
Handphonenya terus saja bergetar mengganggu ketenangannya.
Dilihatnya dari layar handphonenya panggilan masuk dari Velicia, terlihat juga sekarang sudah pukul 4:30.
Dia lalu menerima panggilan itu. "Iya halo." jawab Rehan dengan nada malas.
"Rehan kamu dimana? Apa kamu keluar? Kenapa tidak memberitahu ku lebih dulu? Aku takut sendirian di sini." ujar Velicia dari ujung telepon. Dia menghujani Rehan dengan banyak pertanyaan.
"Ah berisik sekali." kata Rehan dalam hati.
"Tenanglah Nona, saya sedang ada tugas diluar. Jangan khawatir karena saya sudah menempatkan pengawal diluar." jawab Rehan.
"Ah syukurlah." kata Velicia yang merasa lega mendengar jawaban Rehan.
"Aku hanya merasa takut sendirian di rumah orang. Tadi aku pukul tiga terbangun dan kau tidak ada di ruang depan, aku kira kau sedang berada di dalam kamar mandi jadi aku kembali ke kamar. Tapi barusan aku ke kamar mandi dan setelah keluar aku baru sadar kalau kau tidak ada di sana. Aku jadi merasa takut dan menelpon mu. Maaf jika aku mengganggu mu dalam bekerja." ujar Velicia panjang dalam obrolannya.
"Iya tidak apa. Saya akan kembali sebentar lagi." kata Rehan dalam panggilannya. Dia lalu menutup panggilannya dan kembali menyimpan handphonenya ke dalam saku.
"Haahh.." keluhnya lalu mulai menyalakan mesin mobil.
Dan di apartemen sana, Velicia ternganga. Belum juga selesai dia berbicara Rehan sudah mematikan handphonenya. Kini dia merasa jika dia benar-benar menjadi beban untuk orang lain. Dia lalu menghubungi ayahnya.
"Ayah, ayah sedang apa? Apa aku sedang mengganggu ayah?" tanyanya seketika ayahnya menjawab panggilannya.
__ADS_1
Arbre tidak tidur sama sekali malam itu. Setelah pulang dari RIME BAR dia lalu menuju ruang kerjanya. Dia berkutat panjang dengan pikirannya untuk memikirkan cara lepas dari Candra dan banyaknya kemungkinan yang akan terjadi sebelum dan sesudahnya.
"Tidak sayang, kau tidak menggangu." jawab Arbre.
Ucapan Arbre terdengar lesu oleh Velicia. Dia merasa ayahnya sedang dipenuhi beban. Pasti karena kejadian kemarin, pikirnya.
"Ayah, apa aku sudah boleh pulang? Aku ingin di rumah saja. Aku merasa tidak enak tinggal di rumah orang. Iya meskipun kita membayar Rehan untuk semua ini tapi aku merasa tidak nyaman." ujar Velicia kepada ayahnya.
Arbre terdiam sejenak. Dia juga terpikirkan pembicaraannya dengan Rehan semalam dan Velicia belum mengetahuinya. Rehan pasti merasa canggung juga tinggal bersama Velic setelah permintaannya untuk menikahi Velic, pikirnya.
"Iya, ayah nanti akan menghubungi Rehan untuk mengantar mu pulang." jawab Arbre.
"Baiklah ayah. Apa sudah tidak apa-apa jika Velic pulang sekarang?" tanya Velicia. Arbre terdiam lama lagi.
"Iya mungkin sudah tidak apa-apa. Ayah akan menghentikan pencarian bukti dan penyelidikan kasus kematian Subaki untuk sementara. Agar kita sama-sama aman terlebih dahulu." ujar Arbre.
"Iya ayah." jawab Velicia dan panggilan mereka pun berakhir.
Tanpa diketahui oleh Velicia obrolan mereka terdengar oleh Rehan. Setelah mengakhiri panggilannya dan terduduk di sofa bed yang dipakai Rehan untuk tidur kemarin. Dia termenung sambil menunggu Rehan datang.
Suara langkah kaki mengagetkannya. "Rehan? Kapan datang?" tanya Velicia yang terkejut dengan kedatangan Rehan.
"Baru saja." jawab Rehan. Velicia tak menyadari kedatangan Rehan karena tadi dia sedang fokus berbicara dengan Arbre saat di telepon.
__ADS_1
"Kita sarapan dulu." kata Rehan lalu meletakkan sebuah kantong plastik di atas meja. Dia lalu mengeluarkan dua kotak bubur ayam yang masih hangat. Tercium aroma yang menggoda dari uap yang keluar saat Rehan membuka kotak itu. Membuat perut Velicia terasa perih dan ingin memakannya. Dia ingat semalam dia hanya makan mie instan dalam cup, wajar jika sekarang perutnya merasa lapar.
"Apa Nona sudah cuci muka?" tanya Rehan.
Velicia mengangguk, "iya, setelah lama menunggu mu belum juga datang aku tadi cuci muka agar tidak mengantuk lagi."
Rehan tersenyum tipis, "silahkan makan lebih dulu. Saya akan cuci muka dulu." katanya pada Velicia lalu dia berjalan ke kamar mandi dan mencuci wajahnya di wastafel.
Velicia memakan dengan lahap bubur ayam yang dibeli Rehan. Dia meniup setiap sendok nya lalu menyuap nya ke dalam mulutnya. Rehan yang keluar dari kamar mandi melihat adegan itu merasa lucu.
"Selapar itukah?" gumamnya dalam hati sambil tersenyum lebar.
Dia lalu duduk di dekat Velicia dan mulai menyantap bubur miliknya. "Apa rasanya cocok untuk Nona?" tanya Rehan yang melihat bubur Velicia tinggal sedikit.
"Ah iya, ini enak dan ada sate telur puyuh nya." jawab Velicia sambil tersenyum.
"Kalau begitu habiskan." ujar Rehan lalu lanjut menyantap buburnya. Velicia mengangguk dan meneruskan makannya.
πΎπΎ
...^^^----------------^^^...
hola readers π
__ADS_1
Terimakasih sudah mampir ke karya saya. Buat kalian yang sempat lihat tulisan saya tinggalkan jejak kalian dengan kasih like, kalau suka tulisan saya favoritkan juga boleh, dikasih hadiah dan vote saya lebih berterimakasih ππ. Isi kolom komentar dengan kritik dan sarannya ya untuk perkembangan dan kemajuan author. Terimakasih ππ.
enjoy the reading π€ π