
Dari percakapan malam itu kini pasangan Andra-Fariska, Armana-Velicia menjadi lebih dekat, apalagi kini kedua perusahaan yang laki-laki itu pimpin menjalin hubungan kerjasama. Tanpa mereka tahu niat hati mereka sebenarnya sama, dan mereka kini benar-benar waspada terhadap Candra.
"Kurang ajar! Apa maksudnya kakak melakukan itu?!" geram Candra yang mendapat undangan business party kerjasama antara perusahaan Armana dan induk perusahaan Aditama.
Tanpa sepengetahuannya, Andra kakaknya menjalin kerjasama dengan Armana. Apa yang kakaknya inginkan dari perusahaan yang dulu pernah menjadi target akuisisinya. Tidak mungkin orang seperti Andra ingin mengambil hak perusahaan itu seperti dirinya dulu, terlebih perusahaan yang berubah nama menjadi Armana Corp itu sudah lebih maju dari perusahaan yang dulu di pimpin Arbre. Mungkinkah kakaknya ingin bekerjasama dengan Danbi dan membuat Armana Corp sebagai batu lonjakan? Itulah yang ada di pikiran Candra saat ini.
Dia meremat undangan resmi itu lalu melemparnya ke lantai ruangan kerjanya. Pikirannya runyam, jika tidak hadir dia tidak ingin terlihat tidak menghormati kakaknya. Jika hadir, dia berpikir orang-orang yang menjalin kerjasama itu pasti akan menertawakannya.
Terutama Velicia, dalam hatinya pasti menertawakannya karena perusahaan ayahnya dulu sekarang sudah bebas darinya dan malah bekerjasama dengan perusahaan induk Aditama.
Candra, pikirannya selalu buruk. Tentu saja, selama ia memiliki sifat dendam dan ambisius, perlakuan orang lain yang biasa saja pasti di anggapnya berlebihan di matanya.
"Kau yakin ingin menghadirinya?" tanya Arman sekali lagi meyakinkan sang istri.
Pasalnya pesta kali ini Andra mengundang Candra yang termasuk member grup Aditama. Dia tak ingin istrinya mengalami shock dan banyak pikiran seperti dulu saat terakhir kali ia bertemu Candra. Dia khawatir apalagi sekarang Velicia sedang mengandung, dia tak ingin membuat Velicia dan calon anaknya kenapa-napa.
"Tenang saja. Kau kan sudah menempatkan pengawal mu kan kali ini? Apalagi kau akan selalu di sampingku, aku tidak akan takut lagi." jawab Velicia yakin.
"Aku akan menjadi seorang ibu, sebelum aku melindungi anakku, aku harus bisa melindungi diriku sendiri dulu." sambungnya dengan tangan menyimbolkan fighting. Arman tersenyum menanggapi perkataan sang istri.
__ADS_1
"Ya sudah kalau begitu, ayo kita berangkat. Jika kau merasa tidak baik dan tidak enak badan langsung beri tahu aku. Kita akan pulang secepatnya." kata Arman lalu menggandeng tangan Velicia dan menuntunnya berjalan ke dalam mobil. Velicia pun mengangguk lalu mengikuti langkah sang suami.
Suara perbincangan antar manusia terdengar ramai di telinga. Saling sapa dan saling tebar senyum adalah tradisi dalam kumpul sosial seperti ini. Basa-basi dan menanyakan tentang kabar usaha yang di geluti sudah hal lumrah.
Kini Velicia dan Fariska duduk di meja yang sama. Velicia mengistirahatkan badannya karena lelah terlalu lama berdiri dan menyapa orang-orang sambil berbincang-bincang. Sedang Fariska, wanita itu tengah menenangkan sang putra yang sejak tadi merengek lelah dan ingin pulang.
Resikonya, membawa sang putra kemanapun ia pergi termasuk menghadiri acara resmi perusahaan seperti ini. Bukan tak ada pelayan atau baby sitter di rumah, namun anak itu yang tak bisa di tinggal lama oleh sang ibu. Pasalnya Fariska sangat total dalam mengasuh anaknya, dia adalah peran utama untuk putranya. Baby sitter dan pelayan hanyalah pendamping dirinya jika sedang kewalahan atau lelah dalam mengasuh Rain.
Keakraban antara kedua wanita itu menjadi sangat erat, hingga di luar acara resmi pun mereka juga sering bertemu sebagai teman biasa. Entah itu hanya sekedar untuk janjian makan atau kumpul-kumpul sambil menikmati menu baru di sebuah kafe atau restoran setelah berbelanja sesuatu yang memang sebenarnya tidak terlalu penting dan bahkan di rumah saja sudah ada. Seperti baju, sepatu, tas, alat kecantikan dan yang lainnya.
Tak dapat dihindarkan, kini Velicia dan Candra bertemu kembali namun sekarang dia di dampingi oleh Arman, suami yang berjanji akan selalu setia di sampingnya pada acara malam ini dan Arman melakukan itu. Meski tadi saat Velicia sedang beristirahat dengan Fariska Arman tidak menemaninya namun ia menempatkan pengawal khususnya di samping Velicia.
Merasa lega Arman karena Velicia tidak terlalu tegang, begitu pula dengan Velicia. Mana mungkin Candra akan melakukan intimidasi seperti malam itu di tengah keramaian pesta seperti ini, yang ada ia akan di anggap pengecut karena telah mengajak seorang perempuan untuk berseteru. Apalagi perseteruan itu hanya membahas hal yang sudah basi, itulah yang ada di pikiran Candra.
...* * *...
"Waah perutnya sudah besar ya Tante Velicia." seru Rain yang kini sedang mengelus-elus lembut perut buncit Velicia, sesekali ia juga menciuminya.
Fariska dan Velicia tersenyum melihat tingkah Rain. Velicia juga tidak melarang dengan apa yang dilakukan Rain, justru ia sangat nyaman karena memang akhir-akhir ini dia juga sering melakukan hal yang sama seperti Rain lakukan, mengelus-elus perutnya. Tindakan itu memberinya rangsangan yang nyaman karena terkadang perutnya yang besar itu terasa nyeletit.
__ADS_1
"Ingin normal atau caesar?" tanya Fariska yang kini juga ikut mengelus perut Velicia yang terlihat sudah membesar dan memasuki bulan hari perkiraan lahir.
"Karena tidak ada kendala, aku ingin secara normal saja." jawab Velicia.
Mereka sedang dalam acara makan siang yang tidak sengaja bertemu di pusat perbelanjaan saat ini. Velicia ke pusat perbelanjaan untuk membeli baju-baju yang menurutnya lucu untuk calon sang bayi, apalagi setelah ketahuan hasil USG bahwa bayi yang di kandungnya itu perempuan, ia sangat bahagia dan tertarik untuk membeli baju bayi perempuan dengan berbagai model.
Padahal di rumah sudah banyak sekali baju dan perlengkapan yang ia beli sebelumnya untuk persiapan penyambutan bayinya nanti saat sudah lahir. Namun ia sangat senang dan antusias untuk menyambut sang jabang bayi pertamanya, jadi mumpung bisa dan masih di perbolehkan untuk jalan-jalan ia akan membeli seperti apa yang ia inginkan untuk sang bayi nanti jika sudah lahir.
Dia membayangkan betapa cantiknya nanti sang putri jika melakukan photo shoot dengan baju berbentuk buah, baju putri duyung dan baju peri. Pasti sangat lucu dan menggemaskan. Fariska ikut tertawa bahagia mendengar ungkapan Velicia, calon ibu semua pasti memimpikan itu.
"Mudah-mudahan lancar sampai bayinya lahir, ibu dan anaknya juga selamat dan sehat." doa yang di ucapkan Fariska kepada calon ibu masih sambil mengelus perut Velicia. Rain juga, bahkan kini malah duduk menempel pada Velicia sambil menyandarkan kepalanya, terlihat seperti dia malah anak dari Velicia. Fariska yang melihat tingkah Rain malah geleng-geleng dan Velicia malah terkekeh.
πΎπΎ
Β hola readers π
Terimakasih sudah mampir ke karya saya. Buat kalian yang sempat lihat tulisan saya tinggalkan jejak kalian dengan kasih like, kalau suka tulisan saya favoritkan juga boleh, dikasih hadiah dan vote saya lebih berterimakasih ππ. Isi kolom komentar dengan kritik dan sarannya ya untuk perkembangan dan kemajuan author. Terimakasih ππ.
enjoy the reading π€ π
__ADS_1