GADIS UMPAN MILIK BOS

GADIS UMPAN MILIK BOS
BAB 81


__ADS_3

"Ayo. Sebelum lebih malam dan ayah datang, kita pasti akan kena ceramah." ajaknya agar kecanggungan tak terjadi lama.


Mereka mengelilingi jalanan malam kota memakai mobil yang tentu saja dengan sopir dan satu pengawal. Tentu saja aturan Agustino dari dulu tidak akan berubah.


Mereka kemudian berhenti di sebuah jembatan yang dibawahnya mengalir sungai dimana di sisi-sisi sungai terdapat lampu tembak warna-warni menghiasi sepanjang aliran sungai. Cukup lama mereka disana dan berbincang sedikit.


"Ingin sesuatu yang hangat?" tawar Rehan. Velicia menoleh ke arah Rehan yang berada di sampingnya.


"Apa?"


Rehan menunjuk ke sebuah kedai minuman. Velicia mengangguk. Mereka berjalan kaki ke arah kedai itu dengan diikuti oleh sang sopir yang mengendarai mobilnya berjalan di belakang mereka.


Ternyata segala jenis minuman disediakan di kedai itu, mulai dari jus, kopi, teh, susu, bahkan minuman alkohol pun ada.


"Aku ingin susu coklat hangat saja. Sepertinya itu termasuk minuman favorit disini." tunjuk Velicia pada papan menu yang tertera.


"Oke." kata Rehan. Sedang dirinya memesan bir dalam kaleng.


"Kau sering kesini? Maksud ku saat kau masih berada di sini." tanya Velicia yang kini minuman pesanan mereka sudah tersaji di meja.


"Hanya sesekali saja, jika sedang sangat lelah dengan pekerjaan kantor. Apalagi jika sudah merasakan penat." jawab Rehan lalu menyesap sedikit minuman kalengnya.


"Dengan siapa?"


Pertanyaan yang normal kan itu? Rehan menyilangkan kaki lalu menatap Velicia.


"Teman. Partner atau kolega."


"Ah.." Velicia mengangguk-angguk mengerti.


"Kak Regan juga akan kemari bersama kak Belle. Kita ada yang perlu dibahas bertiga." ucap Rehan.


Maksud Rehan adalah antara Agustino, Regan dan dirinya. Velicia menyimak dengan menikmati susu coklatnya.


"Tentu saja diantaranya tentang perusahaan dan acara lamaran untuk mu." lanjut Rehan.


"Uhuk.." Velicia hampir tersedak. Untung dia pandai menguasai diri untuk mengendalikan situasi.

__ADS_1


"Tidak apa-apa?" tanya Rehan sedikit memajukan badannya. Velicia mengangguk lalu menyeka mulutnya dengan tisu yang tersedia di meja tersebut.


Setelah tenang Rehan melanjutkan ceritanya, "Kami akan melamar mu secara resmi, ayah memaksa ingin ikut datang ke sana. Setelah acara lamaran beliau juga ingin menghadiri pernikahan kita."


Tentu saja, Agustino kan orang tua satu-satunya dari pihak Rehan.


"Jadi aku merencanakan dua minggu atau satu bulan setelah lamaran kita akan menikah." ucapnya.


Itulah yang dia bicarakan dengan Agustino saat malam itu ayahnya mencarinya. Tentu saja tidak semua diceritakan, hanya yang bersangkutan dengan Velicia saja yang ia sampaikan.


"Apa? Dua minggu?!" tanya Velicia seraya menatap Rehan lurus tak percaya.


"Bagaimana kita akan mempersiapkannya? Kita belum menyusun acara, pesan baju, fitting, mencari gedung.." Velicia seolah aktif dalam bicaranya setelah mendengar pernikahannya akan diadakan secepatnya.


"Tenang saja. Biar aku saja yang mengatur semuanya. Aku juga yang akan menceritakan rencananya kepada ayah mu." sela Rehan agar Velicia tak terlalu panik.


"Ah, baiklah. Aku mengerti." ucapnya tertunduk lalu diam saat mulutnya yang sedang aktif tersela oleh ucapan Rehan. Dia lalu menyeruput kembali susu coklat hangatnya.


Setelah satu minggu mereka disana, hari ini adalah hari kedatangan Belleza dan Regan.


Velicia yang keluar dari kamarnya mengedarkan pandangannya mencari keberadaan Rehan di setiap sudut dia melangkah. Lalu terlihatlah sosok dengan setelan baju spandek yang keluar dari sebuah ruangan. Tempat gym, menurutnya. Lelaki itu juga berjalan ke arahnya dengan handuk kecil yang mengalung di leher.


Velicia tak langsung menjawab, mulutnya ternganga namun tak dapat berucap. Dia takjub dengan penampilan sosok lelaki didepannya kini. Terlihat tinggi, atletis dan sporty, apa-apaan bayangannya itu.


"Hei.." ujar Rehan lagi dengan raut muka yang kini alisnya hampir menyatu.


"Ah.. iya.. kak Belleza.. memberi tahu ku bahwa mereka sekarang sudah di bandara." jawab Velicia yang sudah sadar itu dengan gagap.


"Oh.. tidak usah khawatir, sudah ada yang menjemputnya di bandara. Kita hanya perlu menyambutnya disini." ujarnya ringan lalu beranjak pergi meninggalkan Velicia setelah pamit. "Aku mandi dulu."


Velicia mengangguk, dia hanya bisa menatap punggung lelaki yang akan menjadi suaminya itu dengan kagum.


"Badannya bagus dan berbentuk." gumamnya mengagumi.


"Astaga... Otak ku." rutuk nya dalam hati.


Malam harinya..

__ADS_1


"Selamat datang. Kalian kemana dulu? Waktu ku jadi banyak terulur." sambut Rehan pada Regan dan kakak iparnya. Velicia, Agustino dan beberapa pelayan juga ikut menyambut kedatangan mereka.


"Aku hanya punya waktu dua hari, tentu saja aku menikmatinya lebih dulu sebelum kau semakin merepotkan ku disini." jawab Regan.


Agustino hanya menggeleng-gelengkan kepalanya melihat kelakuan anak mereka. Rumahnya kini terasa ramai lagi setelah semua berkumpul apalagi dengan membawa pasangan masing-masing.


"Aku tidak punya banyak waktu, ayo kita bahas sekarang. Aku juga sudah istirahat jadi jangan menunda lagi." tutur Regan melepas kancing atas kemejanya dan memberikan jasnya kepada pelayan yang sudah siap menyambut.


"Belle, istirahatlah lagi dengan Velicia." pesannya kepada sang istri lalu berjalan menuju ruang kerja Agustino. Belleza mengiyakan menuruti kata suaminya.


"Ayo Velic, kita ke kamar." ajaknya. Sedang sedari tadi pelayan sudah menempatkan barangnya di kamar yang akan dipakainya dengan Regan. Velicia mengangguk menuruti kakak iparnya.


Lalu terjadilah obrolan antar perempuan di kamar yang di tempati Velicia.


"Jadi kakak hanya dua hari disini?"


"Mm.. ya."


"Kau sudah diajak jalan-jalan belum oleh Rehan?"


"Jalan-jalan?"


"Ya.. jalan-jalan untuk membeli sesuatu, barang, tas, sepatu misalnya. Disini kan banyak merk brand ternama. Belum lagi kulineran nya juga enak enak, kau bisa mencoba makanan yang beda dengan di tanah air."


"Aah.. aku baru diajak Rehan melihat sungai dan ke sebuah kedai minuman." jawab Velicia polos.


"Ooh.. terdengar seperti kencan anak sekolahan." kata Belleza tersenyum geli.


"Kencan?" gumam Velicia dalam hati sambil menyungging senyum tipis kepada kakak iparnya.


🐾🐾


...^^^----------------^^^...


hola readers πŸ‘‹


Terimakasih sudah mampir ke karya saya. Buat kalian yang sempat lihat tulisan saya tinggalkan jejak kalian dengan kasih like, kalau suka tulisan saya favoritkan juga boleh, dikasih hadiah dan vote saya lebih berterimakasih πŸ˜πŸ’ž. Isi kolom komentar dengan kritik dan sarannya ya untuk perkembangan dan kemajuan author. Terimakasih πŸ˜˜πŸ’ž.

__ADS_1


enjoy the reading πŸ€— πŸ’


__ADS_2