
"Waah ternyata kondisinya masih sama seperti dulu ya." seru Sisi yang telah tiba di apartemen yang menjadi tempat tinggalnya dulu. Dia melihat sekeliling sambil meraba barang-barang yang mengisi seluruh ruangan itu.
"Ini juga kelihatan bersih. Apa tempat ini selalu di bersihkan?" tanya Sisi yang merasa tangannya tak ada debu dari tadi meraba-raba barang di sekitar.
"Aku membayar pekerja untuk membersihkan tempat ini seminggu sekali. Kadang aku juga mampir sebentar ke sini."ucap Rain mengikuti langkah Sisi dari belakang.
"Kau? kesini?" tanya Sisi.
"Iya. Aku kadang juga menyeduh nasi instan dan mi instan dalam cup yang kamu simpan di sini." kata Rain menuju arah dapur membuka kabinet bagian atas dapur. Dia menunjukkan persediaan mi instan dan nasi cup instan disana.
"Seingat ku sebelum tugas terakhir disana tinggal nasi cup dua."kata Sisi yang melihat isi kabinet penuh dengan nasi cup dan mi cup instan.
"Iya. Setelah pak Arman dan nyonya Velicia tahu kalau kau adalah putrinya, mereka melarang ku untuk bertemu dengan mu. Bahkan menjenguk mu di rumah sakit saja aku tidak diperbolehkan." ujar Rain menutup kabinet lalu ikut duduk di sofa bersama Sisi.
"Kau dilarang menjenguk ku?" tanya Sisi yang tidak tahu kalau Rain dilarang menjenguknya saat di rumah sakit. Yang dia tahu saat sudah sampai di kediaman Armana Rain dilarang bertemu dengannya atau sebaliknya.
"Iya. Bahkan ayah mu menempatkan penjaga disana." jawab Rain.
"Aku sampai stres beberapa minggu karena tidak bisa fokus menjalani hari-hari ku apalagi dalam bekerja." ceritanya.
"Yang menjadi fikiran ku adalah mengetahui saat kau hamil. Sedang aku tidak diperbolehkan bertemu dengan mu." keluhnya.
"Aku benar-benar hampir gila." katanya lagi.
Sisi tersenyum mendengar cerita Rain. Tak disangka bos nya dulu sangat gusar menunggunya. Dia lalu mengusap kepala Rain.
"Apa yang membuat mu sampai seperti itu? Padahal kan dulu kita tidak ada hubungan apa-apa. Kita hanya sebatas atasan dan bawahan." ujar Sisi.
Rain lalu menatap Sisi, "entahlah". Dia lalu terdiam sejenak lalu mengarahkan pandangannya lurus ke depan.
"Saat pertama kali melihat mu di pelelangan dulu aku merasa ada sesuatu yang menarik ku untuk membeli mu. Sesuatu yang kuat seperti magnet hingga membuat jantung ku berdesir dan aliran darah dalam diriku menuju pada satu titik."nkatanya sambil memegang dadanya.
"Aku menganggap semua itu seperti reaksi yang biasa melihat kau dirias secantik itu sampai terlihat seperti bercahaya." katanya.
"Tapi sampai di Rumah Besar pun pandangan ku tak bisa terelak darimu. Aku selalu mencuri pandang untuk mu." kata Rain lalu menatap Sisi.
"Sampai seperti itu?" tanya Sisi. Rain lalu mengangguk.
"Mungkin itu reaksi yang normal untuk laki-laki karena bertemu perempuan yang cantik." ujar Sisi bercanda menatap Rain sambil memasang tangannya di dagu.
__ADS_1
Rain pun tertawa kecil, "pftt.. jika iya mungkin setiap ada wanita yang mendekati ku bahkan dengan terang-terangan menempel dan bergelayut padaku seperti di bar malam itu, aku akan merasakan reaksi yang sama. Tapi ternyata berbeda. Aku tidak merasakan desiran itu dan aku seperti tidak bisa tertarik lagi dengan wanita lain setelah melihat mu." ujar Rain.
"Seperti hanya kau saja yang bisa menggugah birahi ku, rasanya." ucap Rain menatap Sisi lekat.
"Saat kau disentuh oleh laki-laki lain, aku merasa ada yang bergejolak di dalam hatiku dan rasanya panas hingga membuat ku hampir kehilangan akal. Seperti saat kejadian di bar malam itu. Dan juga saat Gunawan dan pelayan perempuan itu." jelas Rain mengenang kejadian saat dia mengetahui Ratih yang memberi tahu Gunawan jika Sisi adalah seorang pelayan yang bekerja di kediamannya kala itu.
Sisi mengangguk mengingat kejadian kala itu. Saat Rain kalap di bar hingga membuatnya repot harus memapahnya.
"Ah benar. Kau waktu itu sangat kalap saat mabuk berat dan aku harus memapah mu memakai baju minim seperti itu. Tadinya aku ingin meminta gaji lebih tapi aku lupa sampai sekarang." kata Sisi tiba-tiba sambil tertawa. Rain pun ikut tertawa mendengar perkataan Sisi.
"Sisi.." kata Rain setelah mereka terdiam dari tawa lepasnya.
"Hm?" kata Sisi.
"Bagaimana dengan mu? Kesan mu saat bertemu dengan ku?" tanya Rain ingin tahu.
"Mm.. aku tidak sepenuhnya ingat bagaimana aku bisa masuk pelelangan kala itu. Yang aku ingat kata dari seorang perias, 'semoga malam ini kamu beruntung dan mendapatkan Tuan yang baik' dan ternyata itu adalah doa yang nyata." kata Sisi.
"Aku beruntung malam itu kau mau membeli ku hingga aku punya tempat untuk tinggal dan makan enak. Punya pekerjaan dan juga uang." jawab Sisi.
"Kau tidak punya kesan sama sekali padaku ya?" tanya Rain dengan nada sedikit kecewa.
"Tapi aku benar-benar merasa beruntung saat kau membeli ku waktu itu. Kau sangat perhatian sampai mau memberikan aku makan terlebih dahulu dan melepaskan jubah mu untuk ku saat aku merasa tidak nyaman." ucap Sisi sedikit menyenangkan Rain. Rain pun tersenyum mendengar pernyataan Sisi.
"Mungkin itu juga karena pengaruh dari penampilan ku yang terlihat cantik kala itu." gurau Sisi lagi dengan merangkul tangan Rain sambil tertawa lagi.
"Heh.. kau ini benar-benar. Sampai sekarang pun masih membuat ku hampir gila." ucap Rain merengkuh Sisi sambil tertawa kecil juga.
"Tapi aku suka dirimu yang kadang terlihat bodoh saat ingin perhatian terhadap ku. Saat aku sakit disini dan juga saat aku terluka di villa." kenang Sisi mengusap tangan Rain.
Mengingat yang kala itu Rain pernah datang malam malam membawakan makanan untuknya saat dia sakit dan mengobati lukanya saat di villa Bougenville. Rain lalu meraih tangan Sisi dan mencium punggung tangannya yang mungil dan lentik itu.
"Maaf ya. Aku selalu memberikan kesan buruk pada mu."ucapnya.
"Aku tidak bisa mengekspresikan perasaan ku dan selalu mementingkan diri ku sendiri. Aku selalu ingin di atas dan selalu ingin di perhatikan lebih dulu. Aku tidak bisa membuat mu melihat ku dengan cara yang baik." ujar Rain. Sisi tersenyum mendengar pernyataan Rain. Dia lalu menggenggam tangan Rain.
"Dan tanpa kau sadari kau selalu melindungi ku secara tidak langsung selama itu." kata Sisi sambil tersenyum menatap Rain dalam.
"Haah.. kau ini. Kau benar-benar membuat ku gila Sisi." ujar Rain yang kini mukanya hanya berjarak sejengkal dengan muka Sisi.
__ADS_1
"Apa aku boleh mencium mu?" tanyanya meminta ijin. Dia merasakan kembali desiran dalam setiap aliran darahnya.
Sisi tak menjawab dan malah membuka bibirnya lalu mengatupkan nya di bibir Rain. Rain terkejut dengan reaksi Sisi. Dia lalu mengalungkan kedua tangan Sisi ke lehernya dan membalas ciuman Sisi.
"Hahh.. heh heh." Sisi tersengal dan melepas ciumannya dari Rain.
"Apa kau senafsu ini padaku Tuan Rain?" tanya Sisi.
"Entahlah. Apa aku masih kurang membuktikan nya?" tanya Rain kembali lalu kemudian merebahkan tubuh Sisi di sofa. Dia membelai lembut bibir Sisi lalu turun ke leher dan mulai mengusap lembut tengkuk Sisi hingga ke belakang telinga. Sentuhan Rain membuat Sisi terlena dan memejamkan mata.
"Drrtt.. drrtt.. drrtt." suara getaran handphone Sisi di dalam tas kecilnya menyadarkan dirinya. Dia mendorong tubuh Rain untuk mundur lalu bangun dan beranjak untuk mengecek siapa yang meneleponnya sekarang.
"Ibu." katanya setelah mengambil handphonenya dari tas kecilnya. Rain terdiam duduk dan melemas dalam sandaran sofa.
"Iya ibu? Iya Sisi sudah selesai. Sekarang sedang berada di luar mengunjungi tempat lama. Iya, masih ditemani oleh Rain." ucap Sisi dalam percakapan teleponnya.
"Iya ibu pasti." katanya lalu menutup panggilan teleponnya.
"Ibu menelfon karena khawatir." kata Sisi sambil melihat ke arah Rain.
"Apa kau mau istirahat dulu disini?" tanya Sisi yang melihat Rain sedang bersandar pada sofa.
Rain malah menatap Sisi yang sedang berdiri dengan tatapan tak percaya. "Astaga.. gadis ini benar-benar." gumam Rain dalam hati.
Dia lalu mengulurkan tangannya pada Sisi, "kemarilah". Sisi pun menerima uluran Rain lalu berdiri di depan Rain. Dipeluknya perut Sisi yang bulat kecil itu lalu diciumnya lembut.
"Aku baru saja mendapatkan mu lalu nanti anak ini juga akan berebut dengan ku nantinya."katanya menyandarkan kepalanya ke perut Sisi.
"Tenang saja. Bukannya berebut tentang ku. Yang ada malah kita yang akan berebut untuk anak ini." kata Sisi mengusap kepala Rain.
"Kenapa bisa begitu? Bahkan menghabiskan waktu lama dengan mu saja aku belum pernah. Bagaimana kau bisa mengatakan kita akan berebut untuk menghabiskan waktu dengan calon bayi ini." kata Rain mengusap perut Sisi.
"Kau akan merasakannya jika bayi ini sudah lahir. Aku sering mendengar cerita dari ibu saat dia sedang mengandung ku. Rasa keibuan dan rasa tanggung jawab sebagai seorang ayah akan muncul dengan sendirinya. Rasa yang besar yang mendorong mereka untuk melindungi ku." ujar Sisi.
πΎπΎ
hola readers π
Terimakasih sudah mampir ke karya saya. Buat kalian yang sempat lihat tulisan saya tinggalkan jejak kalian dengan kasih like, kalau suka tulisan saya favoritkan juga boleh, dikasih hadiah dan vote saya lebih berterimakasih ππ. Isi kolom komentar dengan kritik dan sarannya ya untuk perkembangan dan kemajuan author. Terimakasih ππ.
__ADS_1
enjoy the reading π€ π