GADIS UMPAN MILIK BOS

GADIS UMPAN MILIK BOS
BAB 16


__ADS_3

"Luna?"asisten Coky menghubungi dengan earpiece karena bantuan belum juga datang.


"Sepertinya ini akan jadi tugas terakhir ku. Asisten Coky senang bekerjasama dengan anda selama ini."kata Sisi mengucapkan kata untuk perpisahan terakhir.


Mereka benar-benar sudah kewalahan dan kelelahan.


"Kau jangan bicara seolah akan langsung mati. Jika ini tugas terakhir mu belum tentu juga karena kau mati. Eghh..." asisten Coky yang sedang berbicara lengah dan terkena tembakan di betisnya.


"Apa kau merasa apa yang aku bicarakan barusan?"Sisi bertanya dengan senyum pedih.


"Tuan Rain tidak akan diam."kata Coky yang mulai terjatuh lemas.


Sisi pun terduduk memunggunginya. Enam orang 'bat' yang tersisa menodongkan pistol ke arah kepala mereka. Sisi mengangkat kedua tangannya tanda menyerah. Para 'bat' tertawa.


"Jika mereka menembak aku akan jadi tameng untuk mu. Sebisa mungkin barang itu sampai pada tuan Rain."kata Sisi dengan terengah.


Tak lama suara tembakan terdengar beruntun dan para 'bat' yang tersisa enam orang pun berjatuhan.


Sisi yang sedari tadi tegang sekarang bisa bernafas lega. "Hah hah hah hah... Akhirnya kau benar. Aku masih hidup."dia mendongakkan kepalanya ke pundak belakang asisten Coky.


Asisten Coky pun melakukan hal yang sama "haahh..aku yang hampir mati. kakiku..."katanya sambil terbata-bata.


"Diamlah. Aku tahu. Kita akan selamat." kata Sisi menyemangati.


Anak buah Rain datang bersamanya mendekati Sisi dan Coky.

__ADS_1


Rain yang melihat mereka sedang beradu punggung dan menopang kepala memandang aneh, "sedang apa kalian ini?".


"Asisten Coky terluka Tuan." kata salah satu orang Rain memeriksa Coky.


"Bawa dia."perintah Rain. Mereka mengangguk lalu membawa asisten Coky masuk ke dalam mobil. Sisi tergeletak karena tak ada sandaran untuknya.


"Kau tidak apa-apa?"tanya Rain. Sisi tak menjawab dia hanya bernafas dengan terengah-engah.


"Kau tidak akan mati kan?"Rain berjongkok memeriksanya.


"Apa Tuan berharap aku mati disini?"tanya Sisi dengan cepat.


Rain terkejut mendengar ucapan Sisi, "kau bisa berdiri?" dia mengulurkan tangannya.


Sisi menyambutnya lalu bangun. "Aku bahkan bisa berjalan."kata Sisi lalu berdiri dan beranjak meninggalkan Rain.


Asisten Coky dibawa ke rumah sakit di bawah naungan Rain untuk dilakukan operasi pengambilan peluru. Dia ditemani Luna yang masih memakai baju tugasnya dan beberapa bodyguard.


Sedangkan Rain dan Sisi menuju markas base camp mereka.


"Ini barang yang asisten Coky dapatkan?"tanya Rain membuka ransel milik Coky.


"Periksa ini semua!"perintah Rain pada anak buahnya.


"Bersihkanlah dulu dirimu."perintah Rain pada Sisi.

__ADS_1


Sisi lalu masuk ke kamar yang dulu pernah dia pakai untuk istirahat. Dia membuka semua bajunya lalu menuju kamar mandi dan menyalakan kran air.


Diguyurnya semua badannya dengan air hangat dari shower yang mengalir.


Dia membayangkan kejadian tadi. Seandainya jika dia mati disana, apakah akan dikuburkan dengan layak atau akan dibuang begitu saja. Jika dia mati siapa yang akan menangisinya dan hadir dalam pemakamannya.


Dia lalu membersihkan kotoran dan darah yang menempel padanya. Bau anyir menyelimuti kamar mandi. Dia lalu menggunakan sabun yang banyak dan menggosoknya sebersih mungkin agar bau anyir itu hilang. Dia baru merasa sedih sekarang karena hampir saja dia menemui mautnya dengan cara yang sama dengan pekerjaannya.


Dia menangis sedih. Lahir tanpa orang tua, hidup dan besar menjadi beban orang lain. Diculik lalu dijual, di beli pun dijadikan pembunuh. Takdir macam apa yang di gariskan untuk nya. Baru kali ini dia merasa benci dengan dirinya sendiri, dia memukul-mukul kepalanya.


Setelah lamanya dia berada di kamar mandi hingga keriput di tangan dan kakinya terlihat dia lalu mematikan shower. Dia keluar dari shower bersekat kaca itu dengan handuk kimono nya. Diambilnya handuk kecil dari lemari bawah wastafel dan dipakainya untuk menggulung rambutnya yang basah. Dia menyandarkan diri di dinding kaca kamar.


Sinar matahari yang masuk menerpa badannya. "Terasa hangat" gumamnya meresapi hangatnya sinar mentari. Dilihatnya tangannya sudah mulai tak berkerut lagi.


"Tok tok tok"suara ketukan pintu mengagetkan Sisi yang sedang asik dengan dirinya sendiri. Dia lupa jika dia sedang berada dirumah orang lain dengan empunya rumah ada di dalamnya. Dengan segara dia membuka pintu kamar. Dilihatnya Rain yang sedang berdiri di depan pintu.


"Ada apa tuan?"tanya Sisi. Rain merasa terkejut Sisi membuka pintu dengan masih memakai handuk. Terlihat belahan dada dari handuk kimono yang dipakainya, belum lagi bagian paha yang terlihat sedikit belahannya.


"Pakai dulu bajumu."kata Rain lalu menarik kembali gagang pintu yang dibuka Sisi. Dia pergi dari depan pintu kamar Sisi dengan muka memerah dan dirasakan kembali desiran darah yang mengalir di dalam tubuhnya. Sekarang dia merasa jantungnya berdetak lebih cepat dari biasanya.


"Apa-apaan gadis itu. Selalu saja kurang waspada pada diri sendiri."gumamnya sambil mengipas-ngipas kemejanya seperti kegerahan.


Sedangkan Sisi yang berada di dalam kamar terbengong. Dia lupa jika hanya sedang memakai handuk saja. Dengan segera dia mengganti baju dan mengeringkan rambutnya. Belum juga selesai smartwatch nya bergetar "iya bos sebentar lagi saya siap."jawab Sisi.


"Aku tunggu di mobil. Kita akan menjenguk asisten Coky."kata Rain lalu mematikan sambungan teleponnya.

__ADS_1


Sisi segera mengeringkan rambutnya dengan cepat dan menyisirnya. Dia teringat Luna yang sedang menemani asisten Coky di rumah sakit dan berinisiatif membawakan baju ganti.


🐾🐾


__ADS_2