GADIS UMPAN MILIK BOS

GADIS UMPAN MILIK BOS
BAB 127 : END


__ADS_3

"Siapa dia?" Sisi bertanya dalam hati. Dan sepertinya ia juga tidak asing dengan rupa laki-laki itu.


Siapa dia? Aku seperti pernah melihatnya. Sisi masih bertanya-tanya dalam hati dengan raut wajah mengingat-ingat.


"Halo Kate. Oh bukan, kau sedang menjadi Sisi sekarang." Sapa laki-laki itu dengan kembali tersenyum setelah mengucapkan kalimat sapaannya.


Sisi terperanjat. Iya, dia ingat sekarang. Laki-laki ini adalah laki-laki yang dulu juga datang pada Sisi saat Sisi sedang kritis setelah menjalankan misi terakhir Rain. Ia memperkenalkan dirinya sebagai malaikat pencabut nyawa.


Sisi ingat juga sekarang jika dulu laki-laki ini juga memberinya kesempatan untuk tetap menjalani hidupnya dan laki-laki itu pun mengabulkan kala itu dengan syarat ia akan kembali lagi kepada Sisi lain waktu. Dan waktu itu adalah sekarang.


"Kau.." Kata Sisi tak sanggup untuk melanjutkan ucapannya. Diam. Cukup lama, terasa lama hingga akhirnya Sisi kembali mengulang ucapannya lagi.


"Kau.. apa ingin mengambil nyawa ku lagi, sekarang?" Tanya Sisi terbata pada setiap katanya.


Ada sedikit rasa sesak dalam dadanya mengingat tentang kematian. Tapi jika dibandingkan dengan dulu saat ia menjadi mata-mata untuk Rain, cara ia mati adalah lebih baik sekarang. Karena sekarang ia memiliki keluarga yang akan memakamkan jasadnya dan ada yang akan menangis saat mengantar kepergiannya.


Sisi tertunduk mengingat semua itu. Tak terasa buliran bening jatuh dari sudut matanya dan setiap butirnya yang jatuh ke bawah lenyap entah kemana.


Masih dengan wajah tersenyumnya sang Tuan Malaikat menjawab pertanyaan Sisi. "Jika kau sudah siap sekarang. Aku akan melakukannya." Kata lelaki itu.


Dan kini mulai terdengar kembali suara bising dan suara orang-orang yang sedang berbicara. Terasa jelas hingga Sisi menegakkan pandangannya mencari sumber suara tersebut. Matanya yang tadi suram karena pandangannya tertutup oleh genangan air matanya kini bisa melihat dengan jelas apa yang ada di sekitarnya.


Dan ruangan yang tadi putih penuh cahaya kuning keemasan kini berubah menjadi sebuah ruangan rumah sakit pasien rawat inap dengan kondisi pasien yang tingkat kekritisannya cukup tinggi, ICU.


"Itu?" Gumam Sisi.


"Please, Albert Anderson. Putrimu sedang sekarat sekarang. Luangkan waktumu barang satu jam." Suara seorang wanita dengan nada khasnya memohon kepada sang suami.


"Daisy, Kate bisa bertahan sampai sekarang pun karena bantuan mereka." Jawab Albert menunjuk pada benda pipih yang sedang dipegangnya. Layarnya menampilkan panggilan masuk dengan nama Sucipto.


Handphone suaminya itu terus bergetar dalam genggamannya. Daisy memalingkan wajahnya sambil menutup matanya, menahan rasa sakit, kesal, kecewa, cemas. Dan yang mendominasi adalah rasa sesalnya.


"Lihatlah! Bahkan petugas medis jauh lebih peduli padanya dari pada dirimu." Ucap Daisy dengan nada penuh penekanan.


"Uang mu hanya mampu membuat mereka mempertahankan raga Kate di dalam sana." Kata Daisy kemudian menghela nafas berat.

__ADS_1


"Tapi tidak dengan nyawanya." Ucapnya kemudian melirih dan tergugu dalam berdirinya di depan pintu ruang rawat putrinya.


"Aku sudah sering mendengar suara mesin itu berubah nadanya Albert. Aku takut jika nada yang dihasilkan sekarang berbunyi melengking panjang." Daisy berkata seolah sedang mencurahkan isi hatinya kepada sang suami.


Dan semua percakapan itu di dengar oleh Sisi. Bahkan bagaimana adegan suami istri itu saling berinteraksi ditangkap oleh penglihatan Sisi. Namun untuk kedua orang itu, Sisi tak terlihat sama sekali.


Sisi ingat dulu saat ia sedang koma, ia juga dibawa ke ruangan ini oleh Tuan Malaikat. Di tempat ini juga ia ditawarkan pilihan antara tetap menjadi Sisi atau kembali menjadi dirinya, Katerina.


Kala itu Sisi memilih untuk tetap menjadi Sisi, sebab dia ingat bagaimana ia dulu menjadi Katerina dalam hidupnya. Terasa hanya seperti piala dalam sebuah lemari pajangan. Mungkin kedepannya kehidupan pribadinya tentang jodoh, pernikahan, rumah tangga bahkan anak akan menjadi sumber tontonan dan pajangan juga. Itulah yang ada dalam pikiran Sisi kala itu.


"Keputusan mu?" Tanpa ingin memberi waktu lebih lama, Tuan Malaikat kembali mempertanyakan hal yang sama seperti dulu setelah ia menajamkan pendengaran Sisi tentang percakapan kedua orang tua Kate.


"Selama Kate berjuang di sana. Aku begini juga berjuang untuk mempertahankan kehidupannya, Daisy." Albert menjawab apa yang dikatakan istrinya yang seolah menyalahkannya dan menganggap usahanya tak berguna.


Setelah mengucapkan kata-kata itu Albert berbalik badan hendak melangkahkan kakinya sambil menerima panggilan dari handphonenya.


Namun belum juga mengatakan kata halo, suara lengkingan mesin dari dalam terdengar nyaring seperti menggema hingga ke luar ruangan VVIP itu. Bagai peringatan untuknya jika waktunya untuk berjuang mempertahankan kehidupan Kate sudah berakhir.


Tercekat. Ia tak bisa bersuara pada lawan bicaranya diseberang telepon sana. Tubuhnya pun tiba-tiba membatu. Air matanya tiba-tiba saja luruh tanpa ia minta dan pendengarannya kini mulai menangkap suara lain.


Menyesal. Itu sudah tidak berarti sekarang.


"KATERINA!!" Teriakan terakhir sang istri sebelum wanitanya itu tergolek tak sadarkan diri.


"Ayo." Ucap sang tuan malaikat setelah Kate menentukan pilihan terakhirnya untuk menjadi Sisi selamanya.


Sebelum kepergiannya meninggalkan raganya, Kate diberi kesempatan terakhir untuk melihat wajah kedua orang tuanya cukup lama hingga akhirnya Tuan Malaikat mengajaknya kembali untuk menjadi Sisi.


Tak terasa lelehan air mata juga mengaliri pipinya kembali setelah melihat pilunya sang ibu menangisi kepergiannya. Namun ini semua sudah menjadi keputusannya.


Dan di sinilah ia sekarang, ruang rawat Sisi. Secepat ini Tuan Malaikat membawanya kembali pada raga Sisi yang kini juga dibantu dengan alat penunjang kehidupan.


"Bangunlah Sisi! Aku berjanji tidak akan menghamili mu lagi setelah ini!"


Terdengar suara teriakan laki-laki dari luar ruangan yang ia bisa menebak jika itu adalah suara Rain. Bibirnya mengulas senyum tawa mendengar suara laki-laki itu dengan air mata yang masih mengalir di pipinya.

__ADS_1


Lucu sekali menurutnya. Rain tak akan menghamilinya lagi jika ia mau bangun, katanya.


"Kau siap?" Tanya Tuan Malaikat. Sisi mengangguk sebagai jawabannya. Tanpa menunggu lama Tuan Malaikat menjalankan tugas terakhirnya.


"Kau, Katerina Anderson. Ku cabut semua tentang mu dengan nama itu dan kini semua tentang mu hanyalah Sisi Velicia Armana." Ucap Tuan Malaikat.


Tuan Malaikat menghapus keberadaan Kate termasuk ingatan Sisi tentang Kate sepenuhnya dan menjadikan Kate sebagai Sisi seutuhnya termasuk raganya.


Sisi kemudian tersadar dengan air mata yang mengalir dari kedua sudut matanya. Ia lupa baru saja bermimpi apa hingga terbawa menangis sampai ia kembali sadar sekarang.


Ucapan syukur terdengar dari semua orang yang menunggunya termasuk dari dokter yang bertugas menanganinya hari itu.


"Kenapa?" Tanya Sisi dengan suara lemah menatap ke arah Rain yang mana wajah laki-laki tampan itu sudah kusam dan sembab penuh dengan air mata di pipinya. Sisi seperti lupa tentang apa yang terjadi sebelumnya.


"Suttt." Kata Rain tak ingin Sisi berbicara lebih lagi.


...* * *...


"Dia sehat. Lihat wajahnya, mirip sekali dengan mu." Kata Velicia yang sedang mendampingi Sisi memangku putranya.


Ya, anak Sisi lahir dengan jenis kelamin laki-laki. Namun wajahnya menurun dari wajah Sisi yang terlihat cantik dengan bola mata yang memancarkan keteduhan.


Hari ini sudah satu bulan dari usia kelahiran putranya. Dan sekarang ia sedang menjemur putranya di dalam pangkuannya ditemani oleh sang ibu yang baru saja menjadi nenek itu.


Mahendra Putra Aditama adalah pelengkap kisah terakhir Sisi dan Rain.


🐾🐾


Hola readers πŸ‘‹


Terimakasih sudah mampir ke karya saya. Buat kalian yang sempat lihat tulisan saya tinggalkan jejak kalian dengan kasih like, kalau suka tulisan saya favoritkan juga boleh, dikasih hadiah dan vote saya lebih berterimakasih πŸ˜πŸ’ž. Isi kolom komentar dengan kritik dan sarannya ya untuk perkembangan dan kemajuan author.


...----------------...


Akhirnya, novel Gadis Umpan Milik Bos sudah selesai. Terima kasih untuk para readers ku yang sudah mau membaca dan ngasih sawerannya. Baca juga karya ku yang lain ya. Thanks.

__ADS_1


__ADS_2