
"Bagaimana?" tanya Arbre saat sampai pada posisi Subaki.
"Hotel Prisma Raya. Mereka bilang melihat anak buah Candra Aditama berjaga disana." ucapnya dengan lesu.
"Deg".
Jantung Arbre merasa di hantam. Dia sudah tahu pasti apa yang terjadi tanpa bertanya.
Dia dan juga Subaki sedang menjalin kerjasama dengan perusahaan yang Candra pimpin. Jika dia menggebrak dan melawan sekarang, akibatnya sudah pasti akan fatal.
Candra Aditama yang terkenal keras dan kejam dalam bisnisnya. Dia juga bisa mengancam diluar perusahaan untuk membuat rekan dan lawannya tunduk. Arbre pun tak bisa berbuat apa-apa untuk membantu temannya. Mereka akhirnya kembali ke rumah masing-masing.
Dini hari sekali Angel pulang dengan mengenakan bathroob yang masih basah dan dengan tangis yang terisak-isak.
Dia berlari membuka pintu rumahnya dan menjatuhkan tubuhnya di pelukan ayahnya yang sudah menunggu kedatangannya di ruang tamu sedari tadi.
"Ayaahh!!" teriaknya dipelukan ayahnya.
Subaki paham apa yang sudah terjadi pada anaknya.
"Maafkan ayah. Maafkan ayah. Maaf. Maaf." ucapnya memeluk Angel sambil menangis dan mengecupi anak semata wayangnya itu.
"Maafkan ayah." katanya sekali lagi.
"Manusia biadab! Aku akan pastikan dia menerima balasannya!" kutuk Angel dalam pelukan ayahnya.
Lalu keesokan paginya tersebar berita bahwa Candra Aditama meniduri seorang gadis anak dari relasi bisnisnya.
...* * *...
"Bodoh kalian! Apa kalian buta untuk membedakan wajah mereka?!" teriak Candra saat tersadar jika anak buahnya salah target.
Malam itu dia juga meminum wine yang sama agar tidak dicurigai, dan nanti dia juga bisa beralibi bahwa dia melakukanya dalam pengaruh minuman yang juga diberi perangsang.
"Maaf Tuan. Tapi tuan hanya memberi tahu kepada kami bahwa orangnya adalah gadis bergaun hitam yang sedang duduk di tempat itu. Dan kami hanya melihat gadis itu." jawab anak buahnya.
Candra lalu mengingat kejadian semalam. Iya dia hanya menunjukkan ke anak buahnya bahwa gadis yang duduk disana adalah Velicia, namun tidak memberitahu bahwa yang berada di sebelah kiri atau kanan.
Dan dia juga tidak tahu setelah kepergiannya memberi instruksi kepada anak buahnya Velicia beranjak pergi mengambil camilan dan tinggal Angel yang duduk sendirian disana.
Jadi anak buah Candra mengira yang dimaksud gadis itu adalah Angel.
"Sial!" umpatnya.
Setelah berita itu tersebar Ratna Aditama lalu turun tangan menutup mulut media yang memberitakan kejadian tersebut. Seketika berita itu pun hilang dari daratan.
"Betapa mengerikannya kekuatan orang besar." gumam Subaki dalam hati.
Ratna lalu menghubungi keluarga Subaki untuk meminta diadakan janji temu. Subaki pun menyanggupi permintaan Ratna.
Karena jika dia membiarkan begitu saja kejadian yang menimpa putrinya efeknya akan buruk untuk reputasi perusahaan miliknya.
__ADS_1
Akhirnya keluarga Subaki dan keluarga Aditama melakukan pertemuan.
Ratna dan keluarga besar Aditama datang meminta maaf kepada keluarga Subaki. Ratna berjanji akan membuat anaknya bertanggung jawab atas perbuatannya.
Dia mengutarakan akan menyusun rencana pernikahan untuk Candra dan Angel dengan mahar yang tinggi sebagai bentuk permintaan maaf keluarga Aditama atas tindakan Candra. Dan berjanji reputasi keluarga Subaki dan perusahaan milik Subaki akan membaik seperti tidak terjadi apa-apa.
Candra yang tidak terima dengan keputusan yang telah ibunya buat secara sepihak itu lalu merencanakan sesuatu.
Satu bulan setelah diumumkan bahwa putra putri dari keluarga Subaki dan keluarga Aditama akan menikah.
Maka media pun ramai membicarakan bahwa dua perusahaan akan menjadi besan dan disebutkan bahwa perusahaan Subaki bisa saja akan sejajar dengan perusahaan Aditama.
Candra merasa terancam dengan berita itu. Dia mengkhawatirkan anak perusahaan yang dia pimpin jika nanti akan sejajar dengan perusahaan Subaki dia akan semakin sulit untuk mengalahkan perusahaan utama Aditama.
Dia lalu merencanakan hal buruk kepada calon mertuanya itu. Dengan menyabotase mobil yang ditumpangi Subaki dan istrinya yang akan melakukan perjalanan ke luar kota hingga hingga terjadi kecelakaan yang menyebabkan kematian mereka.
Candra berharap jika setelah kematian orang tua Angel maka pernikahan mereka akan di batalkan.
Namun ternyata di luar dugaan. Saat pembacaan surat wasiat orang tua Angel, Candra ikut hadir karena masih menjadi calon suami Angel. Dia mendengarkan bahwa seluruh aset Subaki Cahyono diberikan mutlak kepada Angel Carolin Subaki.
Dia lalu mengurungkan niatnya untuk membatalkan pernikahannya dengan Angel karena ingin menguasai perusahaan Subaki agar bisa ia jadikan penyokong kekuatannya untuk mengalahkan Andra yang memimpin perusahaan utama Aditama.
Hari pernikahan Angel Carolin Subaki.
Diruang rias pengantin.
"Angel. Bagaimana kabarmu? Aku tidak bisa menghubungi mu sama sekali selama satu minggu ini. Aku terus memikirkan mu. Kamu terlihat tampak kurus sekarang." Velicia yang baru saja bisa bertemu dengan sahabatnya lalu memeluk erat sahabatnya itu.
"Katanya kamu sedang dipingit. Tapi lihat ini, pipi mu tirus sekali dan pinggul mu sangat kecil." Velicia membelai wajah Angel dan meneliti setiap bagian tubuh Angel.
"Mereka sebenarnya merawat mu dengan baik atau tidak sih?" Velicia tak henti bergerutu.
Angel yang terkejut dengan kedatangan Velicia lalu mengintruksikan kepada perias untuk ditinggalkan berdua saja. Sang perias pun mengangguk.
"Kau masuk kemari tanpa ada yang tahu? Di depan pintu ada pengawas Candra kan?" tanya Angel sedikit khawatir sambil melihat ke arah pintu.
"Tenang saja. Mereka sudah aku kelabui. Aku menyuruh seorang ibu-ibu tamu undangan untuk pura-pura menanyakan kamar kecil." Velicia menenangkan sahabatnya.
"Aku juga membayar anak kecil untuk menangis merengek minta dicarikan ibunya." imbuh Velicia.
Angel lalu menghela nafas, "Huuh. Syukurlah."
"Lalu apa yang ingin kau ceritakan padaku? Terakhir di telepon kau bilang jika Candra sudah mengambil alih rumah mu. Apa maksudnya?" Velicia tak sabaran.
Angel dengan segera mengunci kamar rias tersebut lalu kembali menghampiri Velicia.
"Candra, dia memecat seluruh pelayan di rumah ku lalu menggantinya dengan pelayan kepercayaan dia." kata Angel.
"Mana bisa begitu! Kau kan belum menjadi istrinya. Sedangkan mereka adalah orang-orang kepercayaan mendiang orangtuamu dahulu." protes Velicia.
"Iya. Karena itulah dia menggantinya. Kau tau kan orang tuaku meninggal karena kecelakaan? Dan penyebab kecelakaan itu terjadi adalah karena campur tangan Candra." jelas Angel.
__ADS_1
"Apa maksudmu?!" Velicia tersentak tak percaya.
"Dengarkan aku Velic. Malam setelah kejadian yang menimpaku itu, ayah tahu semuanya. Namun ayah hanya bisa diam. Dia tidak mampu berbuat apapun karena dia tahu sendiri seperti apa kekuatan keluarga Aditama. Demi reputasi keluarga dan perusahaan, aku dan keluargaku mau menerima tawaran nyonya Ratna Aditama. Mereka berdalih dengan membersihkan namaku juga sebagai gadis yang sudah ternoda lalu menyarankanku untuk menerima pinangan mereka. Lalu mereka memberi kami mahar yang tinggi alih-alih sebagai bentuk permintaan maaf tapi menurutku itu adalah untuk menutup mulut kami." Angel bercerita sambil terisak.
"Kau dihina Angel! Kau dianggap barang oleh mereka!" teriak Velicia emosi mendengar perkataan Angel.
"Lalu aku bisa apa?!" Angel tersedu-sedu.
"Keluarga ku hanya memiliki kekuatan kecil. Kami bisa bertahan hidup dari perusahaan yang kami miliki satu-satunya. Kami bisa apa Velic? Ayah ku bilang bahkan ayah mu pun tidak bisa membantu ayah ku." Angel masih terisak dengan ceritanya.
"Iya kau benar. Kita hanya orang kecil bagi mereka. Maafkan aku Angel." Velicia memeluk tubuh sahabatnya.
Kata-katanya mulai melemah. Dia dan keluarganya juga bukan orang yang bisa sebanding dengan keluarga Aditama, meski orangtuanya dan orangtua Angel bersatu tak bisa bertanding dengan keluarga Aditama.
"Candra, dia yang sudah membunuh orangtuaku. Satu minggu yang lalu aku baru mengetahui kebenarannya. Dia yang menyabotase kecelakaan orangtuaku Velic. Dia membayar sopir kami untuk mencelakakan mereka. Bajingan itu!" Angel menangis meraung sambil menahan isak.
"Deg" jantung Velicia terasa dihantam.
"Ini pembunuhan." gumam Velicia dalam hati.
"Angel jangan keras-keras. Nanti ada yang masuk." bisik Velicia sambil menenangkan sahabatnya.
"Aku tidak menyangka ternyata sebejat itu keluarga Aditama." kata Velicia geram.
"Candra bilang. Jika aku tutup mulut dan pura-pura tidak tahu maka aku akan hidup dengan tenang." lanjut Angel.
"Ini... Ini ancaman Angel" tukas Velicia dengan nada rendah tak percaya.
"Velic, aku ingin menuntut balas atas kematian mereka. Aku akan menghabisi Candra!" teriak Angel.
"Angel tenanglah. Pelankan suara mu." Velicia menenangkan sahabatnya. Ia takut jika nanti penjaga yang di depan pintu mendengar teriakkan Angel mereka akan masuk.
"Dengar. Aku akan membantumu untuk membalaskan dendam mereka. Tapi tidak dengan kematian Candra." Velicia memegang kedua pipi Angel dan menatapnya lurus.
"Itu terlalu mudah baginya menerima balasan. Kita akan buat dia merasakan seperti tidak ingin lagi hidup di dunia meski dia masih bernyawa." kata Velicia.
"Dengar Angel. Cam kan baik-baik. Aku, akan membantumu balas dendam." ujar Velicia.
Angel lalu mengangguk, "Aku sudah bertekad. Tolong bantu aku dari luar Velic. Karena setelah ini, aku tidak tahu apakah kita bisa bertemu lagi."
"Tenangkan dirimu sekarang. Ayo, aku bantu membenarkan makeup mu lagi." kata Velicia. Angel mencoba menenangkan dirinya sendiri.
"Aku sudah terlalu lama disini." kata Velicia membenahkah Angel. "Aku akan menceritakan semua ini kepada ayah dan meminta sedikit bantuan kepadanya. Aku berjanji akan mencari jalan, apapun caranya untuk mendapatkan bukti kejahatan Candra." kata Velicia sambil merias wajah Angel.
"Sudah selesai. Setelah kau di panggil keluar, penjaga itu juga akan mengantar mu pergi. Aku akan menunggu dulu disini, setelah mereka pergi aku akan keluar." kata Velicia sambil memegang pundak Angel.
"Tetaplah bertahan hidup, sampai kita melihat hari pembalasan itu datang." ucap Velicia menyemangati Angel.
"Baiklah. Terimakasih. Kau berhati-hatilah saat keluar." Angel memegang tangan Velicia. Velicia mengangguk sambil tersenyum.
πΎπΎ
__ADS_1
jangan lupa tinggalkan jejak. kasih like, vote dan komentar. happy reading π€π