
"Iya. Tapi sebagai gantinya nanti setelah ulang tahun, Rain akan ayah bawa ke suatu tempat. Tempatnya rahasia, jadi Rain tidak boleh memberitahukan kepada siapapun oke?" kata Andra mengacungkan ibu jarinya.
"Oke." jawab Rain dengan mengacungkan dua jempolnya.
"Tapi bagaimana dengan ibu dan nenek? Lalu Tante Angel dan Om Candra, dan Om Rendra juga?" tanya Rain beruntun dengan polosnya.
Andra menundukkan kepalanya menghembuskan nafas seraya mengusap tengkuk kepalanya yang tak gatal. la kembali menghela nafas panjang lalu menghembuskannya kemudian menatap sang putra.
"Kan kata ayah ini rahasia. Jadi jangan di beritahukan kepada semuanya, termasuk Tante Angel, Om Candra dan Om Rendra." kata Andra memberi pengertian, berharap anak kecil itu mengerti. Susah memang jika meminta anak-anak untuk berjanji agar menjaga rahasia.
"Kepada ibu dan nenek pun juga tidak boleh diberitahukan. Rain bisa jaga rahasia kan?" tanya Andra untuk meyakinkan.
"Kalau tidak bisa jaga rahasia, kita tidak usah jadi ke sana saja." kata Andra lagi sebelum Rain kecil memberi jawaban.
Rain dengan segera mengacungkan jari kelingkingnya, "Rain bisa jaga rahasia kok. Janji!" Tak ingin rencana jalan-jalannya batal dengan cepat Rain menjawabnya.
Sambil tersenyum Andra juga mengalungkan jari kelingkingnya. "Janji ya?" tanyanya sekali lagi untuk meyakinkan dirinya karena anak kecil terkadang lupa terhadap janjinya. Rain menjawabnya dengan anggukan mantap.
"Apa tempat rahasia itu sebuah pulau terpencil?" tanya Rain yang masih penasaran dengan perkataan ayahnya tentang tempat rahasia.
Andra mengerutkan dahinya. "Kenapa Rain bisa berpikir begitu?" tanya Andra.
"Kan kalau di film-film itu tempat rahasia orang dewasa itu pasti sebuah pulau dan ruangan besar." jawab Rain sepengetahuannya.
Andra terdiam sejenak, dari mana anak ini bisa tahu film orang dewasa dengan adanya tempat rahasia itu sebuah pulau dan ruangan besar? Memang dia pernah di ajak menonton film action?
"Mm.. bukan. Kita hanya akan jalan-jalan jauh saja, ke sebuah bukit." jawab Andra.
"Ooh jalan-jalan." sejenak Rain diam lalu.. "horee jalan-jalan." teriaknya kegirangan. Andra pun ikut tertawa terbahak mendengar ekspresi putranya itu.
Hari liburan yang di janjikan Andra untuk membawa Rain jalan-jalan pun tiba. Kali ini hanya keluarga kecil mereka yang melakukan perjalanan jauh ini, tanpa sang nyonya besar dan tanpa pengawalan. Andra sendiri yang mengemudikan mobil yang mereka tumpangi sekarang, inilah yang dinamakan quality family time.
"Sudah sampai?" tanya Rain yang tengah mengucek matanya, ia dibangunkan sang ibu dari tidurnya setelah sampai. Sedang ayahnya sudah turun dari tadi dan kini terlihat tengah berbicara dengan dua orang di depan rumah itu, seorang laki-laki dan perempuan yang usianya terlihat lebih tua dari usia orang tua Rain.
"Iya, kamu capek ya? Tidurnya lelap sekali." kata sang ibu. Rain mengangguk dan kembali memeluk sang ibu, masih enggan untuk turun dia.
__ADS_1
"Rain ingin bermain dengan teman baru?" tanya Andra yang kembali menghampiri mobilnya karena tak ada tanda-tanda Rain dan Fariska akan turun.
"Teman baru?" tanya Rain bingung dan bangkit dari pelukan sang ibu.
"Iya." jawab Andra.
"Siapa?" tanya Rain yang masih tak mengerti siapa yang Andra maksud.
"Ayo turun, akan ayah kenalkan." kata Andra lalu mengulurkan tangannya agar digapai sangat putra. Rain pun yang mengerti maksud ayahnya lalu meraih tangan sang ayah dan mulai turun dari mobil kemudian mengikuti langkah ayahnya dari belakang.
Sambil berjalan Andra menjelaskan bahwa rumah yang kini mereka kunjungi itu namanya villa, dan apa saja yang terdapat di villa itu Andra juga mengatakannya dengan rinci termasuk dua orang laki-laki dan perempuan yang diajaknya berbicara tadi.
"Oh jadi mereka itu Paman Sam dan Bibi Susan yang bertugas menjaga rumah ini." ucap Rain yang sudah mengerti.
"Iya, mereka juga punya seorang putra. Nanti ayah akan kenalkan, jadi Rain bisa berteman dengan dia." kata Andra.
"Apakah teman baru yang ayah maksud adalah putra mereka?" tanya Rain sambil berjalan masih dengan menggandeng tangan ayahnya.
"Iya itu benar. Rain pintar sudah bisa menebaknya." kata Andra.
"Itukah orangnya?" tunjuk Rain bertanya dengan suara sedikit berbisik. Andra tersenyum menjawab pertanyaan putranya.
"Kalian asyik sekali mainnya." sapa Andra pada sepasang anak laki-laki dan perempuan yang sedang asyik bermain pasir laut yang berada di sisi-sisi kolam ikan di sana. Dua anak itu pun terlonjak kaget. Karena asyik bermain mereka sampai tidak mendengar jika ada yang datang menghampiri mereka.
"Om Andra." seru anak laki-laki itu. Ia mengusapkan tangannya yang kotor pada bajunya untuk membersihkan sebelum mengayunkan tangan untuk mencium tangan Andra.
"Apa kabarmu Coky?" tanya Andra pada anak kecil itu.
"Baik Om dan juga sehat." jawabnya. "Om sendiri gimana?"
"Om juga baik dan sehat." jawab Andra.
"Oh iya kenalkan, ini putra Om yang Om maksud waktu itu. Namanya Rain." Andra memperkenalkan putranya.
"Ayo Rain kenalan sama teman baru mu." ujar Andra.
__ADS_1
"Halo.. namaku Rain." kata Rain sambil mengulurkan tangannya.
Coky pun menyambutnya, "namaku Coky."
"Nah kalau ini namanya Luna, dia temanku juga. Nanti kita bisa bermain bersama-sama juga." Luna pun ikut mengulurkan tangannya dan berkenalan kepada Rain.
"Teman kamu Coky?" tanya Andra yang belum tahu asal usul anak perempuan yang katanya teman Coky. Pasalnya ia membeli villa itu agar tidak di ketahui oleh pihak luar tanpa seizinnya. Ia juga belum mendapatkan penjelasan dari Sam dan Susan siapa anak perempuan ini.
"Iya Om. Neneknya baru meninggal dua minggu yang lalu. Sekarang dia yatim piatu karena orang tuanya juga sudah tidak ada. Ayah dan ibu menyuruhnya agar ikut bermain dengan ku." kata Coky menjelaskan seperti apa yang sudah orang tuanya katakan padanya.
Sam dan Susan berpesan agar Coky menjawab begitu jika ada yang menanyakan tentang Luna. Kini Andra sudah paham jika memang itu yang dikatakan oleh Sam dan Susan pada Coky putranya.
"Ya sudah, kalian main bersama-sama ya." kata Andra kepada para anak kecil itu agar mulai mengakrabkan diri.
"Rain mau kan main bersama mereka?" tanya Andra pada Rain yang kemudian di jawab dengan anggukan oleh Rain.
"Rain tidak mau di suruh suruh ya mainnya." kata Rain yang kini sudah bergabung dengan Coky dan Luna bermain pasir dan air dari kolam ikan di sampingnya.
"Kenapa Rain bicara seperti itu?" tanya Andra yang mendengar putranya bicara seperti itu.
"Kalau di sekolah Rain kan paling kecil, kata teman-teman yang lain Rain harus nurut cara bermain mereka. Tapi mereka terlalu sering menyuruh Rain untuk ambil mainan ini dan mainan itu. Rain kan tidak mau ayah." kata Rain dengan jujurnya yang dirinya kini sudah fokus pada pasirnya yang akan dibuatnya menjadi istana.
Andra yang mendengar kejujuran putranya itu lalu menarik nafas panjang dan kemudian membuangnya sambil menggeleng-gelengkan kepalanya. Tak disangkanya ternyata putranya diperlakukan seperti itu di sekolah oleh teman sepermainannya.
Kemudian Andra meninggalkan para anak kecil itu dan membiarkan mereka bermain sendirian. Dengan adanya teman baru Rain jadi bisa melupakan untuk mengajak bermain ke rumah Sisi sementara.
Meski hanya bisa berkunjung setahun sekali atau saat libur panjang sekolah, Rain sangat senang bisa bermain bersama Coky dan Luna.
Sementara Armana dan Velicia yang pada akhirnya juga hanya bisa mengunjungi putrinya setahun sekali karena hidup mereka masih dalam pengawasan anak buah Candra, namun begitu mereka tak begitu was-was karena selama mereka menemui putrinya tak ada pergerakan apapun dari pihak anak buah Candra.
πΎπΎ
Β hola readers π
Terimakasih sudah mampir ke karya saya. Buat kalian yang sempat lihat tulisan saya tinggalkan jejak kalian dengan kasih like, kalau suka tulisan saya favoritkan juga boleh, dikasih hadiah dan vote saya lebih berterimakasih ππ. Isi kolom komentar dengan kritik dan sarannya ya untuk perkembangan dan kemajuan author. Terimakasih ππ.
__ADS_1
enjoy the reading π€ π