
Sementara di rumah sakit.
Dengan segera Sisi dibawa menuju ruang operasi dan ditangani oleh dokter dengan baik. Tiba-tiba suster yang keluar dari ruang operasi berkata "pasien kekurangan darah. Dibutuhkan darah secepatnya agar pasien bisa bertahan dalam proses operasi.".
Coky dengan panik segera menghubungi Rain agar segera ke rumah sakit. "Aah sial. kenapa harus begini!" gumam Coky seraya menggerutu.
Rain yang sudah tiba di rumah sakit dengan tergesa lari menghampiri Coky.
"Dimana perawatnya?"tanya Rain terengah. Coky lalu mengantar Rain menemui perawat.
"Golongan darahnya berbeda dengan ku."gumam Rain setelah mengetahui hasil tesnya. Disaat kalut Rain teringat kepada Arman dan Velicia. Dengan segera dia menghubungi Arman dan meminta bantuan untuk mendonorkan darahnya kepada Sisi.
Arman yang berada di kantor polisi dengan segera menuju rumah sakit yang dimaksud Rain karena Rain mengatakan bahwa Sisi dalam keadaan kritis dan membutuhkan bantuan darurat.
"Ada apa tuan Rain? Kenapa harus meminta bantuan saya? Apa di rumah sakit tidak menyediakan kantung darah?"tanya Arman kepada Rain yang dengan tergesa menuju ruangan pengambilan darah.
"Darah untuk golongan A+ tinggal satu kantung pak, yang sekarang sedang dipakai untuk pasien. Jadi kami kekurangan untuk stok pasien."jawab perawat yang mengambil darah. Arman mengangguk mengerti. Setelah selesai mengambil darah, perawat lalu menuju ruang operasi lagi.
Arman yang sedang terduduk di bed rumah sakit bertanya kepada Rain, "Dari mana tuan Rain tahu jika saya bergolongan darah A+?"dengan nada selidik.
Rain menghela nafas panjang. "Maaf atas kelancangan saya pak Arman, tapi saya selalu menyelidiki orang yang bekerjasama dengan saya. Itu untuk membuktikan kepercayaan saya. Ternyata benar pak Arman mempunyai seorang putri yang disembunyikan di sebuah desa dan putri tersebut bernama Sisi, Sisi Velicia. Yang sekarang sedang kritis."
Arman terkejut mendengar pernyataan Rain. "Apa? Sisi Velicia anakku adalah yang sedang kritis sekarang?".
Arman lalu berlari menuju ruang operasi yang masih tertutup. Dia menunggu di luar sambil panik menelpon Velicia menceritakan apa yang terjadi di rumah sakit dan memintanya untuk segera datang ke rumah sakit.
__ADS_1
"Bagaimana tuan Rain bisa yakin kalau yang di dalam itu adalah anak saya? Saya menitipkan anak saya kepada adik sepupu saya di desa. Dia juga tidak mengabari kalau Sisi pergi ke kota."kata Arman dengan tak sabaran.
"Apa kesamaan darah masih kurang Pak Arman? Jika ingin, anda bisa tes DNA sekarang."jawab Rain.
Ya selama ini Arman hanya memberi Brata dana untuk biaya mengurus Sisi putrinya. Itupun dia kirim ke rekening kepala desa setempat melalui rekening atas nama orang lain agar tak terdeteksi oleh Candra. Dia juga tidak mengetahui perkembangan anaknya yang sudah tumbuh dewasa karena dia memutuskan hubungan setelah kejadian yang hampir membahayakannya dan istrinya.
"Dan lagi, saya membeli Sisi dari sebuah pelelangan pasar gelap."imbuh Rain.
"Apa?!"kata Arman, dan Velicia yang baru saja datang secara bersamaan dengan nada terkejut.
"Apa maksudnya dibeli dari pasar gelap? Anak saya dijual?!"tanya Velicia dengan nada marah. Arman memegang pundak Velicia agar dia bisa mengendalikan diri karena sekarang mereka berada di depan ruang operasi.
"Arman, hubungi kepala desa sekarang!" pinta Velicia dengan tak sabar.
"Tenanglah. Aku akan langsung kesana sekarang. Kau berjaga di sini. Pastikan operasi Sisi berjalan dengan baik."kata Arman pada istrinya. Velicia pun mengangguk.
Velicia, Coky dan Rain menunggu dalam diam. Selang berapa lama dokter kemudian keluar bersama perawat.
Dengan cepat Velicia menghampiri dokter "bagaimana dok?"tanyanya khawatir.
"Operasi berjalan lancar. Pasien selamat. Beruntung donor darah cepat di berikan."Jawab dokter. Semua menghembuskan nafas lega.
"Anda keluarganya?" tanya dokter.
"Iya dokter. Saya ibunya." jawab Velicia.
__ADS_1
"Mari ikut kami."kata dokter agar Velicia menuju ruangannya.
Di meja ruangan dokter, tertulis 'dr. Haris' disana. Velicia menunggu sambil duduk. Dokter Haris lalu duduk setelah mencuci tangannya. Tak lama perawat masuk setelah mengetuk pintu. Lalu dokter Haris mengambil berkas yang diberikan perawat.
"Pasien atas nama Sisi, terluka karena peluru, operasi berhasil."dia membacakan berkas.
"Namun ada hal lain yang mengejutkan juga. Hasilnya menunjukkan positif. Pasien Sisi sedang hamil dengan usia kandungan empat minggu." imbuhnya setelah membuka lembaran berkas berikutnya lalu menunjukkan pada Velicia.
"Apa?!"pekik Velicia terkejut tak percaya.
"Sisi hamil empat minggu?" gumamnya lirih sembari berkaca-kaca matanya membaca berkas yang dokter Haris perlihatkan.
"Beruntung dia tidak mengalami guncangan sehingga rahimnya kuat dan janinnya bisa bertahan meski terluka dan hampir kehilangan banyak darah."ujar dokter.
Velicia membungkam mulutnya dengan tangan merasa masih tak percaya. Dia berdiri sambil memegang kening kepalanya.
"Nyonya anda tidak apa-apa?"tanya perawat yang melihat Velicia sedikit terhuyung.
Dia merasa seolah dunia sedang menghantamnya kali ini. Apa ini karma untukku yang selama ini mengabaikan anak sendiri, gumamnya yang hatinya terasa perih tersayat. Namun dia harus berada dalam kesadarannya untuk memastikan jika Sisi baik-baik saja sekarang.
Velicia sedang kebingungan sekarang. Apa yang harus dilakukannya. Jika menghubungi Arman akan membuatnya semakin terkejut dan dia tidak akan fokus dalam menyetir.
Jika berbicara pada dua orang itu, dia tak yakin juga apa yang akan dilakukan mereka. Velicia lalu pamit keluar setelah dokter bilang Sisi akan dipindahkan ke ruang ICU.
Dengan diam dia berjalan menuju ruangan Sisi sambil pikirannya penuh dengan banyak kejadian yang dihadapinya baru saja. Yang mulanya dia dan Arman ingin menuntaskan janjinya terhadap sahabatnya untuk menangkap Candra berakhir dengan mengetahui putrinya sedang terbaring kritis di rumah sakit.
__ADS_1
πΎπΎ