GADIS UMPAN MILIK BOS

GADIS UMPAN MILIK BOS
BAB 47


__ADS_3

Hari berikutnya.


"Sepertinya semakin hari semakin sibuk ya." gerutu Coky yang sedang bekerja di ruang kerja Rain.


"Sekarang hari Minggu, bukan libur yang ku dapatkan malah lembur." Dia sangat kesal karena akhir-akhir ini banyak sekali pekerjaan.


"Padahal dulu aku berjanji akan terus bersama Luna jika tugas terakhir sudah selesai." dia menghela nafas panjang.


"Brak", suara pintu dibuka dengan keras.


"Coky sekarang giliran mu melakukan pengukuran baju. Pergilah ke tempat ini." perintah Rain memberikan kartu nama dari Mr. Ivy dulu.


"Ajak Luna dan pilih tiga orang pelayan yang lain untuk menjadi bridesmaids. Kau pesan untuk groomsmen juga, orangnya kau saja yang pilih." ucap Rain.


Karena Luna hanya mengenal orang-orang dari pelayan Rumah Besar Aditama jadi untuk bridesmaids diputuskan pelayan dari kediaman Aditama. Lagipula dari pihak keluarga besar Arman juga belum ada yang punya anak.


"Akhirnya keluar bersama Luna. Tapi masih saja direpotkan juga." kata Coky dalam hati.


"Apa saya bisa libur dan tidak melanjutkan pekerjaan?" tunjuk Coky pada komputer dan tumpukan file.


"Hari ini saja." bujuknya pada Rain.


"Baiklah. Lagi pula akan memakan waktu lama." jawab Rain. Coky pun tersenyum lalu membungkukan badan dan pergi meninggalkan ruang kerja Rain.


Hari-hari berjalan sangat sibuk hingga Rain dan Sisi tak bisa bertemu dan berkomunikasi pun jarang. Hingga hari dimana Armana Agustino dan Belleza Armana datang ke kediaman Armana.


"Welcome ayah, kakak ipar." sambut Arman yang dibelakangnya diikuti oleh Sisi dan Velicia.


"Silahkan duduk. Kami punya teh favorit disini. Mina.." ujar Arman yang merasa sangat senang ayah dan kakak iparnya sudah datang.


Agustino dan Belleza pun duduk begitu pula Sisi dan Velicia.


Mina datang menyajikan teh yang masih panas dan menuangkan ke dalam cangkir lalu undur diri setelahnya.


"Ini Sisi, Arman? Cantik sekali." tanya Belleza yang melihat wajah Sisi tampak bersinar.


"Sini nak. Duduk dekat kakek dan Tante." ajak Belleza. Sisi pun melihat ke arah Velicia, Velicia mengangguk mengiyakan.


"Berapa tahun usia mu sekarang?" tanya Belleza sambil memegang tangan Sisi.


"Sekarang sudah 21 tahun Tante." jawab Sisi.


"Ah lembutnya suara mu." Belleza mengusap wajah Sisi.


"Selamat ya. Kamu akan jadi istri nanti." ucap Belleza lalu dia mengambil sesuatu dari dalam tas jinjing kecilnya. Sebuah gelang giok berwarna hijau cerah lalu dipakaikan ke tangan Sisi.


"Syukurlah ternyata muat." ucap Belleza lalu tersenyum pada Sisi.


"Terimakasih Tante. Ini terlalu awal untuk memberikan hadiah." ucap Sisi tersenyum senang.


"Tidak gadis cantik. Harusnya kami lakukan ini dari dulu. Memberi mu banyak hadiah." ujar Agustino yang berada di samping Sisi. Belleza mengangguk membenarkan perkataan Agustino.


"Terima saja nak." ucap Arman.


"Oh iya. Kapan kak Regan akan kesini kak Belle?" tanya Arman.


"Entah lima hari atau tujuh hari sebelum hari H." jawab Belleza.


"Dia belum memastikan. Dia pasti juga ingin berlama disini seperti kami." kata Belleza menatap Agustino.


"Ha ha ha.. benar. Anak yang suka pekerjaan itu pasti sangat iri kepada kita." kata Agustino.


"Itu semua karena ayah juga. Ayah yang ingin bersenang-senang lebih awal lalu mengangkatnya menjadi Presdir." ujar Arman. Agustino tertawa lebih keras karena ucapan Arman sangat telak.


"Aku kan sudah susah payah membangun perusahaan dan membesarkan kalian, jadi sudah waktunya aku bersenang-senang." ujarnya.

__ADS_1


"Tapi kau benar-benar anak yang licik dan keras kepala." katanya lagi masih sambil tertawa.


"Kau tahu nak. Ayah mu kabur ke kota ini karena tidak ingin jadi pewaris perusahaan ayahnya. Ha ha ha.." ujar Agustino sambil tertawa mengingat masalalu.


"Ayah hentikanlah. Jangan ungkit lagi." tukas Arman. Velicia dan Belleza hanya ikut tertawa kecil.


"Bagaimana kalau kita makan dulu sambil menunggu pekerja menyiapkan kamar untuk kalian." kata Velicia.


"Baiklah. Aku ingin coba lagi masakan disini setelah sekian lama." kata Agustino. Mereka pun berdiri menuju ruang makan. Makanan tersaji begitu banyak demi menyambut kedatangan mereka.


...* * *...


"Aku sekarang tinggal satu rumah dengan mu tapi jarang sekali ada waktu untuk bersamamu." kata Coky kepada Luna yang kini mereka sedang berada di galery wedding.


"Tuan Rendra ternyata juga ikut. Tadinya aku ingin berdua denganmu lebih lama. Tapi ternyata harus mengawal orang lain lagi." keluh Coky.


"Berhentilah mengeluh dan lakukan tugasmu dengan baik." ujar Luna. Setelah begitu lama akhirnya mereka selesai melakukan pengukuran baju.


"Aku ada janji dengan seseorang jadi aku akan pergi lebih dulu."k ata Rendra kepada Coky.


Yah setelah Candra masuk penjara Rendra semakin terbuka kepada Rain dan orang-orang sekitarnya karena sekarang tidak ada yang membuatnya merasa terancam.


"Baiklah Tuan." kata Coky sambil membungkuk.


Setelah kepergian Rendra, Coky menyuruh bodyguard yang nanti akan menjadi groomsmen pengantin laki-laki untuk pulang lebih dulu bersama pelayan yang akan menjadi bridesmaids yang dibawa Luna.


"Akhirnya. Setelah sekian lama aku bisa lagi bersama mu berdua saja." ucap Coky.


"Hh.. kelakuan mu seperti anak kecil saja Coky." ujar Luna.


"Aku kan memang teman kecil mu." jawab Coky.


"Saat aku tinggal di Rumah Besar kenapa kau tidak sekalipun datang untuk menemuiku lebih dulu? Kau kan dulu berkata akan memberikan jawaban untuk ku jika tugas terakhir sudah selesai." kata Coky sambil fokus menyetir. Luna terdiam diingatkan janjinya oleh Coky.


"Kau sengaja menghindari ku ya?" desak Coky.


"Fokuslah menyetir. Kita akan kemana? Ini bukan arah menuju ke Rumah Besar." ujar Luna menghindari pertanyaan Coky.


"Kau selalu saja begitu kepada ku." kata Coky yang menyadari sikap Luna.


"Akan ku bawa kau ke arah masa depan ku." ujar Coky tak ingin lagi banyak tanya lalu melajukan mobilnya dengan cepat. Sampai pada suatu gedung apartemen yang terlihat megah mereka berhenti.


"Ayo turun." Coky membukakan pintu untuk Luna.


"Cepatlah. Waktuku tak banyak. Pasti sebentar lagi tuan menelpon ku." kata Coky. Luna turun dari mobil lalu tangannya digenggam oleh Coky dituntun berjalan menuju gedung tersebut.


"Selamat siang pak Coky. Anda berkunjung ya. Ini kuncinya." sapa resepsionis.


"Iya. Selamat siang. Apa sudah dibersihkan tempatnya?" tanya Coky.


"Sudah pak. Sesuai instruksi bapak, setiap minggukami bersihkan." resepsionis memberikan kunci apartemen.


"Terimakasih." Coky mengangguk menerima kunci tersebut.


Coky lalu berjalan menuju lift tanpa melepas genggamannya pada Luna. Lift berhenti di lantai 15, mereka pun keluar. Coky lalu membuka pintu apartemen dengan kunci di tangannya dan menyuruh luna melepas sepatunya untuk mengganti dengan sendal dalam ruangan.


"Bagaimana menurutmu?" tanya Coky kepada Luna memperlihatkan sekeliling.


"Apanya?" tanya Luna.


"Luna, kau serius?" Coky bertanya dengan nada serius sekarang.


"Apanya yang serius?"Luna masih mengelak.


"Bagaimana ya. Sepertinya aku terlewat sabar terhadap mu. Sampai tugas selesai pun aku masih saja sibuk." ujar Coky sambil menyeret tangan Luna menuju ke kamar. Dia lalu menghempaskan tubuh Luna ke kasur.

__ADS_1


"Sepertinya kalau sedikit di paksa kau akan menjawab dengan benar." kata Coky lalu melepas jas dan rompinya.


"Tunggu dulu Coky. Apa yang ingin kau tanyakan sebelumnya tadi?" Luna mulai gelagap.


"Pertanyaan ku sudah basi. Tidak ada pertanyaan ulang lagi." Coky mulai menindih tubuh Luna dan mengunci tangannya.


"Baiklah aku akan jawab dengan benar. Iya rumah ini bagus." jawab Luna dengan tergesa.


"Aku tidak mempertanyakan tentang rumah." ujar Coky sambil membuka satu kancing bajunya.


"Baiklah. Iya. Iya. Iya. Untuk semua pertanyaan mu jawabannya, iya." teriak Luna.


"Pertanyaan yang mana?" Coky membuka satu kancing bajunya lagi.


"Iya, aku bersedia menjadi istri mu." teriak Luna.


"Ah. Kau akhirnya bisa serius menanggapi ini." ujar Coky yang sudah membuka tiga kancing bajunya.


"Jadi tolong, lepaskan aku. Sekarang." pinta Luna dengan gagu.


"Baiklah." Coky bangkit lalu merapikan kembali bajunya.


"Apa menurutmu ini sudah sesuai dengan keinginan mu?" tanya coky sekali lagi tentang apartemennya.


"Iya, ini lebih besar dari yang aku bayangkan. Aku kira kau akan membeli rumah dekat dengan distrik villa Bougenville." kata Luna ikut bangkit dari tempat tidur.


"Kau ingin di daerah sana?" tanya Coky.


"Tapi aku masih bekerja untuk tuan Rain. Jadi aku harus mencari yang berada di sekitar kantor." ujar Coky.


"Anggap ini sebagai tempat masa muda. Lalu untuk masa tua, kita cari tempat sekitar daerah villa Bougenville." ujar Coky.


"Tidak perlu mencari. Rumah peninggalan orangtuaku juga tidak ada yang mengisi." kata Luna sambil melihat-lihat ruangan.


"Lebih luas dari yang Sisi tinggali. Ada kolam renangnya juga di dalam gedung seperti ini. Padahal lantai 15." ujar Luna.


"Bagaimana? Cukup luas untuk kita dan calon anak-anak kita nanti kan." tanya Coky.


"Aku terkesan seperti dipaksa menikah dengan mu oleh mu." gumam Luna.


"Memangnya kenapa? Yang mau menikah dengan mu kan hanya aku." timpal Coky.


"Menghina sekali kau! Aku kan hanya belum bertemu jodoh ku." ujar Luna lugas. Coky menatap Luna serius setelah mendengar perkataan Luna barusan.


"Ah, mungkin kau memang jodoh ku yang tak terlihat oleh ku." gurau Luna sambil memicingkan mata.


"Sepertinya aku harus memohon kepada nyonya besar untuk segera mengikat mu dengan ku setelah pernikahan tuan Rain selesai." ujar Coky seperti memberi peringatan kepada Luna.


"Jangan buru-buru seperti itu. Masa muda kita masih panjang. Lagipula akan sangat sibuk setelah pernikahan tuan Rain." kata Luna dengan maksud mengelak.


"Aku tidak akan bersabar lagi kepada mu untuk saat ini." ujar Coky.


"Waah.. balkon sebelah sini full dinding kaca ya." seru Luna mengalihkan perhatian.


"Itu tempat jemuran." jawab Coky seketika.


"Aah.. tempat jemurannya sangat unik. Pasti mahal dengan desain seperti ini." kata Luna lagi.


"Itu sengaja aku persembahkan untuk mu." kata Coky lagi semakin mendesak. Lagi-lagi Luna kalah dalam berdebat dengan Coky.


"Haah.. memang ya, sepertinya harus dengan mu." gumam Luna. Dia lalu melangkah cepat ke arah Coky lalu memeluk teman dari masa kecilnya itu dan mencium bibirnya dengan lembut.


"Sepertinya hanya kau yang dijadikan teman seumur hidup untuk ku." kata Luna lirih.


"Maka terimalah aku."ucap Coky.

__ADS_1


"Ya. Aku menerima dirimu." jawab Luna lalu tersenyum begitupula dengan Coky. Mereka lalu berciuman kembali.


🐾🐾


__ADS_2