
"Rain suka dedek bayi Sisi?" tanya sang ayah lalu mendudukkan putranya di atas sebuah kasur besar yang tersedia di sana.
Andra berperilaku di rumah orang lain seolah seperti di rumahnya sendiri, karena memang seperti itulah keakraban keluarga kecil dari pasangan suami istri itu. Arman juga ikut menghampirinya namun ia tak duduk melainkan hanya berdiri bersidekap dada.
"Suka. Dedeknya cantik, lucu." jujur Rain.
"Ingin punya adik bayi sendiri?" tanya Arman menanggapi jawaban Rain.
"Ayah mu bisa membuatnya untuk mu." tukas Arman melanjutkan perkataannya setelah ekspresi bengong Rain yang belum menjawab pertanyaannya.
"Hei kau kenapa? Dia hanya anak kecil, wajar saja kalau dia juga suka pada anak kecil. Jangan memprovokasinya ya!" ancam Andra tidak terima hanya karena Rain bilang jika dedek bayi Sisi cantik dan lucu.
"Aku tidak akan menambah anggota di keluarga kecilku. Karena dengan Rain saja Fariska harus bertaruh nyawa dengan caesar ya, kandungannya juga sangat lemah." tegas Andra. Kini kedua lelaki yang sudah menjadi ayah itu saling diam.
Fariska yang mendengar perkataan suaminya dan melihat ekspresi dari wajah Andra mulai menghampiri mereka. Takut saja jika nanti perkataan Andra menyinggung perasaan Arman jika sudah membahas tentang dirinya.
"Tidak perlu harus sampai kalian peributkan begitu. Jangan membahas sesuatu yang tidak baik Andra, lagi pula aku juga sudah tidak apa-apa." kata Fariska menyela pembicaraan dua laki-laki yang sempat di dengar olehnya.
"Maafkan saya nyonya Fariska, saya tidak tahu sebelumnya." ucap Arman dengan tulus.
"Tidak perlu merasa bersalah Arman, kau sampai kembali berbicara formal seperti itu padaku. Aku sudah tidak apa-apa, lagi pula semua orang pernah ada pada masa sulitnya. Laki-laki ini saja terlalu protektif." ujar Fariska lalu mengalungkan sebelah lengannya pada Andra yang sedang duduk itu. Tangan sebelahnya mencubit lembut dagu sang suami.
Suara ketukan pintu yang terbuka mengalihkan pandangan mereka. "Permisi, makanannya sudah siap Tuan Nyonya." kata asisten rumah tangga menginformasikan.
"Ah baiklah, kami akan segera turun." sahut Velicia yang masih berdiri di depan lemari baju bayi pada asisten rumah tangganya.
"Mari semuanya kita turun dan menikmati makanannya." kata Velicia menatap semuanya. Semua pun mengangguk. Velicia dan Fariska berjalan lebih dulu bersama Rain, sedang Armana dan Andra berjalan di belakang mereka.
"Maafkan aku, aku tidak bermaksud menyinggung mu tadi." ucap Arman pada temannya itu.
__ADS_1
"Tidak apa, itu juga karena kau tidak tahu. Aku juga minta maaf tadi bicara begitu." ucap Andra pula.
"Giska, tolong jaga Sisi ya selama kami sedang makan." ucap Velicia pada baby sitter yang sering membantunya mengurus Sisi.
Satu tahunnya Sisi..
"Maaf ya kami tidak bisa menghadirinya." kata Belleza dari layar handphone yang terhubung ke proyektor.
Dua hari lagi adalah satu tahun Sisi lahir ke dunia, dan Velicia ingin merayakan ulang tahun putrinya hanya bersama keluarga besarnya saja. Tapi ternyata kondisinya tak sesuai yang ia harapkan. Agustino jatuh sakit dan sudah di rawat dua malam di rumah sakit. Tekanan gula darah yang tinggi membuatnya terbaring lemah dan tentu membuat anak dan menantunya yang di sana sibuk mengurusnya. Alhasil mereka tidak bisa hadir.
"Iya kakak tidak apa-apa, semoga ayah lekas sembuh dan pulih. Sehat kembali seperti semula." ucap Velicia.
"Kami titip ayah ya kak." Arman menambahkan pesan terakhir. Panggilan pun berakhir.
"Terima kasih sudah mau datang di acara sederhana kami. Ini perdana untuknya jadi kami tidak membuatnya mewah takutnya dia malah ketakutan pada tamu-tamu yang hadir karena baru pertama kali melihat kerumunan." ucap Arman pada pasangan Andra dan Fariska.
Disana juga hadir rekan dan teman dari Velicia dan Arman, seperti Doni, Budi, Rendi dan juga Riska. Rendi dan Riska kini menjadi pasangan kekasih. Entah bagaimana caranya Rendi yang terkenal playboy bisa membujuk Riska untuk menjadi kekasihnya yang Velicia tahu jika Riska tidak ingin menikah di seumur hidupnya.
"Tentu saja kalau aku hadir bro." ucap Rendi.
"Kami pun sama, meski tugas kami bukan mengawasi mu lagi." ujar Doni.
"Pak teguh menitipkan sesuatu, beliau sedang dalam tugas sekarang." sahut Budi lalu menyerahkan sebuah paper bag.
"Untuk baby-nya katanya." imbuhnya. Arman menerimanya lalu mengucapkan terima kasih kepada rekan kerjanya dulu itu.
Kini apartemen itu penuh dengan orang yang akan melakukan paduan suara happy birthday untuk Sisi kecil. Acara berlangsung sederhana yang berisi tiup lilin dan potong kue selanjutnya jamuan makanan dari sang pemilik rumah.
...* * *...
__ADS_1
"Apa ini?" tanya Arman yang sedang berada di ruangan Andra. Dia hari ini di undang langsung oleh Andra yang juga rekan bisnisnya itu untuk melakukan kerjasama secara pribadi.
"Kenapa? Kau menolak?" tanya Andra. Arman tak menjawab ia masih teliti membaca file yang berisi berkas yang membuatnya sendiri tertarik.
"Lumayan lah 5%, dan kau bisa menjadi salah satu share holder disini." sambung Andra.
Armana di tawarkan untuk menjadi salah satu pemegang saham di perusahaan induk Aditama, saham yang di tawarkan itu adalah milik salah satu share holder yang sedang bekerja sama dengan Andra namun ia ingin menjualnya. Bukannya tak mampu membeli, namun Andra juga ingin mendatangkan banyak peluang dan mendapatkan banyak keuntungan dari menawarkannya pada Arman. Pasalnya Armana sangat kompeten dalam mengurusi perusahaan miliknya sekarang itu, jadi sedikit saja Andra juga ingin merasakan hasil dari kerjasama lebih dari saham itu.
"Anggap saja rejeki susulan untuk Sisi ulang tahun kemarin." Andra terus memberikan kata-kata meyakinkan.
Dengan menarik nafas dalam-dalam Arman menerima berkas itu dan berkata akan memikirkannya. Dalam hati Andra sudah tersenyum sangat senang, dia tahu jika Arman tidak mungkin menolaknya.
Beberapa bulan kemudian rapat dewan direksi dan para share holder yang memegang saham atas perusahaan induk Aditama dan anak cabang Aditama diadakan di ruang meeting utama perusahaan induk Aditama.
Betapa terkejutnya Candra saat rapat akan di mulai, ia duduk satu bangku dengan wajah yang kini tak asing baginya. Rehan Armana Agustino, kini menjadi salah satu pemegang saham perusahaan induk Aditama, benar-benar ia kini merasa sangat di bodohi oleh kakaknya. Strategi dan taktik kakaknya jauh lebih bagus dibandingkan dengan skillnya yang hanya bisa menekan dan menggertak. Dia kurang jeli untuk sesuatu yang menguntungkan dalam jangka panjang. Yang dia tahu hanya melibas tanpa memikirkan efek jangka panjangnya.
Kini rencana licik timbul lagi di benaknya. Ia kembali menghubungi teman sekaligus rekan kerjanya untuk melancarkan rencananya.
Di sebuah pusat perbelanjaan besar Velicia sedang membawa Sisi jalan-jalan. Dia ingin mengenalkan pada putrinya dunia luar yang ramai, agar Sisi terbiasa dengan banyak kerumunan. Meski Velicia sering mengajaknya keluar apartemen, yah hanya sekedar berjalan-jalan mengelilingi taman apartemen dan ke mini market atau super market terdekat, ia belum pernah mengajak Sisi untuk keluar lebih jauh dari apartemennya. Ini baru pengalaman pertama untuk Sisi, di temani dengan baby sitter dan pengawal satu orang.
"Bisa menjadi salah satu pemegang di Aditama, apa yang kau cari? Ayah mu saja sudah menjadi raksasa dengan anaknya yang berada di sini. Kau bahkan memiliki perusahaan mu sendiri." kata Candra kepada Armana secara langsung pada intinya. Saat ini mereka sedang berjalan di sebuah lorong yang mengarah ke sebuah lift.
Setelah selesai rapat Candra sengaja menunggu Arman agar bisa berbicara dengan laki-laki itu. Ia ingin memberikan tekanan agar Arman mau keluar dan tak lagi berkerjasama kakaknya.
πΎπΎ
Β hola readers π
Terimakasih sudah mampir ke karya saya. Buat kalian yang sempat lihat tulisan saya tinggalkan jejak kalian dengan kasih like, kalau suka tulisan saya favoritkan juga boleh, dikasih hadiah dan vote saya lebih berterimakasih ππ. Isi kolom komentar dengan kritik dan sarannya ya untuk perkembangan dan kemajuan author. Terimakasih ππ.
__ADS_1
enjoy the reading π€ π