
Selang berapa lama sebuah mobil hitam tiba dengan dua orang keluar berpakaian formal menghampiri mereka. Mereka menyapa Rehan kemudian bercakap dengan bahasa asing yang juga dimengerti oleh Velicia.
"Ayo." ajak Rehan lalu meraih tangan Velicia.
Mereka kemudian pergi meninggalkan restoran. Kini mereka sudah berada di luar sebuah bangunan yang luas seperti mansion namun terlihat berbentuk seperti kastil.
"Dengar. Apapun yang terjadi nanti, tolong kuatkan telinga mu." ujar Rehan kepada Velicia sebelum turun dari mobil.
"Dan juga hatimu." imbuhnya.
Jantung Velicia malah berdegup kencang mendengar peringatan Rehan. Dia takut akan segala sesuatu yang buruk akan terjadi. Meski sudah tahu dari Belleza bagaimana sikap Agustino calon mertuanya itu dan bagaimana cara menghadapinya, tetapi dia juga merasa sedikit gugup dan takut.
Rehan dan Velicia turun dari mobil, mereka berjalan di belakang dua orang yang menjemputnya tadi. Di depan sana pintu utama kediaman Agustino terbuka lebar dan beberapa asisten rumah tangga menyambut menundukkan kepala mereka.
Velicia terlihat terkagum dengan situasi saat ini. Rehan benar-benar bukan orang biasa.
Bangunan yang mirip seperti kastil itu kini terlihat dengan jelas megahnya. Matanya kini malah mengedar mencari kekaguman yang lain.
Rehan meraih tangannya dan menggenggam jemarinya, membuatnya tersadar dari kesibukannya sendiri.
Di dalam ruang utama nampak sosok berdiri tegak, sepertinya sudah sedari tadi memperhatikan kedatangan mereka.
"Ayo." ucap Rehan lalu menuntun Velicia untuk masuk.
"Selamat datang." sambut Agustino sebelum Rehan mengucapkan kata-kata yang nanti akan bisa ditebak olehnya.
"Ayah.." ucap Rehan. "Aku pulang." sambungnya.
"Aku lihat." ucapnya lalu merentangkan kedua tangannya menyambut sang anak agar datang ke pelukannya. Rehan pun tahu maksudnya, dia melepas genggamannya pada Velicia lalu menghamburkan diri ke pelukan sang ayah.
"Maaf merepotkan mu selama ini. Terimakasih sudah menjaga ku." ucapnya dalam pelukan ayahnya. Velicia yang melihat momen itu terharu dan matanya berembun.
__ADS_1
"Sudahlah." Agustino menepuk-nepuk punggung anaknya itu lalu kemudian melepaskan pelukannya.
"Ayo masuk." ajaknya lalu kemudian menatap ke arah Velicia. Rehan mengulurkan tangannya ke arah Velicia, Velicia pun menghampirinya.
"Ini Velicia. Dia calon istri ku." ucap Rehan memperkenalkannya kepada Agustino.
"Cantik." kata Agustino setelah meneliti pandangannya dari atas sampai bawah.
"Terimakasih." ucap Velicia sambil menganggukkan kepalanya.
"Kau menyebutnya calon istri, tapi kau belum melamarnya kan?" ujar Agustino.
"Ayah.." ucap Rehan.
"Kau harus melakukan sesuai prosedur, lamar dulu dia baru katakan kalau dia calon istri mu." imbuh Agustino yang tak ingin ucapannya terhenti oleh Rehan.
Velicia yang mendengar pernyataan calon mertuanya itu ingin rasanya tertawa tapi dia tahan dengan tersenyum lebar.
"Ayo kita duduk. Tidak sopan membiarkan tamu untuk berdiri terus." undangnya kepada Velicia. Velicia pun mengangguk mengikuti Agustino berjalan dari belakang bersama Rehan.
"Ambilkan minum dan camilan, lalu siapkan kamar tamu." titah Agustino kepada pelayan rumahnya setelah ia duduk di kursi.
"Duduklah." titahnya lagi kepada Rehan dan Velicia. Kemudian mereka melakukan percakapan yang sebenarnya sedikit menjurus ke perbincangan yang lumayan lama.
Hampir Velicia dibuat kaku dan kikuk untuk menjawab setiap pertanyaan yang diajukan oleh Agustino. Benar kata kakak iparnya, Agustino sangat protektif. Setiap pertanyaan yang keluar seperti nada interogasi dalam penyelidikan, untungnya dia terbantu oleh Rehan yang ikut membantunya menjawab pertanyaan.
"Kalian benar-benar serius, satu sama lain saling melindungi." ujar Agustino di final percakapannya.
Malam harinya..
Rehan mengetuk pintu kamar dimana Velicia tinggal.
__ADS_1
"Butuh sesuatu? Bagaimana dengan kamarnya, apakah nyaman?" tanya Rehan setelah Velicia membukakan pintu.
"Emm..iya. kamarnya sangat nyaman. Pelayanannya juga bagus, aku merasa seperti tinggal di hotel." jawab Velicia lalu tertawa kecil.
"Semua sudah disediakan oleh pelayan, jika butuh sesuatu aku juga disuruh menghubungi mereka. Jadi aku tidak kekurangan apapun." imbuhnya lagi.
"Syukurlah." ucap Rehan.
"Ingin jalan-jalan?" tawarnya.
"Boleh." Velicia menganggukkan kepalanya.
Kemudian Rehan mengajak Velicia berjalan mengelilingi mansion milik ayahnya dengan mengobrol sambil menunjukkan setiap sisi ruangan dan tempat apa saja yang ada di sana. Hingga mereka kini berakhir di sebuah taman yang ditumbuhi rumput kecil-kecil dan beberapa hamparan batu koral di sisi jalan yang berlantai batu alam yang mengarah ke kolam kecil.
Di sekeliling kolam terpasang keramik model batu alam yang menonjol. Ini seperti biasa dipakai untuk pesta barbeque, dalam pikiran Velicia.
"Disini dingin ya." kata Velicia yang merasakan hembusan angin menerpa tubuhnya. Dia mengeratkan pelukan tangannya sendiri sambil sesekali mengusap hangat.
"Ah karena sekarang memasuki musim gugur jadi udara memang dingin. Apa kau tidak membawa baju hangat atau baju yang lebih tebal lainnya?" tanya Rehan yang lupa untuk memberitahu Velicia jika sekarang ini memasuki musim gugur di tempat kelahirannya ini.
Velicia menggelengkan kepalanya. "Aku hanya membawa dua sweater dan satu jaket yang kupakai saat datang kemari." jawab Velicia jujur.
"Kau kan berkata hanya akan dua atau tiga hari berada di sini." imbuhnya lagi.
"Ah kau benar. Tapi jika baju yang kau pakai masih kurang hangat aku akan memberi tahu mereka untuk menyediakan nya." ujar Rehan lalu membuka sweater yang ia kenakan tinggallah dia yang hanya mengenakan t-shirt tebal.
πΎπΎ
...^^^----------------^^^...
hola readers π
__ADS_1
Terimakasih sudah mampir ke karya saya. Buat kalian yang sempat lihat tulisan saya tinggalkan jejak kalian dengan kasih like, kalau suka tulisan saya favoritkan juga boleh, dikasih hadiah dan vote saya lebih berterimakasih ππ. Isi kolom komentar dengan kritik dan sarannya ya untuk perkembangan dan kemajuan author. Terimakasih ππ.
enjoy the reading π€ π