
"Lalu bagaimana dengan ayah, jika perusahaan ayah diberikan kepada Rehan?" tanya Velicia dengan suara rendah seakan menahan diri untuk menangis.
"Tidak apa, ayah masih banyak bisnis kecil lainnya, sudah cukup untuk ayah bertahan hidup. Sedangkan kamu, keselamatan dan kebebasan mu lebih penting. Aku juga akan meminta kepada Rehan agar menjamin semua tentang dirimu, ayah tahu meski itu serakah tapi ini cara yang bisa ayah temukan Velic. Maafkan ayah." ujar Arbre dengan nada sendu dan perasaan bersalah karena mengambil keputusan masa depan putrinya.
Velicia pun seketika langsung menangis dan menghamburkan pelukan kepada ayahnya.
"Tidak apa-apa ayah, jangan merasa bersalah sendiri. Ini juga semua karena Velic yang awalnya ingin membantu sahabat Velic." ujar Velicia dalam pelukan ayahnya.
"Jika ini adalah yang terbaik untuk kehidupan kita, Velic bersedia dijodohkan dengannya. Velic juga ingin kehidupan kita tenang seperti dulu ayah." Velicia terisak dalam pelukan ayahnya.
Arbre mengusap-usap rambut dan punggung Velicia untuk menenangkannya. Hatinya pun ikut merasa sakit dan matanya berkaca-kaca mendengar putrinya yang mau ikut berkorban.
"Menangis lah sampai puas. Maafkan ayah memutuskan masa depan mu dengan egois." bisik Arbre lalu mengecup puncak kepala Velicia.
Setelah tenang dari menangis yang cukup lama dan bercerita tentang rencana dan keputusan mereka, lalu Arbre berkata akan memanggil Rehan untuk mengutarakan putusan mereka.
"Kau siap ya? Ayah yang akan bercerita kepadanya." ujar Arbre. Velicia pun mengangguk.
Rehan yang baru saja masuk ke apartemen menatap wajah Velicia yang sembab dengan heran, terlihat seperti habis menangis. Rehan duduk di kursi samping mereka duduk. Mengingat waktu mereka tak lama, Arbre lalu mengutarakan putusannya dan menceritakan semua rencana yang ia bicarakan dengan Velicia. Rehan pun mendengarkan dengan seksama.
"Apa anda yakin Tuan? Dan Nona Velicia tidak keberatan?" tanya Rehan memandang mereka bergantian seolah tak yakin.
Pasalnya sekarang Velicia terlihat sedih karena sangat jelas jika ia habis menangis. Dia tak ingin merasa bersalah karena terlihat seperti dia yang memaksa.
Arbre membalas dengan anggukan mantap, "kami yakin. Jadi tolong bantu kami sampai tuntas." ujarnya.
__ADS_1
Velicia berjalan ke arah Rehan lalu bersimpuh di hadapan Rehan dan memegang tangan Rehan dengan mohon.
"Aku mohon kepada mu hanya kamu satu-satunya harapan kami. Tolong kami." ucapnya.
Arbre yang melihat apa yang di lakukan putrinya terkejut. Rehan seketika turun dari Sofanya dan terduduk mengangkat Velicia untuk berdiri dan mendudukkannya di sampingnya.
"Jangan seperti ini Nona, aku bukan Tuhan. Kau tidak perlu melakukan ini." ujar Rehan lalu melepas tangan Velicia dan menenangkannya.
"Iya, tapi aku harap keputusan mu sama seperti yang aku ambil." ucap Velicia menyeka air matanya yang sempat keluar.
"Kami sangat mengharap bantuan mu Rehan." ujar Velicia lagi.
Rehan sekarang pikirannya penuh, tak tega dia jika harus menolak permintaan seorang perempuan apalagi dia sekarang sedang menangis dihadapannya dan ayahnya. Pasti perasaan ayahnya sekarang lebih sakit lagi.
"Akan saya pikirkan lagi Nona, akan saya cari jalan yang terbaik." jawab Rehan dengan menenangkan Velicia.
Sementara di anak perusahaan Aditama siang tadi..
"Bagaimana?" tanya Candra pada anak buahnya yang mengikuti Arbre.
"Tidak terlihat dengan jelas Tuan, tapi sepertinya mereka sudah tidak melakukan aktivitas itu lagi." jelas bawahannya itu.
"Sepertinya mereka sudah takut. Mobil mereka keluar tiga dan hanya mengarah ke perusahaan semua. Sepertinya mereka memakai pengawal, sudah dipastikan jika mereka sudah jera." katanya yakin kepada bosnya.
"Hmm. Taruh hanya dua orang saja di sekitar rumahnya. Jika dua hari sudah tidak ada pergerakan selain ke kantor lepaskan saja mereka." ujar Candra lalu mengakhiri panggilannya.
__ADS_1
"Tau dirilah sebelum permainannya panjang. Heh, ingin berurusan dengan ku." ujar Candra pada dirinya sendiri dengan sombong sambil berkacak pinggang.
"Merepotkan saja. Menambah beban yang tak penting." dia lalu meletakkan handphonenya ke atas meja kerjanya.
"Apa yang membuat mu kesal?"tanya Gunawan yang sedari tadi duduk di kursi tamu ruangan kerja Candra.
"Mangsa lama yang gagal sedikit mengusik." jawab Candra enteng.
"Sudahlah jangan terlalu dipikirkan. Lalu bagaimana rencananya?" tanya Gunawan lalu berdiri dari duduknya.
"Tidak bisa sekarang. Untuk sementara kakak ku itu belum menjadi ancaman. Hanya saja kita perlu banyak usaha agar para direktur yang lain berada di pihak kita." jawab Candra dengan santai lalu kembali duduk di kursi kebesarannya.
"Baiklah, aku pergi dulu. Sering-seringlah bertemu dengan yang lainnya, aku rasa mereka tidak akan sungkan untuk membantu." ujar Gunawan lalu meninggalkan ruangan milik Candra.
"Hem.." Candra menjawab dengan mengangguk.
Dirinya merasa bisa sedikit bernafas karena Arbre tak lagi mengusik fikiran nya dengan menyelidiki tentang kematian Subaki. Fokusnya sekarang adalah mendapatkan dukungan sebanyak-banyaknya agar dapat menandingi kakaknya itu.
...* * *...
πΎπΎ
...^^^----------------^^^...
hola readers π
__ADS_1
Terimakasih sudah mampir ke karya saya. Buat kalian yang sempat lihat tulisan saya tinggalkan jejak kalian dengan kasih like, kalau suka tulisan saya favoritkan juga boleh, dikasih hadiah dan vote saya lebih berterimakasih ππ. Isi kolom komentar dengan kritik dan sarannya ya untuk perkembangan dan kemajuan author. Terimakasih ππ.
enjoy the reading π€ π