
"Perusahaan Aditama? Dan perusahaan milik Arbre, Arbre Effendi yang meminta bantuan mu?" tanya Regan sedikit mengernyitkan dahinya.
Sudah tahu pasti dia bahwa Aditama adalah perusahaan besar di kotanya, sedang perusahaan Arbre mungkin berada di peringkat kelima atau keenam kota ini, dia lupa. Tapi Arbre Effendi yang dia tahu terkenal karena banyak bisnis kecilnya dimana-mana, sedang yang orang lain lihat dia hanya memiliki satu perusahaan.
"Apa masalah mereka sampai ia ingin mengakhiri kerjasama?" tanya Rehan dengan rasa ingin tahu.
"Jika kakak mau mengabulkan dua syarat ku tadi, aku akan menceritakan kepada kakak semuanya. Tapi jika tidak, sia-sia aku bercerita." jawab Rehan dengan tawarannya.
Regan menghela nafas panjang. Adiknya memang tahu cara mendesaknya untuk membantunya. "Baiklah, aku akan berikan lawyer dan juga dananya untuk mu." ujar Regan sambil tersenyum.
"Aku ingin bukti realnya."kata Rehan lagi ingin memastikan.
"Astaga.. kau ini." Regan beranjak menuju meja kerjanya lalu mengambil dompet dari saku jasnya yang tersandar di kursinya.
"Ini. Pakai untuk yang kau perlukan tadi." ujar Regan meletakkan kartu debit miliknya ke atas meja di depan Rehan.
"Soal pengacara biar sekertaris ku yang mengurusnya. Kau berikan saja nomor handphone mu." tambahnya lagi lalu mengeluarkan handphone miliknya.
Rehan pun tersenyum. Dia tahu dari dulu kakaknya menyayanginya. Setiap dia meminta bantuan pasti kakaknya selalu bersedia membantu.
"Baiklah, sudah." ujar Rehan setelah selesai melakukan scan layar handphone untuk berbagi kontak. Kemudian dia mengambil kartu yang disodorkan kakaknya. "Terimakasih banyak kakak atas bantuan mu. Aku akan berusaha segera mungkin membayarnya jika sudah ku selesaikan semuanya." ucapnya sambil tersenyum lebar.
Setelahnya kemudian Rehan menceritakan semuanya. Dari pertama dia kabur lalu bekerja menjadi mata-mata dan bodyguard sampai sekarang di minta bantuan oleh Arbre. Ada reaksi tersenyum, tertawa dan serius dari Regan menanggapi cerita adiknya. Rasanya mereka seperti sedang bernostalgia dengan masa kecilnya.
"Baiklah, jika butuh bantuan lebih besar mintalah pada ayah jangan padaku." canda Regan saat adiknya berkata ingin pulang.
__ADS_1
"Iya terserah ucapan kakak. Yang pasti aku akan menguras milik kakak dulu." jawab Rehan asal juga.
"Lakukan jika kau bisa. Jangan lupa perkenalkan calon mu kepada ku dan ayah juga." tantang Regan seraya memberikan candaan kepada adiknya lagi.
"Aku belum memutuskan." jawab Rehan sambil berlalu dari ruangan Regan.
Regan tertawa terbahak mendengar jawaban adiknya.
Setelah Rehan meninggalkan perusahaan Danbi dia mengarahkan mobilnya menuju kediaman Arbre Effendi.
"Silahkan duduk." kata Arbre di ruang kerjanya bersama Rehan.
"Untung kau menghubungi ku dulu sebelum ke perusahaan, aku sedang cuti hari ini. Aku merasa kurang sehat." jelas Arbre lalu duduk di sofa depan Rehan.
"Tidak perlu. Aku masih waspada jika masih ada mata-mata Candra berjaga di sekitar sini." tolak Arbre.
"Nona berkata ingin kembali ke rumah." kata Rehan.
Arbre terdiam sejenak. "Jika sudah tidak ada gerakan dari Candra aku akan biarkan dia pulang. Apa kau keberatan menampung putriku?" tanya Arbre.
"Tentu saja tidak Pak. Putri anda juga klien saya. Hanya saja mungkin Nona akan merasa tidak nyaman tinggal di tempat saya karena apartemen saya itu kecil." ujar Rehan.
Arbre menganggukkan kepalanya mengerti. "Lalu, apa kau sudah membuat keputusan mu? Maaf jika aku mendesak." tanya Arbre untuk mendapatkan sebuah jawaban.
Rehan menghembuskan nafasnya. "Saya masih harus berfikir banyak. Tidak bisa saya putuskan sekarang. Lagi pula hal ini juga harus anda bicarakan dengan putri anda." jawab Rehan.
__ADS_1
"Dan juga, untuk menghindari Candra meletakkan anak buahnya di sekitar sini lebih lama. Lebih baik anda berhenti dulu menyelidiki kasus kematian Pak Subaki. Itu untuk kebaikan anda dan putri anda juga." imbuh Rehan.
Arbre mengangguk-anggukkan kepalanya. "Iya. Mungkin aku harus berhenti dulu karena ini juga demi kenyamanan Velicia. Dia pasti juga ingin merasakan hidup bebas dari incaran Candra." kata Arbre.
"Aku meminta tolong kepada mu bukan hanya karena aku ingin perusahaan ku terlepas dari Candra tapi karena dulu Subaki juga pernah berkata padaku, yang sebenarnya Candra inginkan sebagai istri adalah Velic." ungkap Arbre.
Rehan sedikit terkejut mendengar pernyataan yang ini. Pantas saja Arbre dan Velicia berkukuh untuk menyelidiki kasus kematian Subaki.
"Kau mungkin tidak asing bagaimana cara agar terjadi skandal antar pemilik perusahaan atau keluarganya." imbuh Arbre.
Ya, Rehan tahu cara-cara tidak asing itu. Karena dia dulu juga pernah bergelut dalam dunia bisnis perusahaan yang dimana ayahnya selalu menempatkan pengawal dan mata-mata untuk keselamatannya. Bukan hanya keselamatan fisik tapi juga keselamatan moral.
Rehan mengangguk perlahan memahami pernyataan Arbre kenapa dia ingin menikahkan Velicia dengannya. Arbre ingin perusahaan dan anaknya mendapat perlindungan yang kuat. Masih tersirat ketakutannya kalau saja Candra masih menginginkan Velicia meski sekarang sudah menikah dengan Angel.
"Akan saya pikirkan lagi. Mungkin untuk sekarang lebih baik anda temui dulu Nona Velicia. Dan juga anda perlu membicarakan maksud anda dengan Nona dulu. Akan saya antar." ujar Rehan agar Arbre tak kalut dalam masalah ini terus.
πΎπΎ
...^^^----------------^^^...
hola readers π
Terimakasih sudah mampir ke karya saya. Buat kalian yang sempat lihat tulisan saya tinggalkan jejak kalian dengan kasih like, kalau suka tulisan saya favoritkan juga boleh, dikasih hadiah dan vote saya lebih berterimakasih ππ. Isi kolom komentar dengan kritik dan sarannya ya untuk perkembangan dan kemajuan author. Terimakasih ππ.
enjoy the reading π€ π
__ADS_1