
"Akan saya pikirkan lagi. Mungkin untuk sekarang lebih baik anda temui dulu Nona Velicia. Dan juga anda perlu membicarakan maksud anda dengan Nona dulu. Akan saya antar." ujar Rehan agar Arbre tak kalut dalam masalah ini terus.
"Apa mungkin aman?" Arbre masih merasa waspada.
"Kita akan melakukan dengan cara saya." jawab Rehan dengan percaya diri.
Mungkin karena memang pekerjaannya seperti itu jadi dia selalu punya rencana agar bisa tak diketahui oleh orang lain apalagi musuh. Tiga mobil keluar dari kediaman Arbre Effendi setelah memastikan keadaan dan benar dirinya masih diikuti oleh orang Candra. Rehan mengintruksikan agar mobil mereka memberi jarak yang cukup jauh lalu dua mobil diintruksikan untuk mengisi bahan bakar dan yang satu tetap jalan. Setelah mengisi bahan bakar mobil satu melanjutkan perjalanan sedang yang satu lagi berhenti. Sang pengemudi disuruhnya keluar untuk pergi ke toilet di tempat pengisian bahan bakar, bermaksud untuk mengecoh para penguntit. Dan benar saja, dua mobil yang tadi mengikuti mereka salah satunya berhenti di dekat pengisian bahan bakar.
Sebelumnya Rehan mengintruksikan agar Arbre juga mengenakan setelan serba hitam dengan kacamata hitam dan memakai masker seperti pengemudi yang lain layaknya bodyguard dan menyuruhnya untuk mengemudi di depan. Dan yang disuruhnya ke toilet tadi adalah Arbre. Rehan memintanya untuk menunggu di dalam toilet karena dia sudah menghubungi Doni agar menunggunya terlebih dahulu di sana. Dari toilet Doni menggantikan peran Arbre sebagai pengemudi lalu kembali ke dalam mobil dan melajukan mobilnya meninggalkan tempat pengisian bahan bakar. Tak perlu di tebak, mobil anak buah Candra pun mengikutinya. Setelah dirasa cukup aman, Arbre lalu menghubungi Rehan untuk di jemput sesuai instruksinya. Selang berapa lama Rehan datang ke tempat pengisian bahan bakar menjemput Arbre lalu memutar arah menuju apartemennya. Benar saja, tak ada anak buah atau orang-orang Candra yang mengikuti mereka.
Sesampainya di apartemen Rehan lalu membungkukan pintu untuk Arbre, "terimakasih." ujar Arbre sambil mengangguk.
Rehan pun mengangguk sambil tersenyum. "Silahkan duduk." ujar Rehan menunjukkan tempat duduk.
Arbre kemudian duduk sambil mengedarkan pandangannya ke penjuru ruangan yang memang terlihat kecil jika kedatangan banyak orang, tapi cukup luas untuk ditinggali seorang diri. Rehan pun mengerakkan bola matanya menelisik ruangan, dia merasa apartemennya sedikit rapi kali ini.
"Dimana Velicia?" tanya Arbre menyadarkan Rehan.
"Ah, mungkin Nona sedang di kamar. Saya akan memanggilnya terlebih dulu." jawab Rehan. Arbre lalu mengangguk perlahan.
Rehan lalu menuju depan pintu kamarnya dan mengetuk pintu itu dengan pelan, "Nona ini saya, tolong buka pintunya. Ayah anda berkunjung kemari."
Suara ketukan pintu membuat Velicia mengerjapkan matanya. Dia yang tertidur cukup lama lalu bangun dan membukakan pintu. "Rehan. Kau sudah pulang?" tanya Velicia dengan mata yang masih sayu dan rambut yang berantakan.
__ADS_1
"Apa anda sedang tidur? Maaf kalau terganggu. Tuan Arbre disini, beliau ingin bertemu Nona." ujar Rehan.
"Ayah? Ayah disini?" tanya Velicia seketika melebarkan pandangannya lalu meringsek melewati Rehan setelah melihat ayahnya ada di ruang tamu.
"Aduh," keluh Rehan pelan karena bahunya tersenggol Velicia cukup keras yang berlari ke arah ayahnya.
"Ayah." teriak Velicia lalu memeluk sang ayah erat.
"Velic, kau baik-baik saja?" tanya Arbre menyambut pelukan Velicia.
"Iya ayah aku baik-baik saja. Ayah, aku ingin pulang." ujar Velicia melepaskan pelukannya lalu kemudian duduk begitu pula dengan Arbre.
Ayahnya hanya bisa menghembuskan nafas panjang. "Kau bisa menunggu lagi kan? Tadi sebelum ayah kemari ayah di buntuti oleh orang-orang Candra. Untung saja Rehan bisa mengatasinya." jawab Arbre menatap ke arah Rehan lalu dengan lembut mengusap kepala anaknya.
"Kau tidak keberatan kan?" Arbre kemudian mengusap pipi putri semata wayangnya.
"Lalu, ada yang ingin ayah bicarakan dengan mu. Ini menyangkut perusahaan dan, juga dirimu." lanjut Arbre dengan nada ragu.
Velicia menengadahkan kepalanya menatap sang ayah. Tersirat di raut wajah tua ayahnya seperti ada sesuatu yang penting.
"Saya akan memberikan waktu. Silahkan kalian berbicara." kata Rehan mendengar ucapan Arbre yang ingin memulai pembicaraan. Dia lalu mengangguk dan keluar dari apartemen.
Rehan lalu menghembuskan nafas panjang. "Rumit sekali." keluhnya di depan pintu apartemen. Ya, baru kali ini dia mendapatkan tugas yang kasusnya menjalar ke masalah pribadinya. Dia menatap pintu tetangganya, Rendi.
__ADS_1
"Apa Budi masih dibawah ya?" tanyanya pada diri sendiri. Mengingat sekarang Doni sedang bertugas menggantikan peran sebagai Arbre jadi mungkin dia sekarang sedang berada di perusahaan Arbre. Dia lalu mengeluarkan handphonenya dan menghubungi Budi.
"Halo Bud, masih di bawah?" tanyanya saat telepon tersambung.
"Sorry bos, aku pulang dulu untuk mandi dan ganti baju." jawab Budi dari ujung telepon.
"Oh, istirahatlah sebentar jika sudah lelah. Nanti akan ku hubungi jika aku perlu." ujar Rehan.
"Siap bos." jawab Budi lalu panggilan berakhir.
Rehan lalu memasukkan kembali handphonenya ke dalam saku jasnya. Matanya masih menatap pintu apartemen Rendi, sekali lagi dia ingin merepotkan tetangganya itu.
"Ini aku." ujar Rehan sambil melambaikan tangan saat Rendi bertanya dari dalam. Tetangga yang baik hati itu membukakan pintu untuknya.
πΎπΎ
...^^^----------------^^^...
hola readers π
Terimakasih sudah mampir ke karya saya. Buat kalian yang sempat lihat tulisan saya tinggalkan jejak kalian dengan kasih like, kalau suka tulisan saya favoritkan juga boleh, dikasih hadiah dan vote saya lebih berterimakasih ππ. Isi kolom komentar dengan kritik dan sarannya ya untuk perkembangan dan kemajuan author. Terimakasih ππ.
enjoy the reading π€ π
__ADS_1