
Sisi mengerjapkan matanya. Dibangunkannya dengan perlahan badannya. Sekarang rasa nyeri pada bagian tubuhnya baru benar-benar terasa. Rahangnya sedikit kaku dan pergelangan tangannya juga memar memerah.
"Hah?" dia terkejut melihat badannya yang dibalik selimut hanya berbalut handuk. Seketika dia teringat jika tadi dia sedang mandi dan tertidur di kamar mandi. Lalu bagaimana dia bisa diatas kasur, pikirnya. Dia segera menuju lemari baju dan dicarinya baju panjang yang bisa menutupi tanda merah di sekujur tubuhnya. Dia melihat-lihat dirinya di depan cermin memastikan lehernya tertutup oleh kerah baju.
"Klek"suara pintu terbuka. Dilihatnya Rain masuk ke dalam kamar. Rain yang melihat Sisi sudah bangun merasa canggung begitu juga dengan Sisi.
Dengan ragu Sisi bertanya, "ada apa Tuan? Ada yang bisa dibantu?".
Rain menatap Sisi yang bertingkah seolah tidak pernah terjadi apa-apa.
"Kau sudah bangun ternyata. Nenek menunggumu di taman. Dia ingin bicara."kata Rain lalu keluar kamar dan menutup pintu lagi.
Sisi menghembuskan nafas panjang, "ada apa lagi ini?". Dia lalu keluar kamar pergi untuk menemui nyonya Ratna.
"Kemari lah."kata nyonya Ratna melambai pada Sisi yang datang menghampirinya. Sisi mengangguk dan duduk di bangku kecil taman.
"Aku sudah dengar dari Rain semua tadi."nyonya Ratna memulai pembicaraannya.
"Aku sudah memperingatkan mu agar tidak mendekati dia semalam. Kamu tahu kan akibatnya jika kamu memaksa."
Sisi tertunduk mendengar perkataan Ratna dia merasa dirinya bersalah. "Maafkan saya nyonya."ucapnya.
Ratna mendorong kursinya mendekati Sisi, "jangan meminta maaf. Kau tidak bersalah justru kau lah korbannya."Ratna memegang tangan Sisi.
"Aku tak menyangka cucuku bisa sampai kehilangan kendali atas dirinya. Kau tidak apa-apa nak?"Ratna mengangkat wajah Sisi perlahan.
"Ash. Hanya memar sedikit nyonya."kata Sisi sambil meringis kecil.
"Sudah diobati?" tanya Ratna yang juga melihat luka memar di rahang bawah Sisi. Sisi menggelengkan kepalanya.
__ADS_1
"Makan dulu saja. Nanti setelah makan baru diobati. Kau baru saja bangun dan belum makan dari tadi pagi."ujar nyonya Ratna. Sisi mengangguk sambil tersenyum.
"Susan ajak Sisi makan. Biar aku sendirian disini."kata Ratna pada Susan.
"Baik nyonya."
...* * *...
Ratna meminta Rain mengantarkan kotak p3k dan meminta dia agar mengobati Sisi. Dia memberi tahu untuk mengoleskan salep pada bagian yang luka. Dengan gontai Rain menuruti perintah neneknya. "Jangan lupa untuk meminta maaf padanya. Untuk yang lainnya berlakulah yang bijak jangan sampai merugikan dirinya."ucap neneknya.
"Iya nek aku mengerti. Biar aku selesaikan sendiri untuk yang itu."kata Rain meninggalkan neneknya sambil menenteng kotak p3k. Diam-diam dia memikirkan harus bagaimana caranya membicarakan semua ini.
Sampai didepan pintu kamar Sisi dia mengetuk pintu. Sisi membuka pintu kamarnya. Rain lalu masuk begitu saja. "Duduklah."perintahnya sambil meletakkan kotak p3k di atas ranjang. Sisi duduk dengan menurut.
Rain mengambil salep yang neneknya tunjuk tadi. Dia mengangkat wajah Sisi dan diolesnya pada bagian yang luka.
"Diamlah."tolak Rain. "Ada bagian lain yang terluka?"tanya Rain yang masih mengoleskan salep.
Sisi lalu memperlihatkan kedua pergelangan tangannya. Rain menyingkap lebar lengan baju Sisi. Ternyata selain bekas memar dipergelangan tangan ada bekas tanda merah di lengan bagian bawahnya itu. Rain mengusap sekilas tanda merah itu lalu mengoles salep pada bagian yang memar.
"Maaf, sudah membuatmu terluka dan banyak noda seperti ini di tubuhmu."ucap Rain sambil mengusap tanda merah di tangan Sisi yang satunya lagi.
Tak disangka seorang Bosnya yang biasa bersikap dingin, memberi perintah dan mengomel meminta maaf padanya.
"Tidak apa tuan. Lagipula saya juga sudah menjadi milik tuan."kata Sisi. Rain tersentak mendengar perkataan Sisi.
"Tuan kan sudah membeli saya."sambung Sisi. Mata Rain terbelalak menatap Sisi.
"Apa kau juga akan diam saja jika diperlakukan seperti semalam oleh laki-laki lain yang membeli mu jika itu bukan aku?" tanyanya sedikit marah. Sisi terkejut dengan pertanyaan Rain. Dia bingung harus menjawab bagaimana.
__ADS_1
Rain lalu memegang dagu Sisi dan mengatupkan bibirnya pada bibir Sisi. Sisi terkejut dengan perlakuan Rain.
"Apa kau juga akan diam saja jika orang lain yang menyentuh mu?"Rain menatap lekat muka Sisi.
"Ti.. tidak tuan. Saya.. tidak akan diam.. saja."jawab Sisi dengan gagu.
"Tolong.. beri.. sedikit jarak." Sisi mendorong pelan Rain untuk mundur.
"Dengar baik-baik. Jangan diam saja jika laki-laki lain menyentuh mu."pesan Rain dengan nada mengintimidasi. Sisi mengangguk dengan takut.
Rain meletakkan kotak p3k di atas meja nakas. Dia lalu merebahkan tubuhnya di atas kasur samping Sisi. Di tatapnya Sisi yang masih terduduk di samping ranjang memunggunginya.
"Dia memang seperti magnet yang kuat. Rasanya ingin sekali aku menyentuhnya."pikir Rain. "Rasanya ingin terus berada disisinya." katanya dalam hati.
"Kau tidak akan tidur? Ini sudah malam."tanya Rain. Sisi yang mendengar pertanyaan Rain kebingungan untuk menjawabnya.
"Mm.. apa tuan akan tidur disini?"Sisi bertanya dengan hati-hati.
"Iya. Kamar ku baru saja dibersihkan. Masih belum hilang bau wine disana."Rain menjawab dengan cepat.
"Kalau begitu. Saya akan tidur diluar, tuan silahkan tidur disini."kata Sisi lalu beranjak dari ranjang.
"Kau ingin aku dimarahi nenek?! Membiarkan perempuan tidur di luar."teriak Rain spontan.
"Tidurlah. Aku tidak akan melakukan apapun seperti kemarin malam."perintahnya pada Sisi.
Sisi yang terkejut lalu mengangguk. Dia merasa canggung dan malu. Ada apa dengan bosnya yang biasa bersikap dingin dan banyak mengkritik itu hari ini tiba-tiba berubah. Dengan ragu Sisi membaringkan tubuhnya di atas kasur yang sama dengan Rain. Dia tidur memunggungi Rain.
πΎπΎ
__ADS_1