
Rain dan Sisi sibuk dengan tabloid yang mereka pegang masing-masing. Mereka membuka lembar per lembar tabloid tersebut melihat-lihat gambar model gaun dan tuksedo yang menurut mereka sesuai dengan keinginannya. Sesekali Rain melirik ke arah Sisi, namun Sisi masih saja fokus pada gambar di tabloid sambil mengusap-usap melihat detail gaun yang menarik perhatian matanya.
"Mm. Sisi. Kau sudah memutuskan?" tanya Rain.
"Ah, belum Tuan. Saya masih bingung. Gaunnya sangat cantik cantik dan indah, saya belum bisa menentukan pilihan saya." kata Sisi melihat sekilas ke arah Rain lalu kembali fokus pada tabloid di tangannya.
"Ehm. Sisi. Aku kan sudah menjadi calon suami mu... jangan bicara formal seperti itu. Dan.. ini tempat umum, jangan panggil aku Tuan. Itu terdengar aneh." kata Rain dengan nada ragu dan malu sambil melihat sekeliling takut percakapan mereka di dengar oleh orang lain dan orang lain akan berfikir aneh tentang mereka.
Mendengar perkataan Rain, Sisi seketika menghentikan tangannya membuka lembaran tabloid.
"Ah iya. Karena sudah terbiasa dengan panggilan seperti itu aku jadi lupa juga kalau dia akan jadi suamiku." gumamnya dalam hati.
Sisi memasang wajah tersenyum, " ah maaf aku lupa suamiku." katanya dengan refleks. Namun seketika ekspresinya berubah ketika menyadari kesalahannya dalam pengucapan.
"Ah maaf, maksud saya Tuan Rain. Ah bukan, maksud ku Rain." kata-kata Sisi benar-benar belepotan. Dia sudah tak tahu lagi berkata bagaimana, mukanya benar-benar memerah.
Rain yang mendengarnya menutupi mulutnya sambil tertawa kecil. Direngkuhnya kepala Sisi lalu di letakkan ke dadanya sambil dipeluk.
"Heh heh.. hentikan Sisi. Sudah ku bilang jika sampai terdengar orang lain mereka akan berfikir yang aneh." bisik Rain sambil menutup tawa kecilnya.
Disana dalam dekapan Rain wajah Sisi merona, dia merasa malu dengan tingkahnya. "Astaga aku ini." gumamnya dalam hati.
"Baiklah. Kau sudah menentukan pilihan mu? Apa perlu aku bantu memilihnya?" tanya Rain yang masih memeluk Sisi.
"Mm. Aku ada beberapa yang sudah menarik perhatianku." kata Sisi melepaskan diri dari pelukan Rain. Dia menata kembali rambutnya agar rapi untuk menutupi malunya.
Dia mengambil tabloid dan ditunjukkan kepada Rain gambar gaun ballgown yang dia kehendaki. "Antara ini, ini dan ini." kata Sisi sambil membalik-balikan lembaran tabloid.
Rain memperhatikan dengan seksama. Dia merasa Sisi seolah terbiasa dengan model sebuah gaun, apa karena dulu dia sering mengajaknya untuk membeli gaun dan dress, pikirnya dalam hati.
"Aku ingin warna putih. Dan bagian bahuku yang terluka tertutup." imbuh Sisi sambil mengusap sekilas pundaknya yang pernah terluka.
Dia kurang percaya diri jika harus memakai gaun yang terbuka bagian atasnya sekarang. Rain mengerti maksud Sisi. Dia masih merasa sangat bersalah jika sesuatu yang buruk dari Sisi diungkit lagi. Rain mengusap-usap bahu Sisi lembut.
__ADS_1
"Meski bekas itu di pipimu sekalipun aku tidak akan keberatan. Aku pastikan tidak ada orang yang akan berbicara buruk tentang mu." ujar Rain dengan nada rendah.
Dia memegang wajah Sisi dengan tangan satunya dan menatapnya dalam. Di ciumnya kening calon istrinya dengan lembut. Sisi merasa seolah Rain mentransfer energi positifnya kepadanya. Dia lalu tersenyum lebar menatap Rain.
"Sial." umpat Rain dalam hati. Desiran yang dulu pernah ia rasakan setiap bertatapan dan bersentuhan dengan Sisi datang kembali.
"Ehm." Rain memalingkan wajahnya kembali melihat ke tabloid. "Aku rasa ini bagus. Bisa untuk menutupi bahumu yang terdapat bekas luka. Ini terlihat sederhana namun elegan." kata Rain.
Sisi pun mengalihkan pandangannya ke arah tabloid dan melihat gambar yang dimaksud Rain.
"Ah benar." katanya.
"Sebenarnya aku juga ingin memilih ini tadi. Karena aku juga harus menutupi bagian perutku juga." imbuh Sisi dengan lirih.
Rain sontak menatap perut Sisi. "Ah benar. Banyak sekali yang harus dia tutupi. Ini semua karena aku. Karena egoku dan penyakit sial ku." kata Rain dalam hati.
"Iya baiklah. Ayo kita tanyakan kepada pegawai yang tadi." kata Rain agar Sisi tak mengingat segala kekurangannya. Itu juga membuat hatinya ikut sakit jika terus di ungkit.
Rain lalu mengurungkan tangannya. Dia mengambil tabloid yang dipegangnya dari tadi. Di tunjukkan nya gambar yang ia pilih kepada Sisi.
"Ini yang aku pilih." katanya. Gambar tuksedo serba hitam dengan kemeja putih dan dasi merah.
"Apa-apaan ini?" gumam Sisi dalam hati.
"Tuan..."kata Sisi sambil masih menatap tabloid. "Ah maksud ku, Rain... Kau kan yang akan menikah bukan yang menjadi tamu pernikahan." Kata Sisi dengan nada sedikit protes.
"Kau serius berniat menikahi ku kan?" tanya Sisi tegas.
Rain memasang raut muka tak mengerti. Apa ada yang salah dengan pilihannya, pikirnya.
"Tentu saja aku serius. Aku sangat serius dengan niat ku." jawab Rain dengan hati-hati. Dia takut salah bicara yang nantinya menimbulkan perdebatan atau situasi tak nyaman.
__ADS_1
"Apa ada yang salah dari pilihan ku?" tanyanya dengan langsung pada inti.
Sisi menghela nafas panjang dia lalu berkata, " kau setiap hari memakai setelan dan suit berwarna hitam dan itu seperti sudah menjadi kebiasaan. Setidaknya ubahlah untuk yang satu ini. Ini untuk acara pernikahan. Pernikahan mu, pernikahan ku, pernikahan kita bukan pernikahan mu dengan pekerjaan mu." kata Sisi sedikit kesal.
Rain terhenyak mendengar perkataan Sisi. "Ah benar, lagi-lagi aku masih memikirkan diriku sendiri." katanya dalam hati.
"Ah, maafkan aku. Aku selalu mementingkan diri sendiri. Aku akan lihat-lihat lagi." katanya.
"Kita akan lihat bersama. Aku ingin warna yang senada." kata Sisi sambil meraih tabloid yang ada di tangan Rain.
Rain tertegun dengan sikap Sisi yang sekarang. Sudah lama tidak bertemu sikapnya jadi ada yang berubah. Dia seperti sedang perhatian dengan hal yang berhubungan dengan dirinya. Seperti naluri seorang wanita atau ibu?, pikirnya.
"Tuksedo putih ini kelihatan bagus. Kamu kerja biasa sering memakai jas kalau menikah pakai jas juga akan terlihat biasa juga. Kita cari model yang berbeda ya." Sisi sibuk membuka lembaran lembaran halaman tabloid.
Rain hanya bisa memperhatikan wajah Sisi dari samping. "Dia jadi berbeda setelah hamil, atau memang karena kita sudah lama tidak saling bertemu?" ujarnya dalam hati.
"Nah yang ini, bagaimana?" tangan Sisi menunjuk ke gambar lalu menatap ke muka Rain. Rain terkesiap, dia gelagap ketauan sedang menatap Sisi dari tadi. Dia takut Sisi akan berfikir yang aneh tentangnya.
"Ahm. Yah iya ini bagus." jawabnya.
Sisi menatap wajah Rain dengan serius, "lihat gambarnya." katanya sambil melirik kan bola matanya ke arah samping. Rain lalu melihat gambar pada tabloid tersebut,
"Ah, iya menurut ku ini juga cocok di sandingkan dengan gaun milikmu tadi."
"Baiklah kalau begitu kita sudah putuskan untuk baju pernikahannya. Ayo kita panggil advisor nya." kata Sisi.
"Sebentar. Bagaimana dengan keluarga kita?" tanya Rain. "Baju mereka?".
"Kita akan konsultasikan juga yang seperti apa yang cocok untuk bersanding dengan baju kita." jawab Sisi.
"Baiklah."kata Rain menurut dengan perkataan Sisi.
__ADS_1
πΎπΎ