
Erangan keras yang keluar dari mulut Candra seolah menjadi sarana ia menyalurkan amarah dan kekesalannya. Sudah berapa kali ia mendapatkan pelepasannya bersama wanita sewaannya itu, sampai dirasa dirinya cukup lelah lalu berhenti. Namun begitu ia tak lupa untuk pulang ke rumahnya malam itu, meski kini waktu sudah menunjukkan pukul tiga malam. Dini hari.
"Sudah datang?"
"Iya nyonya."
"Baiklah. Kembalilah istirahat. Maaf membuat waktu istirahat mu berkurang. Besok kau boleh bekerja agak siangan saja."
Seorang nyonya rumah sedang berbincang dengan asisten rumah tangganya.
Angel malam itu belum tidur, bukan karena kesetiaannya kepada seorang suami seperti yang di lakukan oleh wanita lain yang menunggu suaminya pulang kapan pun sang suami akan tiba.
Dia belum tidur karena memang sulit untuk tidur, bahkan dalam keadaan tidur pun ia seperti sedang terjaga. Itulah kenapa ia terlihat kurus di mata Velicia dulu saat mereka bertemu. Karena pola tidur yang kurang baik itu pula yang membuatnya sering merasa tidak enak badan bahkan juga sakit selalu datang padanya.
Ia selalu meratapi nasibnya yang seperti itu. Ia pun selalu berpikir, kenapa Candra tidak melepaskannya saja dengan menceraikannya. Jika hanya ingin memiliki perusahaan milik ayahnya, ia lebih baik merelakan itu agar bisa terlepas dari Candra.
Apakah karena dia mengetahui bahwa dalang dari kecelakaan atas kematian orang tuanya adalah Candra, jadi Candra tak akan melepaskannya sampai kapanpun? Takut kalau dia akan melaporkannya kepada polisi. Tapi menurut Angel, orang seperti Candra tidak akan takut kepada polisi, dia pasti akan kebal terhadap hukum.
Lalu apa yang ia takutkan? Apakah keluarganya? Maksud Angel adalah keluarga besar Aditama, salah satu dari mereka. Mungkinkah sang ibu?, Angel selalu sibuk dengan pikiran seperti itu yang selalu berputar di kepalanya.
Langkah kaki yang beralaskan sepatu yang menimbulkan suara saat beradu dengan lantai membuatnya menoleh ke arah sumber suara. Mata mereka saling bertemu. Seperti biasa, Angel memberikan tatapan dingin seolah ingin membunuh pria yang juga sedang menatapnya dari jauh.
__ADS_1
Dengan tatapan sayu dan penampilan yang acak-acakan bekas ia terlalu mabuk dan lelah bercinta dengan pasangannya, Candra menatap Angel yang sedang berdiri sambil membawa sebuah gelas tinggi berisi air putih.
"Lagi-lagi, tatapan seperti itu!" batin Candra.
Dan Angel langsung saja pergi dari tempatnya setelah memberikan tatapan membunuh itu. Dia tak kuat lagi harus berlama-lama di sekitar laki-laki itu. Apalagi penampilan laki-laki itu saat ini sangat buruk, kacau.
Selain itu Candra juga mengeluarkan bau alkohol yang pengar jika tercium oleh hidung, juga bercampur dengan bau parfum wanita yang aromanya sangat menusuk hidung.
Bisa kalian bayangkan wangi parfum yang baunya membekas meski sang pemilik wangi sudah berjalan tiga meter mendahului kita.
Angel tadi juga melihat tanda merah bekas lipstik berwarna merah menyala banyak menempel di kemeja Candra yang terlihat sudah sangat lusuh dan tidak rapi itu. Namun ia tak memusingkan semua itu, terserah saja apa yang akan laki-laki itu perbuat di luaran sana.
Dan kejadian Candra pulang tengah malam bahkan sampai dini hari berlangsung berturut-turut sampai tiga malam ini. Sebenarnya Angel tidak ingin mempedulikannya, namun ia kasihan pada asisten rumah tangga di dalam rumah itu yang bergantian berjaga sampai sang tuan rumah pulang baru mereka bisa istirahat.
Kenapa saat dirinya pulang ke rumah tidak ada yang menyambutnya, kenapa tidak ada yang menyiapkan makan, kenapa tidak ada yang menemaninya makan, kenapa tidak ada yang menerima jas kerjanya setelah pulang kerja, dan banyak alasan lainnya yang Candra buat untuk membuat rumah itu berisik setiap harinya.
Angel hanya ingin melindungi para perempuan yang menjadi asisten rumah tangga itu agar tak mengalami kekerasan sebagai objek pelampiasan amarah Candra. Mereka sangat berterima kasih kepadanya karena sikapnya itu, mereka menganggap sikap Angel yang melindungi mereka itu bagaikan malaikat untuk mereka. Apalagi mereka hanyalah orang-orang kecil yang harus sanggup bertahan di rumah itu agar bisa bekerja dengan lama karena gajinya yang lumayan besar.
Hal itu jugalah yang membuat Angel terkadang merasa kuat bertahan di rumah itu. Ia merasa senang karena bisa menjadi sumber kekuatan untuk orang lain.
Namun tak semua asisten rumah tangga juga senang terhadap Angel, ada juga yang tak suka, tapi mereka tidak secara terang-terangan menunjukkannya juga. Hanya dari cara mereka bersikap yang seperti abai pada Angel dan kurang menanggapi setiap pembicaraan saat berinteraksi dengan Angel.
__ADS_1
Mungkin mereka bersikap begitu karena tahu bahwa sang tuan rumah dan nyonya rumah tidaklah akur, jadi hal itu mereka jadikan celah untuk menyusup menggantikan posisi Angel, pikir mereka.
Seperti malam ini, lebih tepatnya dini hari lagi. Angel sedang menemani asisten rumah tangganya yang sedang menunggu kedatangan Candra dengan berbincang pada asisten itu. Meski rasanya enggan karena asisten rumah tangga yang ia temani malam ini adalah salah satu dari asisten rumah tangga yang tak menyukainya tapi Angel tak ingin terlihat seperti pilih kasih terhadap para asisten rumah tangganya.
Namun begitu ia menahannya, siapa tahu saja malam ini Candra tidak pulang dan malah orang lain yang datang yang membawa kabar bahwa Candra mengalami kecelakaan dan meninggal di tempat. Jika itu benar terjadi maka dia adalah satu-satunya orang akan langsung bersujud menangis bahagia atas kematian Candra. Meski terdengar kejam, namun benar jika terkadang Angel berdoa itu akan terjadi.
Tapi kembali lagi pada kenyataannya yang membuatnya mendengkus kasar, ia juga pernah teringat akan kata-kata orang yang pernah mengatakan 'yang banyak dosa biasanya akan lama waktu kematiannya'.
Seperti biasa, setelah kedatangan Candra Angel menyudahi perbincangannya dengan asisten rumah tangganya. Setelah memberikan tatapan mata yang tajam Angel meraih gelas berisi air putih miliknya untuk di bawanya kembali ke kamar. Namun baru juga berada di depan anak tangga langkahnya terhenti karena ucapan Candra.
"Kenapa kau selalu memberiku tatapan itu?!" tanya Candra dengan nada sedikit berteriak. Malam ini dia juga dalam pengaruh alkohol.
Tak menjawab tak juga berbalik badan, Angel bermaksud melanjutkan langkahnya. Tak ingin dia memulai perdebatan dengan Candra, apalagi di tengah malam begini.
"Jawab aku!" suara Candra semakin tinggi dan mampu membuat Angel berjengit. Ia mengurungkan niatnya untuk melangkah lagi. Lalu terdengar dari belakang suara langkah kaki Candra yang semakin mendekat ke arahnya.
"Jawab aku Angel Carolin Subaki." ucap Candra lirih dengan nada menekan.
πΎπΎ
Β hola readers π
__ADS_1
Terimakasih sudah mampir ke karya saya. Buat kalian yang sempat lihat tulisan saya tinggalkan jejak kalian dengan kasih like, kalau suka tulisan saya favoritkan juga boleh, dikasih hadiah dan vote saya lebih berterimakasih ππ. Isi kolom komentar dengan kritik dan sarannya ya untuk perkembangan dan kemajuan author. Terimakasih ππ.
enjoy the reading π€ π