
"Ah kau benar. Tapi jika baju yang kau pakai masih kurang hangat aku akan memberi tahu mereka untuk menyediakan nya." ujar Rehan lalu membuka sweater yang ia kenakan tinggallah dia yang hanya mengenakan t-shirt tebal.
"Pakai juga ini." serah nya kepada Velicia. Velicia menerima lalu memakainya.
"Astaga.. hahaha.. besar sekali." gelak nya yang melihat baju Rehan kebesaran di tubuhnya.
Rehan pun ikut tertawa. "Sudah pakai saja. Dari pada nanti kamu kedinginan." kata Rehan.
Velicia mengangguk, "Emmm.."
"Kau tidak risih setiap hari ada yang memperhatikan?" tanya Velicia yang melihat ada beberapa orang sedang berdiri mematung layaknya seorang patung sungguhan.
"Siapa? Mereka? Aku sudah terbiasa. Bahkan aku menganggap mereka tidak ada." jawab Rehan enteng.
Dirumahnya, ayah Velicia hanya akan menempatkan pengawal jika ia menyewanya. Itu pun jika dirasa dalam keadaan tidak aman seperti waktu kemarin saat penyelidikan kematian Subaki dan ancaman dari Candra.
"Sepertinya semakin malam semakin dingin. Ayo kita masuk sekarang." ajak Rehan yang kini mulutnya mengeluarkan uap setiap ia berbicara.
"Iya, ayo." Velicia pun setuju karena sekarang kini rambut dan telinganya sudah seperti mau beku.
"Istirahatlah yang nyenyak." ucap Rehan setelah mengantar Velicia sampai depan pintu kamar. Velicia pun menanggapi dengan mengangguk.
"Astaga kalian anak muda. Sudah hampir tengah malam masih belum tidur juga." suara Agustino yang sedang berjalan menuju arah mereka mengagetkan keduanya.
"Ah maaf, saya istirahat dulu." pamit Velicia yang gugup lalu menutup pintu kamarnya.
Rehan mencelos melihat kelakuan ayahnya itu. "Kenapa ayah ini senang sekali melihat orang lain dalam keadaan tertekan."
"Apa? Ayah kan hanya memperingatkan, agar dia tidak tidur terlalu larut. Memangnya kalian tidak lelah seharian ini terbang dan sekarang malah jalan-jalan."
"Ayah tahu dari mana kami sedang jalan-jalan?"
"Kau pikir apa tugas mereka berdiri di sana?" Agustino mulai berjalan menjauh dari depan pintu kamar Velicia.
"Aku mencari mu dari tadi, tapi katanya kau sedang jalan-jalan jadi aku menunggu mu." Agustino berjalan menuju ke arah ruang kerjanya.
__ADS_1
"Ayo ikut, ada banyak yang ingin ayah bicarakan." tuntut nya.
Rehan menghela nafasnya panjang, ia menurut mengikuti langkah ayahnya dari belakang dengan raut tak bersahabat.
Pagi-pagi..
Jam sarapan mereka bertiga berkumpul di atas meja yang sama. Keheningan menyelimuti ruangan itu. Bahkan pelayan dan pengawal yang berdiri di belakang pun seolah tak terlihat dan tak ada.
Velicia sedikit melirik Rehan yang duduk di sampingnya dengan ujung matanya, laki-laki itu terlihat biasa saja dan lahap dalam makannya, dia juga mencuri pandang pada yang empunya rumah, tentu saja sama lahapnya.
Hanya Velicia yang makan dengan penuh beban disini dan rasanya entah benar atau tidak dia mengunyah makanannya. Untung saja habis, jika tidak mungkin saja juru masak di rumah ini akan sedikit kecewa.
"Ayah berangkat kerja dulu, jika kau ada waktu mainlah ke kantor." pamit Agustino.
"Iya selamat bekerja Ayah, dan juga kantor bukan untuk tempat main setahuku." jawab Rehan enteng. Velicia yang mendengar jawaban dari Rehan sedikit membolakan matanya. Dia tak percaya Rehan bisa menjawab orang tuanya di depan orang lain.
"Ck, anak ini." gerutu Agustino lalu pergi melangkah.
Selepas kepergian Agustino peralatan makan dan semua yang tersedia di meja makan dibersihkan.
Velicia memiringkan kepalanya, "lama?".
"Sekitar satu sampai dua minggu." Rehan diam sejenak.
"Ada yang harus aku urus dan selesaikan dulu disini sebelum kita kembali lagi." lanjutnya.
Velicia menganggukkan kepalanya, "emmm."
...* * *...
"Ya dia menyebalkan sekali. Kakak akan kesini kan? Aku sudah tak sanggup lagi jika harus berdebat." kata Rehan dalam percakapan telepon.
"Mm.. iya, padahal aku berkata padanya hanya dua sampai tiga hari."
"Iya aku harap kakak segera datang."
__ADS_1
"Tuut.." panggilan pun berakhir.
Malam pun menggiring matahari untuk bergeser hingga berganti hawa dingin yang menyelimuti belahan bumi tersebut.
"Ingin jalan-jalan malam?" tanya Rehan setelah selesai makan malam bersama Velicia.
Malam ini ayahnya belum pulang, sepertinya masih sibuk dengan urusan pekerjaannya.
"Pelayan sudah menyediakan baju yang lebih hangat untuk mu kan?" tanya Rehan lagi.
"Ah iya, sudah." jawab Velicia.
"Aku ingin mengajak mu keluar malam ini. Jalan-jalan sambil mencerna makanan." usapnya pada perutnya sendiri. Velicia mengangguk hanya menurut. Karena dia juga tidak tahu harus apa dan melakukan apa di rumah itu.
Rumah yang seluas mansion namun juga seperti kastil karena banyak ruangan tersendiri dan terpisah. Bangunan bak model kerajaan dengan atap menara menjulang tinggi.
"Aku akan bersiap dulu." ujarnya lalu berjalan ke arah kamarnya. Tak lama ia keluar dengan mengenakan baju hangat yang lebih tebal lengkap dengan beanie berbahan wol dan sarung tangan.
Rehan yang melihat penampilan Velicia terkekeh sebentar, "heheheh.. kau terlihat berisi jika seperti itu." ujarnya.
Velicia tersenyum dengan pipi merona mendengarnya, "maksud mu aku terlihat gendut?"
"Tidak, kau terlihat cantik." kata yang lolos begitu saja. Bukan untuk menyanjung atau pun menggombal hanya kejujuran dari sebuah tatapan. Rehan pun sedikit canggung dengan apa yang dikatakannya barusan, ia mengusap tengkuknya lalu mengalihkan pandangannya.
"Ayo. Sebelum lebih malam dan ayah datang, kita pasti akan kena ceramah." ajaknya agar kecanggungan tak terjadi lama.
πΎπΎ
...^^^----------------^^^...
hola readers π
Terimakasih sudah mampir ke karya saya. Buat kalian yang sempat lihat tulisan saya tinggalkan jejak kalian dengan kasih like, kalau suka tulisan saya favoritkan juga boleh, dikasih hadiah dan vote saya lebih berterimakasih ππ. Isi kolom komentar dengan kritik dan sarannya ya untuk perkembangan dan kemajuan author. Terimakasih ππ.
enjoy the reading π€ π
__ADS_1