
Waktu Arman tiba di kampung.
Dengan terburu-buru dia melangkah ke rumah adik sepupunya itu. Tanpa mengetuk pintu dia lalu menerobos masuk.
"Brata dimana kamu?!"teriaknya yang tak mendapati Brata di dalam rumah.
"Brata! Brata!"dia terus berteriak-teriak sambil mengelilingi isi rumah hingga dia menemukan Brata sedang berada di kebun belakang.
"Brata!"panggilnya dengan berteriak.
"Kakak?"Brata terkejut sekaligus senang melihat kakak sepupunya bisa berkunjung. Lastri yang melihat wajah Arman mulai gugup berkeringat.
"Dimana Sisi? Mana putriku?"tanya Arman yang sampai di depan Brata. Brata terdiam lesu. Dia tak tahu harus menjelaskan dari mana.
"Ayo duduk dulu kak. Saya akan menceritakannya."Arman dituntun ke sebuah saung kecil di ujung kebun. Lastri mengikuti mereka dengan langkah perlahan dan raut muka ketakutan. Setelah duduk Brata menceritakan kejadian sebelum Sisi hilang.
"Jadi kami tidak tahu sekarang dia dimana. Saya sudah berusaha mencari tahu dengan meminta bantuan pak kepala desa agar membantu kami tapi juga tak ada hasil. Saya kira dia hanya sedang bekerja untuk menghasilkan uang banyak hingga pulang malam. Tapi sampai larut saya menunggu tak kunjung pulang. Maafkan saya kak. Jika saja perekonomian kami lebih baik lagi mungkin putri kakak tidak akan ikut bekerja keras seperti kami."jelas Brata.
__ADS_1
Arman mengernyitkan dahi, dia melihat kejujuran dalam cerita adiknya itu. Tapi dia heran apa selama ini dia tidak tahu jika dirinya selalu mengirim uang yang bahkan lebih dari cukup untuk menghidupi Sisi melalui kepala desa.
"Brata, apa kamu tidak tahu aku selalu mengirim uang untuk mu? Itu aku kirimkan untuk biaya menghidupi Sisi dan menyekolahkannya. Bahkan untuk mengganti rumah bambu mu itu menjadi bangunan megah pun masih tersisa." ucap Arman sambil menunjuk rumah Brata yang masih terbuat dari kayu dan berdinding bambu. Brata terkejut mendengar pernyataan Arman.
"Apa? Tapi selama ini..."Brata tak melanjutkan ucapannya dia lalu menoleh menatap istrinya. Lastri langsung menunduk melihat tatapan Brata. Isyarat jika istrinya tahu sesuatu dan menyembunyikan darinya. Arman sudah mengerti situasinya sekarang.
"Apa kau tahu, aku menemukan Sisi dijual dalam pelelangan pasar gelap?" tekan Arman sambil menatap Lastri tajam. Lastri semakin menunduk ketakutan.
"Apa? Dijual?!"teriak Brata terperangah tak percaya. Lastri semakin gemetaran.
"Aku sudah melaporkan ke polisi untuk menangkap pelakunya."tegas Arman.
Arman murka bahwa dugaannya benar dan Brata juga marah besar. Tapi Lastri menjelaskan jika dirinya tidak tahu bahwa Sisi akan dijual ke pasar gelap oleh germo itu. Arman tak bisa mentolerir kelakuan Lastri. Dia sangat marah lalu menghubungi polisi setempat untuk menangkap Lastri.
"Akui perbuatan mu kepada polisi!"teriak Brata pada istrinya. Lastri menangis sejadinya merasa bersalah dan menyesal.
"Maafkan atas kebodohan dan kecerobohan saya kak. Saya tidak bisa menjaga Sisi dengan baik. Saya bahkan juga tidak tahu jika kakak sering mengirim uang dalam jumlah besar kepada kami untuk biaya hidup Sisi." ucap Brata sambil tersujud menangis meminta maaf pada kakaknya.
__ADS_1
Ya karena selama ini yang mengambil uang hasil kiriman Arman ke kepala desa adalah Lastri. Arman tahu sekarang mengenai situasi adiknya. Ternyata selama ini Brata dan Sisi dimanfaatkan oleh istrinya hingga mereka harus bekerja keras seolah mereka masih kekurangan uang. Lalu kemana semua uang yang selama ini dia kirimkan untuk mereka? Tanyanya dalam hati.
Selang berapa lama polisi datang dan menangkap Lastri. Lastri terus saja memohon ampun dan meminta maaf kepada Arman dan Brata. Dia dibawa ke kantor kepolisian setempat diikuti bersama Arman dan Brata.
Sesampainya di kantor polisi ia dimintai keterangan atas kejahatannya.
Lastri menceritakan semua perbuatannya yang telah menjual Sisi kepada seorang germo tanpa diketahui oleh suaminya.
"Saat itu saya butuh uang untuk melunasi pinjaman yang bunga nya setiap hari harus menyicil. Saya gelap mata menerima uang sebanyak itu. Saya memakainya untuk taruhan dan berjudi. Namun saya sering kalah dan uang itu habis. Saya merasa marah dan tidak terima lalu saya meminjam uang kepada Madam Mona dengan bunga besar dan harus dibayar menyicil setiap hari." jelas Lastri.
Lastri juga mengakui menggelapkan sebagian uang yang dikirim oleh Arman untuk keperluan pribadinya dan mengajak teman teman dekatnya untuk bermain ke tempat perjudian dimana Madam Mona juga membuka jasa bordil. Setiap mereka berkunjung ke sana Lastri lah yang membayar untuk mereka.
Tapi dia juga membela diri jika uang yang Arman kirimkan dipakai untuk menyekolahkan Sisi. "Tapi kak, aku juga menyekolahkan Sisi dengan baik dan sekolah itu terhitung sekolah yang bagus di daerah kami. Kakak, mohon beri pengampunan kepada saya." kata Lastri sambil berjongkok dengan tangan masih di borgol. Brata juga membenarkan omongan Lastri.
Tapi tetap saja Arman merasa marah juga geram dan ingin Lastri mendapatkan hukuman atas apa yang telah ia perbuat. Brata yang marah dan juga merasa dikhianati oleh istrinya karena telah memanfaatkan dia dan Sisi menyetujui keputusan kakaknya untuk membiarkan Lastri menebus perbuatannya di dalam penjara.
Arman yang sudah menyelesaikan urusannya di desa langsung kembali ke rumah sakit untuk menemui Sisi dan Velicia.
__ADS_1
πΎπΎ