GADIS UMPAN MILIK BOS

GADIS UMPAN MILIK BOS
BAB 8


__ADS_3

Tengah malam saat sedang tidur nyenyak suara smartwatch milik Sisi bergetar. "Ini kan bukan jadwal tugas"dalam hatinya. Dia melihat nomor baru lalu menjawabnya.


"Ke kamarku sekarang."Rain lalu mematikan sambungannya. Sisi yang setengah sadar dari tidurnya terkejut mendengar suara Rain yang dingin lalu dengan segera menuju kamar Rain.


"Tok tok tok. Ini saya Tuan."ketuk Sisi.


"Masuk."terdengar jawaban dari dalam. Sisi lalu membuka pintu dan masuk. Dilihatnya Rain sedang menggenggam gelas wine didekat meja nakas.


"Kemari. Kau tau dia kan?" tunjuk Rain pada berkas di atas meja.


"Buat dia terpancing dan bawa ke ruang koridor bawah tanah. Asisten Coky akan memberitahu mu jelasnya. Jangan ceroboh kali ini."kata Rain sambil menyingkap lengan baju tidur Sisi.


Sisi terkejut, lupa jika menemui tuannya tanpa seragam pelayan.


"Maaf Tuan. Lain kali saya akan ganti baju dulu."Sisi menganggukkan kepala.


Rain mengernyitkan dahi, padahal dia menyuruh agar Sisi tak terluka lagi. Dia tersenyum kecil mendengar perkataan pelayanannya. Tanpa sadar dia mengusap wajah Sisi "benar-benar menarik."


Sisi yang terkejut dengan perlakuan Bosnya lalu berkata "masih ada yang lain Tuan?"


Rain melepas tangannya "Tidak. Pergilah."


Sisi lalu membungkuk meninggalkan kamar. Dia sedikit bergidik ngeri membayangkan senyum kecil tuannya yang jarang tersenyum itu.

__ADS_1


Di ballroom malam pesta.


Gaun berwarna merah kental membalut tubuh Sisi memperlihatkan dadanya yang berisi dan pinggul yang ramping. Paras cantik meronanya terpancar setelah dirias. Dia memasuki ballroom menggandeng lengan Rain. Rain yang memakai setelan serba hitam dengan dasi merah panjang membuatnya terlihat elegan dan wibawa. Acara malam ini Rain menjadi tuan rumah dan juga bintangnya.


"Ting ting ting" Rain mendentingkan gelas wine memakai sendok.


"Selamat untuk kerjasama yang selama ini terbentuk dan terimakasih telah berkenan hadir. Jangan sungkan dan nikmati pestanya."katanya sambil mengangkat gelas wine.


Semua tamu bertepuk tangan dan saling bersulang. Mereka berbincang-bincang satu sama lain.


Musik dansa pun terdengar, beberapa tamu mulai menuju ke tengah ruangan untuk berdansa. Ada juga yang hanya diam berdiri dan duduk memperhatikan.


"Jika diijinkan bolehkah saya berdansa dengan Nona?"kata seorang pria yang penampilannya lumayan berumur kepada Sisi. Sisi melihat ke Rain.


"Oh maaf kalau saya sudah lancang pak Presdir. Saya kira dia hanya teman biasa Presdir."Nando tersenyum licik.


Rain mengangguk pada Sisi. "Mungkin tidak apa jika hanya satu lagu saja pak."kata Rain lagi.


Laki-laki tua itu tersenyum puas. Dituntunnya lengan Sisi menuju tengah ballroom dan mereka mulai berdansa.


"Ternyata benar kata Luna Sisi bagai magnet yang bisa menarik perhatian banyak orang."gumam Coky dalam hati.


Dia bersembunyi dibagian orang-orang yang sedang berkerumun.

__ADS_1


Tak lama banyak yang ikut turun ke lantai dansa untuk berdansa.


"Tuan Rain, jika tak keberatan untuk lagu selanjutnya bolehkah saya berdansa dengan patner Tuan?"kata Gunawan menyela pembicaraan Rain dengan tamu lain.


"Ikan terpancing."pikir Rain.


"Saya hanya ingin menghibur hati setelah kepergian istri saya."katanya merayu.


Rain mengangguk "silahkan bapak. Semoga kesedihan bapak lekas terobati."


Setelah selesai satu lagu Sisi yang tadinya ingin istirahat harus menerima uluran tangan lagi untuk berdansa. Dia tidak bisa menolak perintah Bosnya. Tak disangka Gunawan ternyata mahir dalam berdansa untuk musik klasik romantis.


Tangannya memegang pinggul Sisi dan tangan satunya saling berpegang tangan. Diputarnya tubuh Sisi dan didekap lagi dengan tangannya. Gerakan itu membuat sebagian para tamu bersorak sambil bertepuk tangan hingga mengundang perhatian Rain.


Dia menoleh melihat ke arah Sisi yang sedang berdansa, dengan Gunawan menatap lekat wajah Sisi.


"Patner Anda sangat mahir Tuan Rain."puji teman bicara Rain. Rain yang melihat muka Gunawan hampir tak ada jarak dengan Sisi merasa panas.


"Hentikan musiknya."perintah Rain. Mereka pun berhenti berdansa setelah musik berhenti.


"Jika ada waktu tolong luangkan untuk saya Nona."bisik Gunawan sebelum berpisah sambil mengurai senyum. Sisi hanya mengangguk sambil mengerjapkan mata lalu kembali menghampiri Rain.


"Kau pandai merayu juga ya rupanya."kata Rain dengan muka menahan kesal. Sisi hanya tersenyum dengan memasang muka tak mengerti.

__ADS_1


🐾🐾


__ADS_2