GADIS UMPAN MILIK BOS

GADIS UMPAN MILIK BOS
BAB 118


__ADS_3

"Iya baiklah. Satu minggu juga tidak apa-apa. Kasihan kalau nanti Sisi lelah di perjalanan dan akan berdampak pada kandungannya." Ujar Arman dengan nada suara yang seperti ia sedang berbicara kepada istrinya. Tenang dan tanpa penekanan, membuat Rain menaikkan alisnya sedikit.


Ia terheran namun juga merasa senang karena diberi izin waktu yang panjang.


Dalam kalimat Arman yang mengizinkan satu minggu Sisi tinggal di rumah besar ada maksud tersembunyinya. Ia sebenarnya juga merasa kasihan kepada menantunya itu jika setiap weekdays harus menempuh jarak yang jauh dan berlawanan arah dari kediamannya menuju kantor tempatnya bekerja.


Hanya saja laki-laki yang akan segera menjadi kakek itu masih enggan untuk memperlihatkan perhatiannya dengan jelas kepada sang menantu. Namun begitu hal itu sudah membuat Rain sangat senang.


"Terima kasih ayah, ibu. Saya pasti akan menjaga Sisi dengan baik selama Sisi berada di sana." Ucap Rain dengan senyum senangnya tanpa ia tahan dan tutupi membuat Velicia juga bereaksi tersenyum melihatnya.


Setelah berbincang sebentar Rain dan Sisi lalu pamit untuk menyiapkan keperluan ibu hamil selama menginap di rumah besar. Setelah selesai Sisi dan Rain kemudian pamit untuk berangkat ke rumah besar Aditama.


"Haahh.. ya Tuhan. Rasanya lega sekali." Ucap Rain yang berada di dalam mobil saat di perjalanan menuju rumahnya.


Sisi mengerutkan keningnya menatap sang suami, "kenapa?," tanyanya penasaran pada reaksi sang suami yang sepertinya merasa tenang atau senang itu.


"Baru pagi ini aku bisa mengobrol santai setelah ritual di meja makan. Biasanya rasanya aku ingin cepat beranjak dari meja itu karena rasanya sesak sekali untuk bernafas." Ungkap Rain jujur pada apa yang dirasakannya.


"Kenapa bisa begitu?" Tanya Sisi sambil tersenyum menahan tawanya. Ia sebenarnya tahu apa yang dimaksudkan suaminya karena Rain kadang bercerita tentang apa yang ia rasakan setelah menikahinya dan tinggal di rumah orang tuanya.


"Biasanya kan kamu biasa saja saat bertemu dengan ayah. Apalagi kalian sudah lama saling kenal." Lanjut kata Sisi.


"Iya, tapi kali ini rasanya berbeda. Seperti, ayahmu sangat memperhatikan gerak gerik ku hingga rasanya aku ingin menangis dan kembali saja ke rumah besar." Kata Rain lalu melihat ke arah Sisi sekilas.


Sisi sekarang malah tertawa lepas. Bisa-bisanya suaminya itu merasa begitu, padahal saat di kediaman ayahnya Arman bersikap biasa saja seperti hari-hari biasa saat sebelum ada Rain maupun sesudah ada Rain.


"Kau senang sekali suami mu merasakan tekanan batin seperti ini." Cibir Rain dengan nada menyedihkan. Semakin bertambah keras saja tawa Sisi di sampingnya.


"Ayo turun." Rain membukakan pintu untuk Sisi saat akan keluar dari mobilnya karena sekarang mereka sudah sampai di rumah besar.

__ADS_1


"Terima kasih." Ucap Sisi sambil tersenyum lebar karena efek tertawanya belum hilang juga.


"Selamat datang kembali ke rumah besar." ucap Rain setelah pintu utama rumah besar itu terbuka. Kepala pelayan dan pelayan lain yang pernah menjadi teman kerja Sisi menyambut kedatangan mereka.


"Terima kasih atas sambutannya." Kata Sisi dengan satu telapak tangan yang diletakkan di dada sambil tersenyum melihat ke arah mereka.


"Sama-sama Nyonya." Ucap mereka hampir bersamaan.


Setelah itu Rain mengajak Sisi masuk ke dalam kamar milik Rain dimana dahulu Sisi biasa mengambil pakaian kotornya. Kamar utama yang menjadi kamar milik orang tua Rain dibiarkan kosong begitu saja dan Rain pun tak mau mengisinya meski dia sudah menjadi kepala keluarga rumah besar itu.


Menurutnya dia tak akan sanggup untuk menempati kamar utama milik orang tuanya tersebut karena pasti akan selalu teringat akan kenangan tentang mereka dan juga kenangan tentang kecelakaan yang menimpa mereka kala itu.


Takut saja jika Rain menempati kamar mendiang orang tuanya maka penyakitnya akan sering kambuh dan itu juga tidak akan baik untuk dirinya dan orang-orang di sekitarnya. Apalagi sekarang ada Sisi yang juga akan melahirkan bayi untuknya kelak.


Sampai saat ini saja ia masih sangat takut dengan penyakitnya meski hanya akan menjadi dalam satu tahun sekali tapi jika sudah lepas kendali ia tidak akan mengenali siapa dirinya dan orang-orang sekitarnya dan yang ia takutkan adalah jika amarahnya nanti berdampak pada buah hatinya jika sudah lahir nanti. Kadang ia kepikiran dengan itu.


Dan selama inipun ia tak hanya diam atau acuh dengan penyakitnya itu. Ia juga berusaha dengan melakukan psikoterapi dan memakan obat resep dari dokternya jika dirasa keadaan dirinya sedang tidak baik.


"Baik Tuan." Ucap pelayan itu lalu mundur ke belakang. Rain saat ini tengah membuatkan susu untuk Sisi, susu hamil yang harus diminum sebelum Sisi tidur.


"Ini." Rain menyodorkan gelas berisi susu hangat itu untuk diminum oleh Sisi setelah sampai kamarnya.


"Terima kasih." Ucap Sisi menerima gelas susu itu lalu meminumnya hingga habis. Susu yang dibuatkan oleh Rain memang hangat karena begitu temperatur yang Sisi minta setiap meminum susu hamilnya.


"Sikat gigi lalu tidur, okey? Ibu hamil tidak boleh tidur terlalu malam." Ucap Rain mengusap puncak kepala sang istri lalu menciumnya. Sisi pun mengangguk mengerti.


Bias cahaya mentari memasuki kamar Rain yang dindingnya sebagian dari kaca itu, membuat para penghuni kamar itu terbangun karena silaunya.


"Ingin jalan-jalan?" Tawar Rain.

__ADS_1


Setelah bangun pagi terlebih dahulu dari Sisi, ia kemudian menuju ruang gym miliknya untuk melakukan pemanasan dan pembentukan badan pada tubuhnya. Karena selama tinggal di rumah orang tua Sisi ia jarang melakukan kegiatan itu atau mungkin tidak pernah ya setelah diingat-ingat.


Baru malam tadi ia bisa tidur tepat waktu dengan kualitas jam tidur yang cukup dan baik hingga paginya badan dan pikirannya terasa lebih fresh. Itu juga berpengaruh terhadap moodnya hingga sekarang ia menawarkan Sisi untuk jalan-jalan.


"Kemana?" tanya Sisi.


"Terserah. Aku ikut mau kamu kemana saja." jawab Rain. Sisi terdiam sejenak, sedikit berpikir tapi juga ragu untuk mengucapkan. Rain melihat raut mukanya yang terlihat ragu itu.


"Kenapa? Katakan saja." kata Rain dengan kerut di keningnya.


"Mmm.. ingin bertemu nenek. Boleh?" Sisi berucap ragu-ragu.


Ekspresi wajah Rain seketika langsung datar mendengar kata nenek dari mulut Sisi. Bukan karena neneknya, namun tempat dimana neneknya tinggal sekarang masalahnya. Yaitu Villa Bougenville.


Tempat yang biasa Rain pakai untuk menyendiri dan menenangkan diri juga untuk menutupi kekurangannya dari orang-orang termasuk orang yang bekerja untuknya, para pelayan dan bodyguardnya.


Namun sekarang villa itu seperti menjadi sebuah tempat yang membuatnya trauma.


Bukankah seharusnya yang merasa trauma itu harusnya Sisi ya? Wanita itu yang mengalami malam kesialan karena penyakit sialannya itu.


Tapi untuk Rain setelah pengakuan kesalahannya terhadap Sisi kepada Armana hingga membuat laki-laki itu melakukan hal konyol sampai hujan-hujanan di depan rumah Arman dan betapa sulitnya untuk bertemu dengan Sisi sebelumnya adalah hal yang membuatnya trauma.


Jika bisa diulang lagi waktu, ia ingin mengenal Sisi secara normal bukan sebagai seorang laki-laki bertopeng yang membeli seorang gadis yang di lelang di pasar gelap. Namun sebagai rekan kerja atau sebagai orang asing biasa yang bertemu di suatu tempat secara kebetulan.


Tapi mau bagaimana lagi, itu sudah menjadi takdir mereka untuk bertemu dan bersatu. Dan sampai sekarang pun mereka berdua sepertinya belum ada yang sadar jika sebelumnya atau di masa kecil, mereka sudah saling mengenal.


🐾🐾


hola readers πŸ‘‹

__ADS_1


Terimakasih sudah mampir ke karya saya. Buat kalian yang sempat lihat tulisan saya tinggalkan jejak kalian dengan kasih like, kalau suka tulisan saya favoritkan juga boleh, dikasih hadiah dan vote saya lebih berterimakasih πŸ˜πŸ’ž. Isi kolom komentar dengan kritik dan sarannya ya untuk perkembangan dan kemajuan author. Terimakasih πŸ˜˜πŸ’ž.


__ADS_2