GADIS UMPAN MILIK BOS

GADIS UMPAN MILIK BOS
BAB 14


__ADS_3

Keesokan harinya di kantor.


"Apa kencan mu menyenangkan asisten Coky? Hingga berangkat kerja sampai terlambat untuk menjemputku."Rain bertanya dengan ketus.


"Kencan apa yang tuan Rain maksud?" Coky bertanya dalam hati.


"Maaf Tuan atas keteledoran saya. Tidak akan terulang lagi lain kali."Coky membungkuk.


"Siapkan berkas untuk ini dan periksa yang itu!"Rain meletakkan tumpukan berkas dengan keras. Asisten Coky terkejut, dia merasa bersalah karena bangun kesiangan hingga tak bisa menjemput tuannya untuk pergi ke kantor.


Dia lalu melaksanakan tugas dari tuannya dan menuju ke ruangannya.


"Silvi suruh Sisi masuk."Rain menelpon sekertaris nya.


"Baik pak."Silvi menutup telepon.


"Asisten Sisi, pak Presdir meminta anda masuk ruangan."Silvi memberitahu Sisi.


"Baiklah. Terimakasih sekertaris Silvi."Sisi mengangguk.


"Ini profil target selanjutnya." Rain memberi Sisi amplop besar berisi berkas.


Sisi membuka dan membacanya. Arga Danu. Dia mempelajari bahwa targetnya tidak mudah karena tidak terlalu tertarik dengan godaan perempuan.


"Dia sedikit sulit. Jika dia tidak bisa dipancing kita langsung jaring saja."kata Rain dingin. Aura membunuh terlihat dari matanya. Sisi sudah terbiasa dengan tatapan itu. Tatapannya tak pernah sekalipun menunjukkan ekspresi.


"Baik kalau begitu. Apa ada yang lain bos?"tanya Sisi.

__ADS_1


Rain menatap Sisi sambil berfikir. "Temani aku malam ini."ucapnya.


RIME BAR


"tempat ini lagi."kata Sisi dalam hati. Dia berjalan di belakang Rain mengikutinya menuju meja bartender.


"Selamat datang Tuan, Nona. Pesanan anda?"seorang bartender menyapa.


"Seperti biasa."jawab Rain. "Beri dia yang ringan."imbuhnya. Sang bartender menyediakan pesanan mereka lalu seketika Rain mengeluarkan sebuah kartu berwarna hitam dengan lambang buku terbuka.


"Kata kunci?"tanya bartender.


"Roy."jawab Rain. Bartender terkejut lalu dia mengisyaratkan kepada Rain untuk mengikutinya. Dia berjalan lebih ke dalam menjauh melewati ruang VIP yang dulu pernah dipakai Rain bersama Indra dan Agung.


"Ini ruangannya."tunjuk bartender tadi. Rain lalu menggunakan kartunya untuk membuka pintu. Pintu terbuka, Rain dan Sisi masuk ke dalam sedang bartender yang mengantar tadi pergi lagi.


"Selamat datang kembali Tuan Rain. Ini yang anda minta."kata Roy sambil menyerahkan sebuah kotak. Rain membuka kotak berisi flash disk. Sisi teringat pada transaksi flashdisk dulu, dia mulai berjaga-jaga.


"Temani aku minum sebentar."Roy mengusap-usap gelas bir nya. Rain menerima tawaran Roy, dia menuangkan bir ke dalam gelas.


"Wanitamu cantik juga."kata Roy sambil memberi Sisi laptop untuk memeriksa isi dalam flashdisk tersebut.


"Ini Tuan."Sisi menunjukkan layar laptop pada Rain.


Rain terkejut dengan isi dalam flashdisk tersebut. Mulai dari bukti transaksi keluar masuk uang perusahaan saat dia koma lalu aliran dana dengan jumlah besar masuk ke rekening atas nama Candra Aditama. Hingga beberapa bukti sabotase perusahaan dan kecelakaan yang menyebabkan mobil yang ditumpangi keluarga Rain mengalami kecelakaan. Hati Rain panas melihat bukti-bukti yang ada di depan matanya. Dia menengguk sekali habis bir yang ada di gelasnya.


"Rendra yang tak ingin diajak kerjasama olehnya merasa terancam. Jadi dia memperketat penjagaan di dalam rumahnya."kata Roy.

__ADS_1


Sisi mulai mengerti semua sekarang karena setiap mengawasi kediaman Rendra dia tak pernah melihat pergerakan apapun. Justru malah Candra yang dengan terang-terangan menampakkan diri.


"Arga Danu adalah kepercayaannya. Sebagian dana masuk padanya."Roy mengambil laptop dan menunjukkan file tentang Arga Danu.


"Para penghianat itu!"kecam Rain dalam hati. Dia lalu mengisi gelas bir nya dan menenggak habis.


"Gunawan juga mencicipi sebagian dari Arga Danu."Roy kembali menunjukkan file tentang Gunawan.


"Aska Gunawan. Dia hanya cacing pita yang juga ingin menikmati apapun yang dihasilkan orangtuanya. Yang terpenting untuknya adalah uang. Dia bahkan menjual informasi orangtuanya kepada anda juga kan?" tunjuk Roy lagi. Rain sudah tidak tertarik karena orang-orang itu sudah tak ada.


"Indra Dirga dan Agung Rama hanya sebagai pendukung Candra jika nanti menjadi CEO perusahaan Aditama."Roy membuka file mereka. Rain mengepalkan tangannya.


"Rehan Armana bersih. Dia satu-satunya direktur yang mau mengulurkan dana saat pertama kali perusahaan Aditama kekurangan dana karena kecelakaan yang menimpa Presdir Andra Aditama dan istrinya Fariska Aditama. Meski nyonya Ratna Aditama ikut terlibat dalam kecelakaan tapi sampai sekarang hanya berita kematiannya saja yang tercatat."jelas Roy panjang lebar.


...***...


"Bawa barang ini dan simpan dengan baik."Roy melempar kotak kecil pada Sisi.


"Cepat bawa tuanmu pergi dari sini sepertinya dia sangat asik dengan minumannya."Roy tertawa menyeringai melihat Rain menggenggam botol bir miliknya.


Setelah perbincangan yang panjang dan lama membuat Rain tak bisa berhenti menengguk setiap bir yang ada di tangannya hingga membuat dia mabuk.


"Baiklah. Terimakasih Tuan Roy."Sisi menganguk lalu memapah Rain keluar ruangan menuju ke mobil.


Dalam perjalanan Sisi mendengar Rain meracau dan menggerutu tak jelas.


Sisi melihat smartwatch nya, "pukul 03:45. Jika pulang ke kediaman Aditama akan sampai pagi."gumam Sisi lalu melajukan mobilnya menuju ke apartemen tempat tinggalnya.

__ADS_1


🐾🐾


__ADS_2