
Rain menengadahkan wajahnya menatap Sisi lekat, "Sebentar".
Dia berdiri lalu membuat sofa tersebut menjadi sofa bed. "Berbaringlah. Luruskan kakimu. Jangan terlalu banyak berdiri." ujar Rain.
Sisi pun tersenyum lalu melakukan seperti yang diperintahkan Rain. Rain juga ikut berbaring di samping Sisi.
"Orangtua mu ternyata sangat menyayangi mu ya. Tapi bagaimana ceritanya sampai mereka tidak tahu kau bisa berada di pelelangan malam itu?" tanya Rain dengan penasaran.
Karena setelah Rehan dan Velicia Armana tahu bahwa Sisi adalah putrinya yang dulu dititipkan kepada adiknya mereka lalu menutup semua akses informasi tentang Sisi sehingga Rain pun bahkan tak bisa menembusnya.
Sisi lalu menceritakan kejadian yang ayah dan ibunya ceritakan kepadanya hingga terakhir dia dijual oleh bibinya tanpa sepengetahuan pamannya. Rain mengangguk-angguk menyimak cerita Sisi.
"Tapi Rain, kau tahu, dari semua cerita mereka bahkan aku sedikit pun tak ingat kejadian dari masa kecil ku atau pun saat saat aku hidup di desa. Aku seperti terhipnotis untuk melupakan semua, dan kadang potongan potongan kecil muncul dalam mimpi seolah menyeruakan ingatan masalalu untuk aku mengingat siapa diriku." ungkap Sisi.
Rain mengernyitkan dahinya, "Apa kau pernah terluka parah sebelumnya? Atau mengalami kecelakaan?" tanya Rain.
"Entahlah. Tapi saat aku terbangun sadar sebelum pelelangan aku merasa sakit di bagian pundak dan tengkuk ku. Aku merasa seperti bukan diriku kala itu." jawab Sisi.
"Saat berada di Rumah Besar aku pernah bermimpi, aku seperti mengingat saat paman dan bibi sedang bertengkar adu mulut. Lalu keesokan harinya aku di hadang oleh beberapa orang dan dipukul sampai di situ aku tak ingat lagi. Mungkin mimpi itu jadi petunjuk pertama ku." ujar Sisi.
Rain terdiam mendengar cerita Sisi yang ternyata banyak mengalami kesulitan dari kecil. Terdengar pahit memang untuk anak seorang Armana yang terkenal harus hidup seperti itu di desa tapi setelah di ingat lebih jauh lagi itu juga termasuk kesalahannya yang menyebabkan Sisi harus terpisah dengan orangtuanya karena semua ulah Candra, pamannya. Mereka pun terdiam dalam waktu yang lama.
Untuk memecah kecanggungan Rain bersuara terlebih dahulu. "Ayah mu pernah berkata padaku 'pernikahan tanpa landasan cinta kasih tidak akan berlangsung lama'. Aku pernah menerima cinta kasih orangtuaku sampai saat aku berumur 25 tahun hingga setelah itu adalah kecelakaan yang menimpa keluarga kami sampai aku koma dan dirawat cukup lama. Dan setelah aku tersadar dan pulih, aku mengetahui orangtuaku telah meninggal. Setelah itu aku lupa rasanya cinta kasih yang ada hanya dendam dalam hidupku." cerita Rain.
"Lebih parahnya lagi satu tahun setelah kejadian itu, saat aku menemani nenek di villa Bougenville untuk mengenang kepergian orangtuaku aku mendadak menggila hingga melukai Coky dan paman Sam. Keesokan harinya setelah diperiksa aku memiliki trauma yang akan bereaksi di hari yang sama dengan kejadian kecelakaan kala itu." kenang Rain dengan penuh kesedihan.
"Dari situ aku merasa diriku penuh kekurangan. Aku tak ingin orang lain tahu kelemahan ku dan mencoba menutupinya dengan ke angkuhan sikap ku. Aku selalu ingin di pandang lebih dulu oleh orang lain. Aku tidak mentolerir orang lain yang bersikap meremehkan ku." tukas Rain.
Dari mendengar cerita Rain, Sisi menyadari jika laki-laki yang terlihat sempurna dari penampilannya ini ternyata adalah orang yang rapuh dan juga memiliki kesedihan. Sisi menghela nafas panjang lalu menghembuskannya perlahan.
"Jangan merasa kau hanya sendirian menghadapi semua itu. Ingatlah orang-orang yang masih bertahan di sisi mu meski yang kau lakukan itu baik atau buruk. Mereka selalu loyal kepada mu. Kau harus kuat dan kedepannya kau harus lebih kuat lagi karena akan bertambah orang yang harus kau jaga untuk disamping mu." ujar Sisi sambil menggenggam tangan Rain.
Seketika Rain lalu tersadar. Iya aku harus lebih kuat lagi dari sekarang karena akan bertambah lagi orang-orang yang harus aku lindungi, ucap Rain dalam hati.
"Kau juga harus tetap menjadi orang yang kuat untuk berdiri di samping ku." ucap Rain sambil tersenyum mencium kening Sisi.
"Akan aku buktikan kepada ayah dan ibumu jika kau tak kekurangan suatu apapun setelah menikah denganku." janji Rain.
"Aku juga akan belajar apa itu cinta kasih dalam berumah tangga setelah menikah dengan mu." tekad Rain.
"Percayalah padaku." Rain meminta Sisi mendukungnya. Sisi tertawa kecil mendengar pernyataan Rain yang bersemangat.
__ADS_1
"Kenapa kau hanya tertawa?" tanya Rain.
"Heh heh.. tidak. Aku hanya teringat sesuatu yang di ceritakan oleh ibu ku. Kau tahu ini rahasia kami. Ayah dan ibu dulu menikah pun tanpa adanya landasan cinta kasih. Mereka menikah seperti sebuah paksaan dari orang tua tapi itu semua juga kehendak dari mereka sendiri." ujar Sisi.
Rain tercengang mendengarnya. "Kau tidak berbohong kan? Apa boleh kau menceritakan ini semua kepada ku? Ini kan rahasia orangtuamu." tanya Rain tak percaya dengan yang ia dengar.
"Tenanglah. Dengarkan aku dulu lalu kau akan mengerti." ucap Sisi. Rain pun mengangguk lalu terdiam.
"Mereka menikah karena membutuhkan satu sama lain. Mereka menikah tanpa rasa cinta, tanpa merasakan apa itu menjalin hubungan kasih sayang. Yang mereka lakukan setelah menikah adalah saling melakukan tugas dan kewajiban masing-masing sebagai suami istri. Jadi mereka juga belajar bagaimana harus bersikap baik sebagai suami dan istri dalam berumah tangga. Karena dalam berumah tangga ada istilah 'take and give' jadi tanpa mereka sadari rasa itu timbul setelah mereka saling memberi dan menerima kebaikan masing-masing." Sisi bercerita panjang.
"Ibu awalnya hanya melakukan tugasnya sebagai istri begitu pula dengan ayah melakukan kewajibannya. Hingga suatu saat ibuku hamil mengandung diriku, dari situ mereka merasakan perasaan berbeda dalam diri masing-masing dan mengakui perasaannya masing-masing." jelas Sisi.
"Waah. Jadi Tuan Arman yang terlihat sempurna juga seperti itu ya sebelumnya. Tidak pernah tahu apa itu cinta kasih. Tapi karena sering menerima kebaikan dari ibumu beliau jadi mengerti semua. Karena menganggap kalian sangat berharga baginya, jadi beliau merasa takut jika aku menikahi mu tanpa rasa cinta kasih. Beliau takut sesuatu yang buruk terjadi padamu di masa depan. Begitu ya." ucap Rain yang kini mengerti maksud dari Arman.
"Mungkin begitu. Ayah takut jika perbuatan yang sama sepertinya, hanya untuk menikahi saja. Lalu bagaimana jika kau tidak memiliki perasaan cinta kasih padaku dan akan berujung tidak baik untuk ku kedepannya." ujar Sisi.
"Iya benar, aku tahu rasa khawatir seperti itu." ucap Rain.
"Bagaimana kalau mulai dari sekarang kita mengenal lebih dekat sebagai pasangan. Aku akan belajar dari yang sederhana dulu. Seperti makanan kesukaan mu, warna favorit, hobi dan hal kecil lainnya." ujar Rain.
"Boleh saja. Kita lakukan bersama." kata Sisi sambil tertawa.
"Drrtt.. drrtt.. drrtt.. drrtt" handphone Sisi bergetar terlihat panggilan masuk dari ayahnya. Dia lalu menerima panggilan tersebut.
"Halo ayah." katanya.
"Ini sudah jam sembilan malam lebih. Kenapa belum pulang? Kau sedang hamil, jangan berada di luar malam-malam itu tidak baik. Kau bisa sakit nanti." ujar Arman dari dalam panggilannya.
"Ah aku sedang tidak di luar ayah. Aku sedang mengunjungi apartemen tempat aku tinggal dulu..." kata Sisi yang belum menyelesaikan kalimatnya.
"Kau bersama siapa? Rain? Suruh dia antar kau pulang." kata Arman tegas. Mendengar suara ayahnya yang seperti itu Sisi tidak berani membantah.
"Baiklah ayah. Kalau begitu saya tutup teleponnya." kata Sisi menutup panggilan lalu menghembuskan nafas pelan.
Rain yang melihat ekspresi Sisi menyadari situasi ini dan segera tanggap.
"Ayah mu menyuruh pulang? Ayo aku antar. Kita akan berkunjung lagi kesini lain waktu." ujar Rain mengajak Sisi untuk beranjak dari sofa bed.
Sisi pun tersenyum menyambut tangan Rain untuk berdiri, meski hatinya sedikit sedih karena kecewa. Baru saja dia ingin mengenal pribadi Rain tapi karena ayahnya yang protektif dia harus cepat pulang. Mereka pun menuju ke mobil lalu pulang ke kediaman Armana.
Sesampainya di depan rumah, Arman sudah menunggu di depan pintu gerbang dengan memasang wajah yang serius seolah mengisyaratkan "berani-beraninya membawa putri ku pulang malam".
__ADS_1
Di belakang, dekat pintu rumah terlihat Velicia sedang berdiri seperti seolah sedang mengawasi bila nanti akan terjadi sesuatu.
"Masuklah nak." kata yang keluar dari Arman.
Sisi menoleh ke arah Rain, Rain mengangguk mengisyaratkan agar Sisi menuruti perintah ayahnya. Sisi kemudian berlalu meninggalkan Rain. Saat sampai di depan pintu ia menatap ibunya lalu kembali menoleh ke arah Rain.
"Tenanglah nak, ibu disini. Cepat naiklah." ucap ibunya. Sisi pun mengangguk, dia lalu masuk berjalan menuju kamarnya.
"Pulanglah. Ini sudah malam. Belum waktunya kau membawa dia seenak keinginanmu." ujar Arman.
"Maafkan saya pak Arman. Saya permisi. Selamat malam." Rain membungkukkan badannya.
Dia tidak ingin menciptakan perdebatan antara keduanya karena meski ayah Sisi merestui mereka tetapi belum tentu dia memaafkannya. Dia lalu masuk ke dalam mobil dan pergi meninggalkan kediaman Armana.
Arman lalu berjalan masuk ke dalam rumahnya setelah memastikan Rain sudah pergi. Dari belakang Velicia mengikuti langkahnya. Arman mendongak sebentar melihat ke arah pintu kamar Sisi. Dia lalu masuk ke kamarnya.
"Jangan keterlaluan seperti itu Arman. Jangan membuat anakmu berfikir buruk tentang mu." ucap Velicia setelah mereka berbaring di atas kasur.
"Dia tidak mungkin akan diam saja kalau kau selalu bersikap berlebihan." katanya lagi sambil menatap ke arah suaminya itu.
Arman menghela nafas panjang lalu menghembuskannya. "Entahlah Velic. Aku memang mengijinkannya menikah tapi aku masih tetap ingin dia disini bersamaku. Aku selalu ingin melindunginya." ucap Arman.
"Aku tahu perasaanmu, terlebih aku sebagai ibunya. Tapi dia juga memiliki kehidupannya sendiri Arman. Lagipula Tuan Rain juga orang yang bisa melindunginya." ujar Velicia.
"Kau hanya belum bisa merelakan nya. Belajarlah sedikit demi sedikit untuk melepasnya dan belajarlah untuk bersikap baik terhadap calon suaminya." ujar Velicia sambil mengusap-usap bahu Arman.
"Iya aku memag belum rela melepasnya." ucap Arman.
"Aku akan bicara pada mereka agar Sisi bisa sering berkunjung dan menginap disini setelah menikah. Jadi bersikap baiklah terhadap calon menantu mu." kata Velicia. Arman tersenyum mendengar perkataan Velicia, dia merasa seperti seorang anak kecil harus dibujuk terlebih dahulu.
"Baiklah. Aku juga akan bicara pada mereka jika ada waktu senggang." ujar Arman lalu mendekap istrinya.
πΎπΎ
...- - - - - - - - - - - - - - - -...
hola readers π
Terimakasih sudah mampir ke karya saya. Buat kalian yang sempat lihat tulisan saya tinggalkan jejak kalian dengan kasih like, kalau suka tulisan saya favoritkan juga boleh, dikasih hadiah dan vote saya lebih berterimakasih ππ. Isi kolom komentar dengan kritik dan sarannya ya untuk perkembangan dan kemajuan author. Terimakasih ππ.
enjoy the reading π€ π
__ADS_1