GADIS UMPAN MILIK BOS

GADIS UMPAN MILIK BOS
BAB 85


__ADS_3

"Ahmm.." dehem Velicia dengan lembut. "Apakah sudah?" tanyanya tak ingin menciptakan kecanggungan.


"Ah iya, sudah." jawab Rehan cepat, secepat itu pula ia menarik tangannya yang sudah hampir menyentuh pinggang belakang istrinya.


"Mandilah. Jangan terlalu lama nanti masuk angin." ucapnya lalu pergi meninggalkan Velicia.


Setelah Rehan keluar, Velicia menjatuhkan tubuhnya dan tangannya dipakai menahan, bersandar pada sisian bathtub. Dia mengatur pernafasannya dan menetralkan detakan jantungnya. Astaga, dia tadi menahan nafas saat sang suami mengusap punggungnya hingga ke garis pinggang, hampir saja dia membayangkan sesuatu yang lebih. Sepertinya dia harus cepat cepat mandi agar otaknya lebih tenang.


Keesokan harinya Rehan dan Velicia kembali ke apartemen milik Rehan.


Malam kemarin mereka lalui hanya dengan tidur lelap karena memang saking letih nya.


Dua hari lagi Rehan akan masuk ke perusahaan Arbre untuk lebih mengenal struktur organisasi perusahaan. Dia juga mempelajari tentang perusahaan itu dengan mudah karena bekal pengalamannya saat bekerja di perusahaan ayahnya.


"Velic, sepertinya kita harus pindah. Aku butuh ruang kerja yang luas untuk menyimpan berkas berkas dan beberapa file." ucap Rehan saat sarapan pagi bersama istrinya.


Ya sudah satu minggu Rehan bekerja di perusahaan milik Arbre, memang apartemen Rehan kecil dan lagi meja kerjanya juga sudah penuh dengan tumpukan dus untuk menyimpan beberapa berkas penting.


"Aku sangat sibuk sekarang. Mungkin besok aku akan memanggil jasa orang untuk membantu mu memindahkan barang." lanjutnya.


"Memang kita akan pindah ke mana?" tanya Velicia yang masih tak tahu mereka akan pindah ke mana.


"Untuk sementara kita akan tinggal di GRIYA CEREMAI." jawabnya.


"Rumah kakak?"


"Bukan. Apartemen itu milik kita. Hadiah dari mereka. Kak Regan memberikan kunci aksesnya kepada ku. Ini, besok kau pindahan sendirian tidak apa-apa kan?" jelasnya lalu menyerahkan access card kepada Velicia.


"Aku sudah lama ingin mengatakan pindah namun selalu tak bisa karena pekerjaan ku benar-benar banyak. Mungkin weekend ini aku juga akan lembur karena sebentar lagi akuisisi akan dimulai. Setelahnya langsung peresmian setelah balik nama." jelas Rehan. Velicia mengangguk mengerti.


Memang sudah seminggu ini suaminya itu sibuk sekali, pulang malam kadang sampai larut. Dia pun tak tahu kapan datangnya, saat terbangun tengah malam tiba-tiba laki-laki itu sudah tidur disampingnya atau terkadang di sofa bed. Atau saat ia terbangun dini hari dan pagi buta dia sudah melihat suaminya sibuk di depan komputer atau dengan laptopnya. Pemandangan yang sebenarnya membuatnya ikut prihatin. Suaminya pasti sangat kelelahan.


"Baiklah, tapi kau harus jaga kesehatan juga. Jangan lupa makan tepat waktu dan istirahat jika ada kesempatan kapan pun itu." ujar Velicia.


"Mm iya. Aku sudah selesai, aku berangkat dulu ya." pamit Rehan kepada sang istri dengan sekilas mencium keningnya.


Hari berikutnya..


"waah rame sekali."

__ADS_1


"Hai pengantin baru, kenapa barang-barang kalian di angkutan?" tanya Rendi tetangga depan rumahnya, yang merasa terusik dengan suara gaduh dari apartemen Rehan.


"Oh hai Rendi, ini kami sedang mau pindahan. Tapi Rehan tidak bisa bantu jadi dia memanggil jasa orang." jelas Velicia.


"Ooh.. mau aku bantu?" tawar Rendi.


"Tentu jika tidak keberatan." kata Velicia. Lebih banyak orang, lebih cepat selesai, pikirnya.


"Apa tidak ada yang menemani mu pindahan?" tanya Rendi setelah selesai mengangkut barang terakhir dan memasukkannya ke dalam mobil box.


Velicia menggeleng, "hari ini weekdays, jadi mereka masuk kerja. Apalagi ayah dan Rehan, mereka sedang sangat sibuk sekarang." ucapnya.


"Baiklah aku antar sekalian ya, sudah kau berikan alamatnya kepada mereka?" tanya Rendi.


"Iya sudah." jawab Velicia lalu menerima tawaran Rendi untuk di antar.


"Ya sudah tunggu sebentar aku ambil kunci motor." ucapnya lalu meninggalkan Velicia di tempat parkir. Tak lama ia datang dengan sepeda motornya kemudian mereka boncengan menuju alamat yang Velicia beritahukan.


Saat sudah memasuki lift menuju lantai paling atas Rendi pun terkejut, bukan karena kaget melainkan kagum.


"A penthouse." gumamnya yang masih bisa didengar oleh Velicia.


"Ah.."Rendi mengangguk-angguk mengerti. Saat pernikahan Rehan dan Velicia dulu dia juga diundang dan menghadiri acara tersebut, jadi dia juga tahu seperti apa gedung tersebut. Luas dan megah, gaya bangunannya seperti gedung teater di luar negeri.


"Velic, maaf kakak tidak bisa ikut mengemas barang mu jadi kakak memutuskan menunggu di sini saja. Kakak sedang ada pertemuan tadi dengan teman kakak." Belleza yang berada di depan pintu apartemen menghampiri Velicia.


"Ini teman kakak, namanya Riska. Tadi kakak sedang ada pertemuan dengannya." Belleza mengenalkan perempuan yang berada di sampingnya.


"Halo, Velicia." Velicia mengulurkan tangan memperkenalkan diri.


"Ini teman Rehan, Rendi, teman saya juga kak. Tetangga depan apartemen Rehan." ucap Velicia memperkenalkan Rendi.


Rendi pun mengulurkan tangan kepada Belleza dan Riska.


Tak lama suara pintu lift terbuka terdengar. "Oh itu mereka sudah sampai." seru Velicia yang melihat dua orang membawa barang-barang miliknya.


"Ayo kita semua masuk." ujar Velicia lalu membuka kunci pintu apartemennya.


Kemudian mereka masuk dan mulai menyusun meletakkan barang milik Velicia sesuai tempat yang di arahkan nya.

__ADS_1


"Haahh akhirnya selesai." Velicia duduk bersandar di sofa.


Tak banyak barang miliknya dan Rehan karena barang yang berada di apartemen Rehan dulu tidak semua dia bawa sebab apartemen yang mereka tempati sekarang sudah terisi dengan lengkap.


"Ingin makan sesuatu?" tawar Belleza yang kini sudah berada di dapur.


"Boleh." jawab Velicia dan Riska bersamaan. Mereka sudah tahu kalau masakan Belleza sangat enak jadi mereka menjawab kompak.


Belleza sendiri pun suka dengan memasak. Tangannya sangat terampil. Sudah seorang designer dengan hasil karya yang bagus dan luar biasa seperti apartemen yang kini mereka tinggali ini, juga pandai dalam memasak.


Setelah acara makan hasil masakan Belleza selesai mereka sekarang berkumpul di ruang keluarga di depan televisi.


"Kakak tadi sudah selesai meeting nya? kenapa sudah berada di depan apartemen. tanya Velicia.


"Iya sudah. Riska tadi hanya minta di desain kan set perhiasan untuk pesanan orang." jawab Belleza.


"Oh teman yang kakak tadi?"


"Iya, dia pebisnis perhiasan, toko emasnya dimana-mana lho."


"Waah berarti perhiasan yang kupakai ini juga dari tokonya dong dan kakak yang desain?" tanya Velicia lugas.


"Hush kau ini. Itu hasil designer ternama, Rehan sengaja memesannya untuk mu. Bahkan untuk memesannya pun harus menunggu waktu yang lama karena antri, tapi jika untuk Rehan pasti dua minggu pun mereka langsung menyelesaikannya." jelas Belleza.


"Oh begitu." Velicia tersenyum dengan mimik tidak tahu.


"Memang sertifikatnya tidak Rehan berikan kepada mu?". Velicia menggeleng pelan.


"Itu urusan kalian."Belleza tersenyum memperlihatkan deretan giginya.


🐾🐾


...^^^----------------^^^...


hola readers πŸ‘‹


Terimakasih sudah mampir ke karya saya. Buat kalian yang sempat lihat tulisan saya tinggalkan jejak kalian dengan kasih like, kalau suka tulisan saya favoritkan juga boleh, dikasih hadiah dan vote saya lebih berterimakasih πŸ˜πŸ’ž. Isi kolom komentar dengan kritik dan sarannya ya untuk perkembangan dan kemajuan author. Terimakasih πŸ˜˜πŸ’ž.


enjoy the reading πŸ€— πŸ’

__ADS_1


__ADS_2