GADIS UMPAN MILIK BOS

GADIS UMPAN MILIK BOS
BAB 68


__ADS_3

"Ini aku." ujar Rehan sambil melambaikan tangan saat Rendi bertanya dari dalam.


Tetangga yang baik hati itu membukakan pintu untuknya. "Ada apa?" tanya Rendi yang sudah terlihat rapi dan bergaya dandanannya.


"Kau mau keluar?" Rehan bukannya menjawab malah bertanya kembali sambil menaikkan sebelah alisnya.


"Aku habis dari luar. Ada apa? Mau merepotkan lagi?" Rendi seperti tau tentang tetangga depan rumahnya itu.


"Jangan begitu. Kau kan tetangga yang selalu siaga dan baik hati." senyum Rehan lalu merangkul pundak Rendi dan masuk kedalam apartemen Rendi tanpa basa-basi.


"Apa-apaan kau ini. Aku yang punya rumah ini." kata Rendi mengibaskan tangan Rehan dari pundaknya.


"Jangan begitu, aku hanya ingin main lagi dengan mu." ujar Rehan lalu duduk di depan TV berlayar besar dengan alat joystick di lantai yang beralas karpet. Dia lalu mulai memainkan permainan yang dipilihnya, sedang Rendi bejalan ke arah dapur untuk menyusun barang yang baru saja dia beli dari luar untuk mengisi persediaan di dalam kulkas.


"Kau mau minum?" tawar Rendi memegang kaleng kola dingin di depan kulkas.


Rehan menoleh sebentar, "emm" jawabnya setelah melihat minuman kaleng yang ia suka juga.


"Apa kau sedang bertengkar dengan kekasih mu?" tanya Rendi menyodorkan kaleng minuman.


"Apa maksudmu?" tanya Rehan masih fokus pada game yang ia mainkan.


"Kenapa kau ke sini? Kau kan bisa main game di rumah mu sendiri." kata Rendi.


"Kalau tidak sedang bertengkar dan menghindarinya, apalagi." tukas Rendi lalu meneguk minuman kola nya.


Rehan sedikit terpikirkan omongan Rendi, apakah dia harus bercerita kepada Rendi, pikirnya.

__ADS_1


"Tidak apa-apa kan laki-laki saling berbagi cerita?" tanyanya dalam hati.


"Aah.. ****! Mati." umpat nya saat di layar TV besar itu bertuliskan GAME OVER. Rehan lalu melempar joystick di tangannya. Rendi tersenyum menyunggingkan sebelah bibirnya.


"Mau cerita?" tanya Rendi. Rehan hanya menatap laki-laki yang seumuran dengannya itu datar.


"Apa kau punya kekasih?" tanya Rehan.


"Yaa.. aku punya banyak teman wanita, tapi aku tidak bisa menganggap salah satu diantaranya sebagai kekasih ku." jawab Rendi.


"Memang sudah berapa orang yang kau kencani?" tanya Rehan lagi lalu membuka minumannya.


"Aku tidak menghitungnya. Lagi pula kita kan hanya sekedar bertemu untuk makan, jalan dan nonton. Jadi aku tidak menganggap nya sebagai mengencani." ujar Rendi.


"Aku tidak ingin terikat dengan seseorang apalagi tentang wanita yang berujung akan menyulitkan." imbuhnya seperti dia yang sedang curhat.


"Bagaimana bisa kau kenal dengan banyak wanita sedang kerajaan mu kan hanya di rumah saja." tukas Rehan.


Rendi terdiam memegang kaleng minuman nya. "Haahh.. kata itu lagi." Rendi menghembuskan nafasnya kasar.


"Sebenarnya ayahku punya perusahaan, meski hanya kecil. Tapi dari sana hidup kita bisa berkecukupan bahkan lebih. Tapi aku tidak sukanya jika menjadi anak dari seorang pengusaha adalah harus ada kencan buta di tengah jadwal pertemuan yang padat. Aku lebih suka jadi freelance seperti sekarang. Dan jadwal ku bertemu dengan banyak wanita tidak ada yang mengatur." ujar Rendi menaikkan kedua alisnya sambil menatap Rehan.


Rehan tertawa renyah mendengar pernyataan Rendi. Ternyata bukan dia saja yang tak ingin menjadi penerus sebuah perusahaan.


"Lalu jika orang tua mu meminta mu menikah, mm.. atau misalkan diantara teman wanita mu ada yang mengajak menikah. Bagaimana reaksi mu?" tanya Rehan yang menganggap Rendi sudah berpengalaman dalam urusan wanita.


"Hmm.. mungkin aku akan langsung menikah saja." jawab Rendi.

__ADS_1


"Semudah itu?"


"Memangnya kenapa? Aku kan juga tidak ingin jadi perjaka tua."


"Bagaimana dengan perasaan mu? Misalnya bagaimana kau bisa menikah tanpa adanya cinta?"


Rendi terkekeh mendengar pertanyaan Rehan. "Cinta? Bullshit! Mana ada cinta jaman sekarang." Rendi menyandarkan tubuhnya ke sofa besar di depan TV.


"Yang ku tahu dari mulut orang tua para wanita itu, mereka bertanya apa pekerjaan ku, berapa gaji ku, apa prestasi ku, bahkan tak ada yang sungkan bertanya aset dan properti ku. Bukan bertanya cinta kah aku kepada anaknya." jelas Rendi.


"Waah.. kau sudah sampai pada tahap pengenalan orang tua?" tanya Rehan yang seolah takjub akan penjelasan Rendi.


"Bukan bodoh! Setiap aku jalan dengan salah satu dari wanita itu aku pernah di ajak ke rumahnya. Dan itu yang ku dapatkan dari berkunjung ke rumah mereka." tukas Rendi.


"Memangnya kau tidak pernah berkencan? Sampai hal seperti itu saja tidak tahu." ujar Rendi.


"Mm.. ehm.. bukan nya tidak pernah. Aku juga pernah dekat dengan seseorang tapi belum pernah sampai datang ke rumah orang tersebut." jawab Rehan dengan polosnya.


"Hmm.. pantas saja. Kau seperti anak rumahan." ujar Rendi.


Ya, karena memang Rehan adalah anak rumahan. Setiap dia dekat dengan seorang perempuan atau pergi jalan dengan perempuan itu maka gerakannya tak luput dari anak buah ayahnya yang mengikuti secara diam-diam. Saat kuliah bahkan sudah bekerja pun ayahnya selalu berpesan jika tidak ada niat serius untuk ke jenjang pernikahan tidak usah bermain ke rumah orang tua teman perempuannya.


🐾🐾


...^^^----------------^^^...


hola readers πŸ‘‹

__ADS_1


Terimakasih sudah mampir ke karya saya. Buat kalian yang sempat lihat tulisan saya tinggalkan jejak kalian dengan kasih like, kalau suka tulisan saya favoritkan juga boleh, dikasih hadiah dan vote saya lebih berterimakasih πŸ˜πŸ’ž. Isi kolom komentar dengan kritik dan sarannya ya untuk perkembangan dan kemajuan author. Terimakasih πŸ˜˜πŸ’ž.


enjoy the reading πŸ€— πŸ’


__ADS_2