
"Luna."suara Sisi membuyarkannya dari lamunan. Sisi datang bersama Rain dan empat bodyguard.
"Tuan."Luna membungkuk pada Rain.
"Ini aku bawakan baju ganti."kata Sisi menyerahkan paper bag berisi baju.
"Terimakasih Sisi."ucap Luna.
"Bagaimana keadaannya?"tanya Rain.
"Sudah siuman Tuan. Tunggu sampai dia benar benar pulih baru boleh keluar rumah sakit kata dokter."jelas Luna.
"Apa boleh dijenguk sekarang?"tanya Rain lagi.
"Sudah boleh di jenguk. Tapi sekarang asisten Coky sedang beristirahat."ujar Luna.
"Baiklah aku akan berkunjung lagi lain waktu. Aku titip dia."kata Rain memegang pundak Luna lalu pergi meninggalkannya. Dia memerintahkan dua bodyguard untuk berjaga di depan pintu ruangan Coky.
"Kau yang akan menjadi asisten ku selama asisten Coky sakit."tunjuk Rain pada Sisi. Lalu dia berjalan pergi.
"Baik Tuan."Sisi menganguk.
Hari selanjutnya. Dikantor.
"Anda ada janji makan malam dengan bapak Rehan Armana hari ini Tuan."kata Sisi membacakan jadwal harian Rain.
"Baiklah. Atur jam nya dan gunakan baju yang tertutup."perintah Rain sambil menandatangani beberapa berkas.
"Maksudnya dengan begini saja boleh?"tanya Sisi ragu. Karena dia juga sedang mengenakan setelan rapi dan panjang yang menutupi seluruh tubuhnya.
Rain menghentikan aktivitasnya dan menatap Sisi "apa kau akan menyambut tamuku dengan baju itu? Dan menggandeng lenganku dengan baju itu juga?"tanya Rain tegas.
__ADS_1
Sisi hanya bisa terdiam mendengarnya.
Pertanyaan Rain membuat Sisi salah tingkah.
"Akan kuantar kau beli baju jika tidak punya."kata Rain.
"Bukan begitu maksud saya Tuan..."Sisi belum menyelesaikan ucapannya.
"Sekarang keluarlah dan biarkan aku bekerja."perintah Rain dengan tegas.
Sisi lalu membungkuk dan segera pergi meninggalkan ruangan.
"Apa yang kubicarakan tadi? Kenapa aku ini? Seenaknya saja bicara sembarangan."gerutu Rain pada dirinya sendiri. Dia mengusap-usap rambutnya.
"Huuffftt."Sisi menghembuskan nafas panjang setelah keluar ruangan. Dua sekertaris yang melihatnya tak lagi heran.
"Asisten Sisi, kena marah lagi?"tanya Evi dengan pelan.
Sisi lalu duduk menghampiri mereka. Dia menjatuhkan tubuhnya dikursi. Dua sekertaris menatapnya dengan kasihan. Sudah beberapa hari sejak asisten Coky sakit asisten Sisi yang menjadi penggantinya sering menghembuskan nafas panjang dan memasang wajah lemas setelah keluar dari ruangan Presdir nya.
"Bersabarlah asisten Sisi. Semoga asisten Coky cepat sembuh dan segera kembali bekerja."ucap Silvi yang duduk disebelah Sisi sambil menepuk-nepuk pundaknya.
"Aamiin"jawab mereka bertiga bersamaan.
"Selamat datang Tuan Rain. Silahkan duduk."sambut Arman pada Rain dan Sisi.
...* * *...
"Apakah ini asisten anda, Sisi?"tanya Arman yang melihat Sisi merasa lebih cantik dari pertama dia bertemu.
"Iya benar pak Arman."jawab Rain.
__ADS_1
"Oh selamat datang juga Nona Sisi."Arman membungkuk. Sisi pun membalasnya.
"Perkenalkan ini istri saya, Velicia."kata Arman memperkenalkan istrinya. Sisi dan Rain menatap Velicia bersamaan. Mereka semua lalu duduk.
"Saya sudah membaca berkas dari anda dan saya menyetujui kerjasama antara perusahaan Aditama dan perusahaan Armana. Semoga kerjasama ini berjalan lancar dan sukses seperti saya dulu bekerja sama dengan mendiang bapak Andra Aditama. Maaf jika menyinggung perasaan Tuan."kata Arman dengan sopan.
"Oh tidak apa pak. Justru saya sangat berterimakasih karena berkat bantuan dan baik hati bapak yang mau membantu perusahaan mendiang ayah saya saat saya sedang koma."Rain berusaha bijak.
Sebenarnya hatinya masih sangat sakit dan terpukul jika mendengar ada yang menyinggung nama orangtuanya. Tapi dia juga harus profesional dalam bekerja dan dia juga memaklumi karena Arman juga bukan orang yang termasuk dalam target Rain.
"Iya sama-sama Tuan Rain. Karena itu memang sudah menjadi kewajiban untuk menolong sesama anggota bisnisnya."katanya sambil memegang gelas minum di meja.
"Sejujurnya saya juga ikut terpukul dan merasa kehilangan mendiang pak Andra dan nyonya Fariska. Karena beliau adalah teman baik kami dalam berbisnis."kenang Arman.
"Benar. Saya dan nyonya Fariska sering bertemu jika perusahaan mengadakan bussines party."istri Arman ikut bercerita. Suara terdengar khas seperti gaya bicara Sisi. Rain merasa sedang mendengar Sisi sedang berbicara. Sisi pun merasa sedikit terkejut mendengar gaya bicara Velicia.
"Saya ikut datang menemani suami saya malam ini sebenarnya ada yang ingin saya sampaikan kepada tuan Rain. Saya merasa ganjal dengan kematian bapak Andra dan nyonya Fariska. Maaf jika lancang. Apakah kecelakaan yang menimpa kalian waktu itu adalah sabotase?"tanya Velicia dengan suara khasnya.
Rain terkejut mendengar pertanyaan Velicia namun dia berusaha menutupi keterkejutannya.
"Kenapa nyonya bisa menyimpulkan seperti itu? Ini bukan hal yang bisa di tanyakan di sembarang tempat nyonya."kata Rain dengan nada rendah.
"Maaf Tuan Rain. Tapi tempat ini milik saya. Jadi saya jamin pembicaraan kita aman."Arman menyela untuk meyakinkan Rain.
"Oh begitu. Baiklah."Rain mengangguk-anggukkan kepalanya.
"Sebenarnya saya mempunyai seorang teman baik, sahabat. Namanya Angel. Angel Carolin, anda pasti mengenalnya."tukas Velicia.
"Tante Angel. Istri Om Candra?"tanya Rain. Velicia mengangguk.
"Kami dulu adalah sahabat dekat. Kemana-mana selalu bersama karena ayah kami adalah sesama teman bisnis juga. Kala itu kami sedang menghadiri bussines party pengangkatan bapak Andra Aditama sebagai Presdir. Karena ayah saya tidak memiliki patner ke pesta sebab ibu saya sudah meninggal sedang Angel menjadi pendamping ayahnya karena ibunya sedang sakit. Lalu terjadi kehebohan di media keesokan paginya bahwa direktur Candra meniduri seorang gadis setelah acara pesta selesai."kenang Velicia. Dia bercerita dengan sangat hati-hati.
__ADS_1
"Iya benar. Lalu nenek menutup berita itu dari daratan."Rain membenarkan.
πΎπΎ