
Rehan kikuk mendengar ucapan Arbre barusan, bagaimana dia akan memanggilnya nanti, pikirnya.
"Ah iya..." kata-katanya menggantung, tak bisa meneruskan kata yang tepat untuk melengkapi di belakangnya.
"Ayah, panggil saja begitu. Seperti Velic memanggil ku." jawab Arbre dengan senyumnya yang lebar.
Yah setelah Rehan mengutarakan putusannya malam itu, kini dia bisa kembali tersenyum lepas. Tidak salah bukan jika kini dia menunjukkan kebahagiaanya kepada calon menantunya itu? Semburat merah menghiasi pipi Velicia kala di tatap Rehan, dia malu dengan ucapan ayahnya yang menyuruh Rehan juga memanggilnya ayah.
Rehan lalu tersenyum tipis, "Iya, Ayah. Kami berangkat dulu." pamit Rehan sekali lagi.
Mobil pun melaju dengan cepat, mereka duduk berdampingan dengan saling diam selama perjalanan.
"Apa benar disini alamatnya?" tanya Rehan dalam hati yang tengah memasukkan mobilnya ke arah parkiran.
Dia mengeluarkan handphonenya lalu menghubungi sang kakak. Memang Regan memiliki beberapa properti yang dijadikannya sebagai tempat tinggal karena istrinya alias kakak iparnya adalah anak dari pengusaha properti dan saat mengunjungi kakak iparnya dulu bukan alamat ini yang ia datangi. Kemarin Regan menyuruhnya untuk membawa Velicia ke alamat yang sekarang ini dia tuju.
"Kakak ini benar alamatnya kan, GRIYA CEREMAI?" tanya Rehan saat sambungan teleponnya di jawab kakaknya.
"Yes, kau sudah tiba? Dimana sekarang?" tanya Regan.
"Kau bisa langsung masuk, katakan pada scurity di sana tamu atas nama Regan. Dia akan mengantar mu kesini." ujar Regan lalu menutup panggilannya.
Rehan lalu mengajak Velicia turun dari mobil dan mengajaknya masuk sesuai instruksi kakaknya. Dan benar saja sang scurity mengantar mereka sampai lantai paling atas.
"Ting" suara dentingan lift berhenti di lantai 10.
__ADS_1
"Silahkan, saya hanya bisa sampai sini." ucap sang scurity sambil membungkuk lalu meninggalkan mereka.
Hanya ada satu pintu yang ada di lantai yang mereka pijaki saat ini.
"Rehan.." ucap Velicia lalu meraih lengan bawah Rehan. Dia sedikit takut dengan suasana yang sepi di lantai paling atas ini.
"Tenang saja." Rehan tersenyum sambil mengelus tangan Velicia yang kini terasa dingin. Dia seperti tahu jika Velicia ketakutan. Rehan lalu berjalan ke arah pintu di depannya lalu menekan tombol bel.
"Oh sepertinya sudah datang. Biar aku yang membukakan kau lanjutkan saja menata piringnya." ujar Regan yang mendengar bel pintu.
Klek, pintu dibuka lebar.
"Selamat datang." sambut Regan kepada kedua orang di depannya itu sambil mengulas senyum ramah.
Velicia ternganga terpukau, hampir saja dia terpesona dengan penampilan calon kakak iparnya yang menyambut mereka itu. Wajahnya memang hampir mirip dengan Rehan, pantas saja namanya juga hampir sama. Hanya saja potongan rambut Regan lebih rapi dan tampilannya kharismatik memancarkan aura kedewasaan.
"Selamat datang. Silahkan duduk." sapa Belleza yang sudah menyiapkan segala hidangan di atas meja makan.
Ya, Rehan dan Velicia di tuntun Regan untuk mengikutinya ke arah meja makan. Rencananya malam ini Regan mengajak calon pasangan pengantin itu makan malam. Mereka ingin mengakrabkan diri juga.
"Kalian pasti lelah, ayo minum dulu dan nikmati makanannya, kalian pasti belum makan juga." ujar Belleza yang sudah duduk di kursi tempatnya begitu pula dengan Regan.
Dengan sedikit malu Rehan dan Velicia juga ikut duduk lalu mengambil gelas kemudian minum dan meletakkan kembali gelas itu kemeja secara bersamaan. Regan tertawa kecil melihat tingkah mereka yang terlihat kompak.
"Heheh, jangan gugup. Ini sambutan kami untuk kalian, Belleza sengaja memasak semua ini sendiri untuk menjamu kalian. Jadi makanlah dengan nyaman." ucap Regan.
__ADS_1
Belleza pun ikut tertawa kecil mendengar ucapan Regan, "Iya kalian jangan merasa tidak nyaman begitu. Sebentar lagi kita kan akan menjadi keluarga, anggap saja ini sebagai sambutan untuk keluarga baru kita, iya kan Rehan?" ujar Belleza menatap Rehan sambil membuka piring di depannya.
Rehan yang ditatap begitu jadi salah tingkah, bukan karena dia masih merasa gugup atau sungkan terhadap Belleza tapi karena malu sekarang di sampingnya ada Velicia.
"Selamat makan." ucap Regan dan Belleza bersamaan dengan sudah siap untuk menyuap makanannya.
"Ah iya selamat makan." sahut Velicia yang mendengar dengan sedikit gugup.
Tahu kan perasaan Velicia yang sedang di hadapkan pada anggota keluarga calon suami yang dimana orang-orang itu adalah orang wah di atasnya. Begitulah, saking gugupnya dia seperti sedang berhadapan dengan guru BK yang mendapati dirinya sedang bolos sekolah.
Mereka akhirnya makan malam dengan tenang dan tak ada yang bersuara satu pun. Terasa seperti sedang khidmat menikmati makan malam mereka, yang sebenarnya adalah karena mereka dalam keadaan canggung.
"Masakan mu enak seperti biasa." puji Regan terhadap istrinya setelah selesai menyantap dessert nya.
"Ooh.. terimakasih." jawab Belleza sambil menaruh tangan di dadanya tanda tersanjung. Rehan dan Velicia di buat kicep oleh kelakuan sepasang suami istri di hadapannya itu, mereka terlihat sangat mesra.
Setelah makan malam mereka lalu melakukan perbincangan yang cukup lama hingga tak terasa kecanggungan di antara pasangan itu hilang. Suasana menjadi hangat karena masing-masing menceritakan tentang kehidupannya untuk mempererat hubungan.
"Jadi kau akan berangkat besok?" tanya Regan yang sekarang obrolan mereka membahas tentang keberangkatan Rehan dan Velicia.
πΎπΎ
...^^^----------------^^^...
hola readers π
__ADS_1
Terimakasih sudah mampir ke karya saya. Buat kalian yang sempat lihat tulisan saya tinggalkan jejak kalian dengan kasih like, kalau suka tulisan saya favoritkan juga boleh, dikasih hadiah dan vote saya lebih berterimakasih ππ. Isi kolom komentar dengan kritik dan sarannya ya untuk perkembangan dan kemajuan author. Terimakasih ππ.
enjoy the reading π€ π