
Keesokan paginya.
Rain bangun sambil memegangi kepalanya yang terasa pusing. Dia melihat Sisi masih tidur lelap dibalik selimutnya. Dia segera ke kamar mandi membersihkan dirinya.
Gemericik air dari kamar mandi dan sepoi angin yang menerpa kulit membangunkan Sisi dari tidurnya. Dia membuka mata dan mencoba untuk bangun. Seluruh badannya terasa nyeri dan remuk, dia teringat kejadian semalam dan segera ingin keluar dari kamar Rain.
Dia mengeluarkan diri dari selimut yang menutupi badannya. Dilihatnya gaun tidur yang ia pakai semalam telah jatuh kelantai dan kotor oleh wine. Dia berjalan menuju lemari baju Rain dan mencari baju yang bisa dipakainya.
Dengan perlahan dia berjalan keluar agar tak menginjak bekas pecahan gelas dan botol wine di lantai. Kemudian dia membuka kunci pintu kamar Rain lalu pergi keluar menuju kamarnya secepatnya. Tanpa dia sadari nyonya Ratna melihat langkahnya.
Rain yang selesai mandi mendapati Sisi tak lagi di kamarnya. Dia duduk di ranjang bagian bekas Sisi tidur dan melihat noda darah dibalik selimut yang sedikit tersingkap. Dia terkejut.
Diingatnya kembali kejadian semalam. Dia menyerang Sisi dengan kasarnya dan menyentuhnya dengan paksa. Dini hari Rain terbangun dan mendapati Sisi tertidur disampingnya tanpa baju lalu dia menyelimutinya. Kini dia merasa bersalah karena telah mengambil kegadisan Sisi dengan paksa. Rain lalu bergegas memakai baju dan berencana menghampiri Sisi untuk meminta maaf kepadanya.
Sementara di kamar Sisi.
Dengan segera Sisi masuk ke kamar mandi dan berendam diri dalam bathtub yang hangat. Seluruh tubuhnya terasa sakit dan nyeri pada bagian tertentu. Dilihatnya banyak bekas merah di kulitnya yang putih mulus. Dia tak tau lagi harus sedih atau kecewa. Dia menangis sampai tertidur dalam bathtub.
Nyonya Ratna melihat Rain berjalan tergesa menuju kamar Sisi.
__ADS_1
Rain mengetuk pintu namun tak ada jawaban. Dia lalu membuka pintu dan dicarinya Sisi. Dia menemukan Sisi yang tengah tertidur di dalam bathtub. Dibukanya penyumbat bathtub lalu ditutupinya badan Sisi dengan handuk dan diangkatnya ke atas kasur.
Diselimuti nya tubuh Sisi agar tetap hangat. Dia melihat banyak bekas merah di tubuh Sisi, dia sekarang merasa sangat bersalah. Dia mengusap kepala Sisi lalu berbisik "maaf". Rain membiarkan Sisi agar tidur dengan pulas lalu dia pergi keluar dari kamar.
Sementara di ruang tengah.
Nyonya Ratna yang sedari tadi hanya melihat Sisi keluar dari kamar Rain lalu Rain yang keluar dari kamarnya menuju kamar Sisi. Sekarang Rain keluar dari kamar Sisi sendirian. Dia merasa pusing melihatnya.
"Rain. Sini nak. Cucuku."panggil nyonya Ratna. Rain menoleh ke arah neneknya lalu menghampirinya.
"Ada apa nek?"tanya Rain sembari berdiri.
"Duduklah."perintah neneknya. Rain lalu duduk mengikuti perintah neneknya.
"Susan sudah mengatakannya padaku. Dia menunjukkan buktinya pada nenek setelah dia dan Sam membersihkan kamar mu barusan. Temui orangtuanya lalu nikahi dia jangan sampai berbuat hal yang sama seperti pamanmu."kata nyonya Ratna kepada cucunya.
Rain terkejut dan menyela pembicaraan neneknya, "nenek...". Rain terdiam saat neneknya mengangkat tangannya.
"Jangan berbuat seenak mu hanya karena tempat ini tidak ada yang mengetahui. Coky tidak pernah melaporkan padaku bahwa ternyata sikapmu seperti ini."nyonya Ratna sedikit emosi.
__ADS_1
"Apa di luar sana kau juga memperlakukan hal yang sama pada semua wanita?"tanya nyonya Ratna dengan tegas.
"Nenek!" Rain menghentikan ucapan neneknya.
"Aku bukan laki-laki seperti itu! Sisi adalah yang pertama. Dia satu-satunya gadis yang aku sentuh." tegas Rain.
"Sebenarnya...."Rain menceritakan kejadian semalam. Ratna terkejut mendengar pengakuan dari cucunya. Dia tak habis fikir, untung saja Rain tidak membunuh Sisi. Padahal dirinya sudah melarang Sisi untuk mendekati Rain semalam takut sesuatu yang buruk terjadi.
"Kalau begitu lakukan tangung jawabmu sebagai laki-laki. Temui orangtuanya."pinta nyonya Ratna.
Rain bingung mendengar ucapan neneknya dengan ragu dia menjawab "tapi nek, sebenarnya Sisi... arrghh".Rain mengacak-acak rambutnya. Lalu dengan terpaksa dia menceritakan siapa Sisi sebenarnya. Ratna sangat terkejut dan makin syok mendengarnya.
Selama ini dia meminta Coky menjadi asisten pribadi Rain selain untuk menjaganya juga untuk mengawasi Rain. Tak disangkanya Coky tak pernah menceritakan hal bahwa Rain pernah pergi ke pasar gelap. Dan membeli seorang gadis untuk dijadikan umpan balas dendamnya. Ini benar-benar tindakan yang ilegal.
Ratna merasa terkhianati. Dia tak habis fikir dan sekarang tak bisa berfikir. Bagaimana bisa cucunya menjadi sebegitu kejamnya meski dia tau Rain adalah pribadi yang dingin setelah kematian orangtuanya. Dia sudah terjerumus jauh dalam lubang dendam.
Ini juga semua karena salahnya yang tak bisa menjaga keutuhan keluarga Aditama setelah kepergian suaminya hingga anak-anaknya menjadi saling menikam satu sama lain. Dia merasa sangat berdosa. Mungkin duduk di kursi roda selamanya adalah hukuman untuknya. Dia terdiam bersedih dan menitikkan air mata.
"Nenek. Nenek jangan bersedih. Ini semua salah Rain."Rain memegang tangan neneknya.
__ADS_1
"Kau melakukannya dalam keadaan tidak sadar. Siapapun dirinya kedepannya jika terjadi sesuatu padanya kau harus bertanggung jawab."pesan neneknya. Rain hanya mengangguk tapi tak berjanji akan menepati.
πΎπΎ