
Rain yang melihat Velicia dengan raut wajah lesu dan pasi telah keluar dari ruangan dokter Haris dan berjalan menuju ruangan Sisi dipindahkan. Dia lalu segera masuk ke ruangan dokter Haris karena penasaran.
"Dokter bagaimana dengan pasien yang di operasi baru saja?" kata Rain yang masuk dengan tiba-tiba. Dokter Haris sedikit terkejut namun tetap tenang.
"Anda siapa?"tanya dokter Haris.
"Saya... Atasan pasien."Rain menjawab dengan ragu.
Dokter Haris mengangguk-angguk. Dia sebenarnya tahu siapa Rain tapi berpura-pura karena dia penasaran Rain tampak khawatir dengan pasiennya.
Rain Aditama penyumbang dana atau donatur pada setiap rumah sakit dikota ini dan rumah sakit tempatnya bekerja adalah yang menerima paling besar. Wajahnya pun sering terpampang di majalah bisnis.
"Operasi berjalan lancar dan berhasil. Pasien sedang di bawa ke dalam recovery room, jika sudah sadar akan dipindahkan ke ruang ICU."jawab dokter Haris.
"Oh iya. Apa pasien sudah menikah tuan...?" tanya dokter Haris yang berpura-pura tak mengetahui nama Rain.
"Ah saya Rain."jawab Rain.
"Ah Tuan Rain. Mungkin anda tahu sebagai atasannya. Apakah pasien sudah menikah? Dan juga biodata pasien belum terisi semua." tanya dokter Haris sambil membuka draft nama pasien yang ia tunjukkan pada Velicia tadi.
"Ah pasien belum menikah. Seperti yang asisten saya katakan sebelumnya, pasien bernama Sisi. Usianya 20 tahun."jawab Rain cepat.
"Oke. Terimakasih Tuan Rain."ucap dokter.
Rain yang masih belum puas dengan pernyataan dokter lalu bertanya lagi, "Apa ada hal lain yang terjadi dokter?".
Dokter Haris terdiam sejenak lalu menjawab dengan hati-hati. "Yah, menurut dari hasil yang tertera pasien atas nama Sisi terluka karena peluru, operasi berhasil dan pasien sedang hamil empat minggu." kata dokter Haris.
__ADS_1
Seketika Rain tersentak dengan pernyataan dokter Haris yang mengatakan bahwa Sisi hamil. Dia lalu teringat akan kejadian malam itu dan perbuatannya kala itu. Dia segera pamit keluar dan berlari sambil mengeluarkan handphone.
"Coky apa ada laki-laki yang mendekati Sisi?"tanyanya.
"Apa maksud tuan?"tanya Coky yang sedang menerima panggilan dari bosnya dengan nada tak mengerti.
"Kau dimana?" tanya Rain yang sedang berjalan di depan ruang operasi namun Coky tak ada di sana.
"Saya sedang berada di mobil. Nyonya Velicia mengatakan akan menjaga Sisi sendirian dan saya disuruh pulang."jawab Coky.
"Argh". Rain berteriak lalu menggerutu sambil bergumam tak jelas hingga beberapa pengunjung rumah sakit menatapnya dengan aneh. Dia lalu berjalan cepat menuju mobil Coky.
"Apa kau melihat Sisi bertemu atau dikunjungi seorang laki-laki sebelumnya?" tanya Rain yang baru saja masuk ke dalam mobil.
"Tidak tuan. Sisi tidak punya teman lelaki dan yang berkunjung ke apartemennya pun hanya saya."jawab Coky dengan cepat.
"Kalau kau, aku percaya kau tidak akan melakukannya."gumamnya.
"Apa maksud tuan?"Coky tak mengerti.
"Sisi hamil. Empat minggu."jawab Rain. Coky yang mendengar pernyataan Rain terkejut, dia teringat pengakuan Rain malam itu.
"Sisi hamil? Jangan-jangan anak itu...."Coky menatap wajah tuannya yang berada di kursi belakang. Rain terdiam seolah mengiyakan dugaan Coky.
"Apa yang tuan Rain takutkan adalah jika Sisi hamil anaknya? Anak dari bosnya? Keturunan asli Aditama?"Coky berkutat dengan pikirannya sendiri.
...* * *...
__ADS_1
Beberapa bulan kemudian.
Hari ini sidang pengadilan untuk tindak kejahatan Candra digelar.
Setelah Candra sembuh total dari masa pemulihan pasca operasinya dia didatangkan ke pengadilan atas tuntutan yang diajukan oleh Rain.
Rain membawa pengacara handalnya dan beberapa orang yang bersedia bersaksi untuk kejahatan Candra. Seperti Angel, Arman dan Velicia, lalu terakhir Arga Danu yang akhirnya masih hidup karena malam itu Rain menolongnya dan hanya membakar kediamannya tanpa sisa. Rain melakukannya agar terlihat oleh Candra seolah Arga Danu dihabisi oleh Rain malam itu.
Candra terdiam di kursi terdakwa dalam kasus persidangannya. Dia sempat terkejut melihat orang-orang yang akan ikut bersaksi untuk Rain. Dia tak menghadirkan pengacara untuk membelanya karena dia tahu akan kalah meski membawa pengacara.
"Terdakwa Candra Aditama. Melakukan tindak kejahatan pemerkosaan kepada nyonya Angel Carolin Subaki sebelum saudara Candra menjadi suaminya, apakah betul?" tanya jaksa penuntut. Candra mengangguk, "iya" jawabnya.
"Terdakwa Candra Aditama juga melakukan tindakan pembunuhan berencana terhadap orangtua nyonya Angel, bapak Subaki Cahyono dan ibu Ranisa Cahyono. Apakah benar?"
"Terdakwa juga melakukan tindakan pembunuhan berencana terhadap orangtua Tuan Rain Aditama yakni bapak Andra Aditama dan nyonya Fariska Aditama, juga hingga membuat nyonya Ratna Aditama cacat permanen."
Candra mengangkat kepalanya terkejut mendengar ucapan jaksa penuntut yang mengatakan bahwa Ratna cacat permanen. Dia mengira bahwa selama ini ibunya telah meninggal karena ikut terlibat dalam kecelakaan orangtua Rain.
"Dengan permintaan dari nyonya Ratna Aditama nama gelar Aditama dicabut dari terdakwa."ucap jaksa lagi.
"Ibu?"gumam Candra lirih. "Masih hidup?" imbuhnya sambil tersenyum kecil.
Pembacaan sidang tuntutan masih terus berlanjut hingga tuntutan dari keluarga Rehan Armana dan penggelapan uang perusahaan sampai jerat hukuman pasal berlapis dibacakan untuk Candra.
Sidang pengadilan yang membuat waktu Rain tersita lama disana. Fikirannya tak lagi fokus ditempat. Dia selalu memikirkan Sisi yang sekarang berada di kediaman Armana. Berkali-kali ia mencoba meminta untuk bertemu secara pribadi namun Arman tak mengijinkan.
πΎπΎ
__ADS_1