
Asisten Coky memasukkan mobil lewat pintu lain di kediaman Aditama. Bukan melewati gerbang utama. Dia lalu keluar dari mobil mengajak Sisi memasuki sebuah lift.
"Ini jalan rahasia ruang kerja Tuan Rain. Akan ku verifikasi dulu agar kau juga bisa mengaksesnya."asisten Coky memegang tangan Sisi yang lembut dan meletakkannya di layar untuk ferifikasi sidik jari. Pintu akses pun terbuka Rain sudah menunggu di sana. Rain melihat sekilas Sisi yang memakai jas asisten Coky.
"Kau akan ikut asisten Coky untuk tugas selanjutnya."Rain melempar sebuah berkas bertulis keluarga Gunawan yang ada fotonya ke atas meja.
"Orang tua Aska. Dia tidak akan terima begitu saja dengan kematian anaknya. Buat dia bungkam sebelum media tau."kata Rain pada Sisi dan asisten Coky. Asisten Coky mengangguk dan memegang tangan Sisi untuk diajak keluar. Rain memperhatikan mereka dari belakang.
Sisi dibawa kesebuah rumah yang lumayan jauh dari kediaman Aditama. Rumah yang berisi banyak senjata.
"Apa mereka punya ijin untuk menyimpan senjata sebanyak ini?"pikir Sisi.
"Media belum mengabarkan kematian Aska berarti Tuan Rain sudah membereskannya. Istirahatlah sekarang. Kamarmu sebelah sana."tunjuk asisten Coky sambil melepas kacamatanya. Sisi sedikit terpana karena mukanya terlihat berbeda saat dibanding sedang memakai kacamata.
"Ada yang ingin ditanyakan?"pertanyaan Coky menyadarkan Sisi.
"Tidak. Aku akan masuk dulu."kata Sisi. Saat sampai di kamar dia terkejut melihat Luna sedang terbaring disana. Dia sedang terlelap tidur rupanya. Sisi lalu membuka lemari mencari baju yang nyaman dikenakan dan pergi ke kamar mandi untuk membersihkan diri. Saat keluar dari kamar mandi dia melihat Luna terbangun.
"Apa aku membangunkan mu?"tanya Sisi mengeringkan rambutnya dengan handuk. Badannya lebih segar setelah mandi karena asap rokok dan debu jalanan semalam.
"Tidak. Ini sudah pagi jadi aku bangun. Kita akan bertugas bersama besok malam."Luna turun dari ranjang.
__ADS_1
"Emm.."Sisi mengiyakan.
"Kau berhasil untuk tugas pertamamu bisa selamat. Istirahatlah."kata Luna melemparkan selimutnya lalu pergi ke kamar mandi. Sisi yang merasa lelah lalu membenarkan diri untuk tidur.
"Kau tertarik padanya?"Luna mengaduk cangkir kopinya.
Asisten Coky menaikkan alisnya sebelah, "Siapa? Sisi? Lelaki normal manapun juga akan tertarik. Mata indah, kulit mulus, wajah putih merona siapa yang tidak akan tertarik."
Sisi yang berada di balik pintu pantry mengurungkan niatnya untuk masuk. Wajahnya memerah mendengar perkataan asisten Coky. Dia lalu kembali ke kamar dan menutup dirinya dengan selimut lagi. Dia lebih baik menahan haus daripada orang lain melihat muka merahnya.
"Jika tidak bisa menarik perhatian lelaki untuk dijadikan umpan Bos tidak mungkin membelinya."asisten Coky meminum kopi buatan Luna.
"Bukan aku tapi pelayan itu."tegas Luna. Asisten Coky lalu tertawa dan mengingat jika Sisi pernah terkunci di gudang.
"Kalian sudah siap? Set jam kalian dengan waktu yang sama. 30 menit kita selesaikan. Jika situasi tak terkendali selamatkan diri kalian sebisa mungkin."asisten Coky memberi instruksi.
Mereka memakai seragam tugas serba hitam yang senada serta pistol kedap udara di tangan masing-masing.
"Penjaganya lebih ketat dari yang kuduga."gumam asisten Coky. Mereka pun menyebar mengendap dengan lihai.
"Nihil."kata Luna melalui earpiece yang saling terhubung.
__ADS_1
"Kosong."kata Sisi setelah membuka pintu kamar.
"Hanya pelayan."kata Luna dengan mengendap.
"Disini wanita."asisten Coky berbicara.
"Aaaa tolong!"teriak istri Gunawan.
"Merepotkan"kata Luna. Terdengar suara tembakan dari earpiece mereka.
"Sudah beres cepat pergi."instruksi asisten Coky.
Tapi teriakan istri Gunawan mengundang para penjaga masuk ke rumah. Akhirnya mereka harus berkutat lama dengan para penjaga tersebut. Assisten Coky mengisyaratkan agar wanita keluar lebih dulu.
"Asisten Coky disamping mu!"Sisi berteriak mencoba menyelamatkan asisten Coky dengan menggunakan badannya. Peluru meleset mengenai lengannya. Darah pun mulai keluar. Dia lalu menembak orang yang menyerangnya. Tak lama Rain dan anak buahnya datang menyelamatkan mereka.
"Bereskan semua ini dan jangan tinggalkan jejak!"Rain menunjuk CCTV. Dia melihat Luna yang sedang membalut luka Sisi.
"Jangan terlalu sering ceroboh" katanya sambil berlalu.
πΎπΎ
__ADS_1