa yang dikatakan orangtuanya.
"Aku belum ada niat untuk menjadi pemimpin Danbi, setelah mendengarnya beberapa kali aku malah tak berniat sama sekali." katanya dalam hati.
Sesuai permintaan Natali keesokan harinya anak-anak Agustino berkumpul. Mereka melakukan pembahasan tentang saham, properti dan hak untuk perusahaan Danbi di dampingi oleh notaris dan pengacara kepercayaan Natali.
"Saham yang aku miliki akan aku bagi dua untuk Rehan dan Regan. Tidak termasuk saham yang dimiliki oleh Armana Agustino." ucap Natali dengan lemah.
__ADS_1
"Sedang untuk properti yang aku miliki sendiri diluar dari milik ayah dan ibu, sudah aku berikan atas nama kalian kepada pak notaris." kata Natali lagi sambil memberi jeda dalam bernafas nya.
"Lalu untuk kedepannya, penerus kepemimpinan Danbi, ibu berharap Rehan yang memegangnya. Namun ibu juga tidak keberatan jika Regan mau menunjukkan kompetensinya untuk perusahaan." ujar Natali menatap anaknya bergantian.
Rehan menatap Regan, takut jikalau kakaknya itu sakit hati dengan pernyataan ibunya.
Namun dengan tersenyum Regan menjawab pernyataan ibunya, "Tenang saja ibu. Meski aku tidak akan menjadi pemimpin perusahaan Danbi disini. Aku akan coba membangun perusahaan Danbi milikku sendiri di kota kelahiran ku. Aku ingin menunjukkan kepada orang-orang disana dan orang yang disebut 'ibu' ku dulu bahwa Regan anak yang pernah dibuang karena ayahnya tak punya pekerjaan yang bagus sekarang bisa menampung orang-orang untuk bekerja di tempatnya."
Natali tersenyum lebar mendengar pernyataan dan tekad Regan. Dia bangga Regan tak berkecil hati atau sakit hati karena sikapnya.
Namun hati Rehan tetap tak tenang dan gusar. Dia merasa ibunya sangat menonjolkan dirinya.
"Terimakasih kau sudah bersikap dewasa. Tetaplah jadi kakak yang baik dan terbaik." kata Natali lalu mengulurkan tangan kepada Regan. Regan pun mendekat, begitu juga Rehan dan Agustino.
Dalam pelukan mereka dan disaksikan notaris juga pengacara, Natali pergi dengan tenang. Pemakaman pun diadakan keesokan harinya.
Uraian air mata menghiasi hari pemakaman kala itu.
"Aku berjanji akan menjadi kakak yang terbaik untuk Rehan. Terimakasih sudah menyayangiku selama ini, ibu." ucap Regan sambil mengelus nisan Natali Agustino.
πΎπΎ
...^^^----------------^^^...
hola readers π
Terimakasih sudah mampir ke karya saya. Buat kalian yang sempat lihat tulisan saya tinggalkan jejak kalian dengan kasih like, kalau suka tulisan saya favoritkan juga boleh, dikasih hadiah dan vote saya lebih berterimakasih ππ. Isi kolom komentar dengan kritik dan sarannya ya untuk perkembangan dan kemajuan author. Terimakasih ππ.
enjoy the reading π€ π
__ADS_1