
"Lalu bagaimana kakak diperkenalkan kepada ayah kak Regan?" Velicia mengungkapkan penasarannya.
"Ayah Agustino sudah tahu tentang tradisi kencan buta atau perjodohan di negara kita ini, apalagi beliau kan juga aslinya dari sini. Saat itu Regan langsung mengenalkan kakak..."
Belleza mengingat kenangannya kala dulu.
"Ayah, dia calon istri ku. Kami akan menikah beberapa bulan lagi." ujar Regan yang baru sampai di kediaman Agustino.
Sang ayah kala itu menyambutnya dengan beberapa pelayan. Raut terkejut sedikit tersirat di wajah laki-laki tua itu.
"Kau baru sampai lalu mengumumkan tentang pernikahan, aku kan belum mengenal siapa calon menantu ku. Ayo masuk dulu." ujar Agustino.
"Aku datang untuk memberitahu ayah, lagipula ayah kan pernah berpesan 'jika tidak serius jangan bermain ke rumah orang tua perempuan atau sebaliknya'. Aku sangat serius kepadanya. Jika ayah tidak merestui aku tidak akan membawa gadis ini masuk." ujar Regan masih berdiri di ambang pintu.
Agustino menghembuskan nafasnya panjang. "Jika aku tidak merestui mu apa yang akan kau lakukan?" tantang Agustino.
"Aku akan berbalik sekarang dan akan melajang seumur hidup." jawab tegas Regan. Belleza yang berada di sampingnya membolakan matanya menatap ke arah Regan.
Agustino menghela nafas panjang, tentu saja tidak bisa menolak keinginan Regan, karena hanya Regan anak yang sekarang ini patuh dan menemaninya. Sedang Rehan, sekarang sedang asyik dengan kehidupan kaburnya. Dia lalu menuruti keinginan anaknya itu, dia merestui hubungan Regan dan Belleza serta niat Regan untuk menikahi Belleza. Mereka lalu masuk ke dalam setelah Agustino mengucapkan restunya.
Belleza tinggal di sana tiga hari dua malam, selama itu Armana Agustino bertanya tentang macam-macam kepadanya, lebih jatuhnya seperti interogasi. Yah mungkin untuk mencari tahu kualifikasi calon menantunya.
Tentang latar belakang Belleza tentu Agustino tidak menolak meski dia sebenarnya ia tidak keberatan jika status perempuan lebih dibawah dari status keluarganya, lalu tentang pribadi perempuan itu layak di puji karena bisa mengimbangi untuk bersanding dengan Regan nantinya.
__ADS_1
Pandangannya melihat Belleza sebagai anak yang anggun dan berkualitas. Anaknya itu memang tidak salah pilih, batinnya.
Tentu saja karena memang Belleza juga sangat profesional, dia tahu harus bersikap bagaimana di depan orang lain dan saat sedang sendiri. Dia juga memang sudah berkomitmen pada diri sendiri untuk urusan pasangan, seperti yang dimaksudkan Agustino, pasangan yang setia dalam keadaan apapun sampai tua nanti atau bahkan maut yang memisahkan.
Setelah yang disebut memperkenalkan calon istri selesai, Regan dan Agustino terbang ke negara tempat tinggalnya dulu dengan tujuan untuk mengutarakan niat Regan yang ingin menikahi Belleza. Ya setelah melamar Belleza kepada orangtuanya hari itu juga mereka lalu membahas tentang pernikahan, tanpa ada acara tunangan.
"Waah keren. Kak Regan langsung melamar kakak." ucap Velicia seolah takjub.
"Apa Rehan juga akan melakukan seperti yang kak Regan lakukan ya?" gumam Velicia yang terdengar oleh Belleza.
Belleza tertawa kecil, "Orang punya caranya sendiri untuk melakukan sesuatu, tapi karena mereka adik kakak sepertinya tak akan jauh caranya." Velicia pun menimpali dengan senyum yang terlihat giginya.
"Sudah malam, tidur yuk. Kapan-kapan kita bertemu lagi, kita janjian di luar untuk lebih banyak bercerita." ujar Belleza yang dia rasa obrolan mereka sudah terlalu lama dan kini dia sudah terserang kantuk. Velicia pun mengangguk setuju. Mereka membenarkan posisi lalu kemudian tidur dalam lelap.
Sementara itu di kamar lain, Rehan dan Regan juga sama sedang melakukan pembicaraan antara laki-laki.
keRegan tak mungkin pura-pura tidak tahu apa yang dimaksud dari pembicaraan Rehan karena dia tahu adiknya itu tidak bodoh. Dia memang telah menghubungi Agustino memberi kabar jika Rehan akan datang ke kediamannya membawa seorang calon istri.
"Tentu saja. Untuk jaga-jaga, aku takut Velicia tidak terbiasa dengan cara ayah menyambut tamu perempuan anaknya." tukas Regan.
"Mmm.. ternyata sifatnya masih sama saja seperti dulu." Rehan membenarkan ucapan Regan.
"Aku tahu kau orangnya keras kepala sama sepertinya, jadi saat membawa Velicia menemuinya bersikaplah berbeda. Layaknya seorang anak meminta restu." nasehat Regan.
__ADS_1
"Jika kau menuruti ego mu sama kerasnya seperti ayah, aku rasa kau tidak akan mendapatkan semua." imbuhnya lagi.
"Mmm.. terimakasih." ucap Rehan menganggukkan kepalanya.
Regan mengambil sesuatu dari dalam laci nakas samping ranjang yang mereka duduki sekarang.
"Ini." ucapnya sambil menyerahkan sebuah kunci berbentuk card. Rehan menatap benda yang kini berada di telapak tangannya lalu berganti menatap ke arah wajah Regan.
"Hadiah pernikahan mu nanti." ucap Regan sambil nyengir.
Rehan menelan ludahnya perlahan, "A penthouse ?" tanyanya tak percaya.
"Yees. Ini rumah mu setelah menikah nanti. Hadiah dari ku." ucap Regan lalu mengacak rambut adiknya itu.
"Aku tahu kau anak manja dan akan terharu dengan pemberian ku, tapi jangan menangis dihadapan ku. Malu lah sedikit karena kau akan jadi seorang pria." ucap Regan.
Rehan yang tadinya matanya berkaca-kaca kini meninju dada sang kakak, namun bukan dalam artian berkelahi. Rehan terkekeh lalu merangkul adiknya itu sambil menepuk-nepuk punggungnya.
πΎπΎ
...^^^----------------^^^...
hola readers π
__ADS_1
Terimakasih sudah mampir ke karya saya. Buat kalian yang sempat lihat tulisan saya tinggalkan jejak kalian dengan kasih like, kalau suka tulisan saya favoritkan juga boleh, dikasih hadiah dan vote saya lebih berterimakasih ππ. Isi kolom komentar dengan kritik dan sarannya ya untuk perkembangan dan kemajuan author. Terimakasih ππ.
enjoy the reading π€ π