
Setelah selesai rapat Candra sengaja menunggu Arman agar bisa berbicara dengan laki-laki itu. Ia ingin memberikan tekanan agar Arman mau keluar dan tak lagi berkerjasama kakaknya.
"Kerjasama sudah tentu biasa kan dalam sebuah perusahaan? Apalagi saya juga memikirkan efek jangka panjangnya. Perusahaan sebesar Aditama tidak akan ceroboh dalam melakukan setiap jenis proyek yang ada di dalamnya bukan? Karena setiap kerjasama pasti juga keuntungan yang akan di cari." jawab Arman tanpa menimbulkan nada yang memprovokasi. Namun tetap saja Candra, dia mengartikan lain dari jawaban Arman.
"Anak mu baru satu, nikmatilah hidup mu sebagai sebuah keluarga kecil untuk sekarang dari pada sibuk mengejar proyek kesana-kemari. Karena siapa tahu itu tidak akan lama kalau kau terlalu sibuk dengan pekerjaan mu." Kata Candra sarat akan peringatan. Arman hanya mengerutkan dahinya hingga alisnya hampir menyatu, mencerna perkataan Candra. Sedang yang berkata begitu kini sudah pergi menjauh darinya setelah pintu lift terbuka.
Drrtt.. drrtt.. handphone Arman bergetar. Di ambilnya handphone itu dari saku dalam jas yang ia pakai. Terlihat dari layar panggilan dari Velicia masuk, ia lalu menggeser tombol hijau itu.
"Iya Velic?"
"Sisi tidak ada! Saat aku sedang ke toilet aku di antar oleh pengawal, dia hanya bersama dengan baby sitter. Katanya ada seseorang yang menepuk pundaknya, ia menoleh dan orang itu menanyakan sebuah alamat padanya, Giska pun memberitahukan kepada orang itu. Tapi setelah selesai memberitahu dan orang itu pergi Sisi juga sudah tidak ada di tempat. Giska lalu panik dan berteriak, kami sudah menghubungi pihak keamanan." cerita panjang Velicia tanpa jeda dengan nafas yang terdengar ngos-ngosan sambil menahan tangis.
"Tenanglah, aku akan ke sana dan meminta bantuan kepada orang-orang ku dulu." ujar Armana, lalu dengan segera ia bergegas menyusul Velicia yang telah memberitahukan posisinya sekarang.
"Aku takut Arman." ujar Velicia menghamburkan diri ke dalam pelukan suamiku.
"Tenanglah, Sisi sedang dalam pencarian Pak Teguh." ucap Arman mengelus pundak sang istri.
__ADS_1
"Maaf atas kecerobohan saya Pak." ucap baby sitter yang baru saja bekerja untuk keluarga Arman itu. Dia juga sangat takut dan gemetaran karena baru kali ini dalam tugasnya menjaga seorang bayi dari sebuah keluarga dan terjadi penculikan pada bayi itu.
"Tidak apa-apa, bukan salah mu. Itu wajar karena kau juga tidak tahu motifnya. Keamanan sudah memeriksa CCTV di sini. Rekan orang yang bertanya alamat padamu itu yang mengambil Sisi. Mereka berjumlah tiga orang." Arman juga bersikap bijak untuk menenangkan baby sitter yang sama terkejutnya.
Sedang sang pengawal, meski bukan salahnya ia juga meminta maaf dan merasa bersalah. Karena sebelumnya Velicia sudah mengatakan tak ingin di kawal olehnya saat akan ke toilet namun ia tetap memaksa karena takut terjadi sesuatu terhadap istri kliennya itu.
Beberapa jam kemudian keberadaan Sisi ditemukan, posisinya ia berada di sebuah gedung tua yang kosong. Pak Teguh dan rekan-rekannya menemukan Sisi dari jejak penculik yang terekam CCTV bahwa plat mobil yang mereka tumpangi mengarah ke gedung itu.
Saat berada di lokasi Pak Teguh hanya menemukan Sisi yang sedang tertidur si sebuah kursi, mungkin dalam pengaruh obat tidur. Jika tidak pasti anak kecil yang terhitung masih bayi itu akan menangis histeris berada di tempat gelap dan tidak ada satu orang pun yang menemaninya.
Arman dan Velicia lalu tiba di tempat itu setelah Pak Teguh mengabarinya. Ia juga membaca surat peringatan itu. Arman tak lagi berpikir panjang, sudah tahu pasti dia siapa yang melakukan semua itu. Kini kecemasannya bertambah lagi, dulu ia bisa menolong Velicia dengan caranya. Tapi sekarang ia memiliki seorang anak perempuan yang harus ia lindungi juga.
Malam itu setelah membawa Sisi pulang ke rumah ia langsung menghubungi Regan kakaknya, lalu menceritakan semuanya. Regan yang berada di sebrang sana menghela nafas panjang, ia sekarang juga merasa kebingungan.
"Kakak sedang sangat sibuk sekarang, setelah ayah sakit kakak yang menangani semuanya sekarang." ucap Regan yang ingin Arman juga mengerti posisinya sekarang.
"Kakak ada ide, bagaimana kalau untuk sementara kau sembunyikan dulu Sisi. Kau juga tak mungkin melepaskan saham itu begitu saja karena baru saja kau menandatanganinya kan?" saran Regan.
__ADS_1
"Di sembunyikan? Di mana? Aku tidak mau mengirim Sisi ke luar negeri, aku akan lebih khawatir memikirkannya meski dia aman bersama kakak dan ayah. Tapi jika kami rindu kami tidak bisa menemuinya setiap waktu." ujar Armana yang sedang duduk di kursi ruang kerjanya sambil memijat pelipisnya yang kini berdenyut nyeri memikirkan penculikan putrinya tadi siang.
Regan yang berada di sebrang menghembuskan nafas kasar. Lalu bagaimana lagi dia akan memberikan sebuah solusi. Ah, dia ingat seseorang, Arman adiknya ingin bisa mengunjungi putrinya sewaktu-waktu kan.
"Ayah punya saudara disana. Hidupnya di kampung di sebuah desa, lumayan terpencil. Tapi menurutku akan aman untuk Sisi dan kau juga bisa mengunjunginya sewaktu-waktu." kata Regan. Tanpa memikirkan hal lain lagi yang memang sekarang tidak bisa membuat Arman berpikir panjang dengan jernih, ia menyetujui ide sang kakak.
Esok harinya, Sisi kecil dibawa ke desa tempat dimana Regan maksud. Sampai desa itu Arman dan Velicia menanyakan alamat tersebut kepada kepala desa, lalu di antarlah mereka ke alamat tersebut. Dan sampai di kediaman itu mereka di sambut oleh pasangan suami istri bernama Brata dan Lastri. Tujuan Arman adalah mendatangi adik ayahnya yang memang saudara satu ayah tapi berbeda ibu, itulah informasi yang Regan beritahukan kepadanya semalam.
Namun orang bernama Bagus Wibowo itu sudah meninggal dan istrinya sudah menikah lagi tinggallah kini hanya anak dan menantunya yang menempati kediaman itu.
πΎπΎ
Β hola readers π
Terimakasih sudah mampir ke karya saya. Buat kalian yang sempat lihat tulisan saya tinggalkan jejak kalian dengan kasih like, kalau suka tulisan saya favoritkan juga boleh, dikasih hadiah dan vote saya lebih berterimakasih ππ. Isi kolom komentar dengan kritik dan sarannya ya untuk perkembangan dan kemajuan author. Terimakasih ππ.
enjoy the reading π€ π
__ADS_1